1. Pendahuluan
Produk pertanian merupakan produk yang tidak tahan lama, sehingga setelah proses pemanenan selesai, produk pertanian harus segera dijual agar tidak busuk, apalagi tanpa dilakukan penanganan pasca panen dengan baik
Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain. Sedangkan proses pengeringan yang sesuai dengan standara mutu nasional ataupun ekspor sangat jarang dilakukan kalau tak ingin dikatakan tak pernah sama sekali. Apalagi untuk proses penanganan lebih lanjut dengan membuat produk-produk baru dari hasil pertanian, seperti pembuatan jus mangga, jus jeruk, dan lain-lain.
Keadaan yang seperti ini menyebabkan produk-produk pertanian yang seharusnya bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi atau bisa disimpan lama untuk menanti celah harga pasar meningkat lebih tinggi dari harga sekarang justru harus direlakan untuk dijual dengan harga rendah. Hal ini terjadi karena kecenderungan harga produk pertanian menurun drastis pada saat panen, terutama pada saat panen serentak.
Berdasarkan hal tersebut, disini penulis mencoba memaparkan tema pananganan pasca panen dengan judul “Memperbaiki Kualitas Cabe Kering.” Yang dimaksud dengan cabe kering ialah buah cabe tua dan masak yang utuh dari tanaman cabe merah (Capsicum Annum L Var Longum L) yang dikeringkan dan dibuang tangkainya.
2. Materi
Usaha agribisnis cabe sangat menguntungkan karena tingkat pengembalian modal yang cepat. Namun sebenarnya, dibalik semua itu akan menampilkan resiko yang sangat tinggi. Resiko yang paling rawan dihadapi petani adalah serangan hama penyakit dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Semua resiko tersebut dapat diminimalkan jika kita banyak belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun orang lain.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut adalah mengetahui peta pasar, membaca musim, mengetahui berbagai hama dan penyakit, menguasai teknik budidaya, memperkirakan harga musiman, menentukan jadwal panen, memakai benih yang sesuai dengan karakteristik lahan, permintaan pasar dan penanganan pasca panen.
Penanganan pasca panen cabe hampir dikatakan belum sepenuhnya dilaksanakan para petani karena terbatasnya pengetahuan dan fasilitas. Selain itu, kejelasan spesifikasi produk yang diinginkan konsumen tidak diketahui secara jelas oleh petani. Spesifikasi produk hanya diketahui oleh pedagang pengumpul. Keadaan ini menyebabkan daya tawar petani lebih rendah daripada daya tawar pedagang pengumpul.
Kerusakan buah cabe secara mekanis, fisiologis dan fisik lebih sering disebabkan oleh pengelola yang kurang cermat dan hati-hati dalam penanganan pasca panen. Kerusakan mekanis paling dominan terjadi pada saat pemetikan, pengangkutan, penanganan saat bongkar muat serta tidak adanya packaging atau wadah yang baik dalam pengangkutan.
Cabe kering yang dijual di pasaran atau bahkan yang di ekspor ke luar negeri pada umumnya dikumpulkan dari hasil pengeringan yang dilakukan oleh para petani dan para pengumpul khusus yang dilakukan di sentra produksi cabe. Para pedagang pengumpul ini membeli cabe basah pada petani dan melakukan proses pengeringan sendiri. Pengeringan pada umumnya dilakukan dengan mempergunakan panas sinar matahari tanpa mengalami perlakuan khusus dan memakan waktu selama 7 – 10 hari.
Cabe segar setelah diangkut ke tempat pengumpulan, langsung dihamparkan di atas tanah yang diberi alas tikar atau kepang atau di atas tempat penjemuran khsusus berupa lantai. Pekerjaan sortasi sebelum penjemuran jarang dilakukan dan biasanya dikerjakan setelah cabe kering.
Cabe kering yang berasal dari buah cabe yang kurang sempurna tingkat kematangannnya (masih kehijau-hijauan) akan menghasilkan cabe kering berwarna keputih-putihan. Sedangkan pada bagian buah yang kedapatan busuk akan menghasilkan warna kehitam-hitaman.
Sebelum cabe kering dijual atau bahkan di ekspor hendaknya dilakukan suatu kegiatan “Reprocessing” terhadap cabe kering yang keadaannya masih kurang memenuhi syarat tingkat kekeringannya dengan jalan dijemur dan selain itu perlu diadakan pemilihan ulang yang dititik beratkan kepada kualitasnyta dengan memisahkan cabe kering yang mempunyai kelainan atau cacat dan kotoran-kotoran yang terdapat di padanya.
Care yang dikeringkan tanpa suatu perlakuan khusus sebelumnya akan mengalami perubahan warna setelah disimpan selama 3 bulan di dalam suhu kamar biasa. Warna cabe kering yang kemerah-merahan dapat dipertahankan lebih lama lagi dengan j alan mencelup cabe segar sebelum dijemur ke dalam air mendidih yang mengandung Kalium Metabisulfit 0,2 % selama 6 menit yang kemudian disusul dengan pencelupan ke dalam air dingan sebelum cabe dikeringkan.
Dengan menggunakan alat pengering pada suhu 60˚ C cabe dapat dikeringkan dan waktu 12 – 20 jam. Kebaikan dari pemakaian alat pengering antara lain waktu pengeringan dipersingkat, lebih hygienis atau bersih dan kadar air yang dikandung dalam cabe kering dapat ditekan seminim mungkin (10%).
Penyimpanan cabe kering sebaiknya dilakukan di dalam kantong atau karung plastik yang tertutup rapat dan kemudian menyimpannya di dalam suatu ruangan atau tempat yang keadaannya kering atau yang kelembaban udaranya rendah (70%). Proses fisiologi tetap dipertahankan tetapi lajunya harus dikurangi, dengan menekan tingkat respirasi, yaitu mengatur temperatur dan kelembaban udara di sekelilingnnya dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sistem udaranya terkendali.
Pengemasan juga perlu dilakukan yang bertujuan untuk melindungi mutu produk cabe dari kerusakan mekanis, fisik dan fisiologis pda saat handling, pengangkutan dan bongkar muat. Kemasah yang ideal harus kuat, memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah di-handle, aman dan ekonomis. Wadah kemasan dapat dibuat secara tradisional berupa keranjang bambu atau rotan, karung plastik, kotak kayu, kotak bahan plastik, karung plastik polietilen dan kardus berpentilasi.
Dengan demikian, setelah kualitas cabe kering yang dihasilkan petani lebih bagus, diharapkan mampu mendongkrak harga pasar sehingga pendapatan petani meningkat yang pada gilirannya kesejahteraan petani akan tercapai. Kualitas cabe kering yang bagus dan mempunyai standar mutu ekspor selain mampu menambah in come petani itu sendiri juga bisa mengurangi angka pengangguran, karena perlakuan atau proses pengeringan cabe yang kontinyu akan menerlukan tenaga kerja lebih, selain tenaga kerja dalam proses budidaya tentunya.
3. Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan
Penanganan pasca panen yang baik akan menghasilkan kualitas produk pertanian yang berkualitas baik dan mempunyai daya simpan yang lama. Sehingga animo yang selama ini bahwa produk pertanian adalah produk yang tidak tahan lama sehingga para petani buru-buru menjual hasil pertanian meski dengan harga yang rendah tidak lagi terjadi.
Harga cabe yang terus berfluktuasi akan bisa diatasi dengan telah dilakukan proses penanganan pasca panen. Sehingga kesehteraan petani dan keluarga tani akan tercapai. Angka pengangguran juga dapat dikurangi dengan bertambahnya tenga kerja pada proses penanganan pra panen dan pada saat proses penanganan pasca panen.
b. Saran
Penulis mengharapkan adanya campur tangan Pemerintah Daerah dan pihak swasta dalam memberdayakan petani, terutama dengan lebih banyak memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada petani tentang pentingnya penanganan pasca panen. Selain itu penulis juga mengharapkan peran aktif teman-teman mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran petani dalam mengelola produk-produk pertanian menjadi produk yang tahan lama dan mempunyai harga jual yang lebih tinggi.
Monday, July 12, 2010
BUDIDAYA TANAMAN MANGGA Mangifera Indica L
I. Pendahuluan
Mangga merupakan tanaman yang mudah ditanam dan tanpa memerlukan perlakuan khusus yang rumit. Tanaman ini bisa ditanam di pekarangan rumah atau di kebun. Kalau setiap rumah di Indonesia bisa menanam satu pohon mangga, akan ada jutaan pohon mangga di seluruh Indonesia. Adanya tanaman mangga akan mengurangi pengotoran udara, menambah suasana sejuk di rumah pada musim kemarau dan mengurangi banjir pada musim hujan. Selain itu juga bisa melengkapi gizi keluarga dan menambah penghasilan rumah tangga.
Dengan mengkonsumsi mangga anak-anak dan semua anggota keluarga akan cukup mendapat provitamin A dan vitamin C. Provitamin A bisa diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh dan vitamin ini penting sekali untuk menjaga kesehatan mata. Sedangkan vitamin C perlu untuk mencegah sariawan.
Selain provitamin A dan vitamin C, mangga juga mengandung vitamin lain, mineral, karbohidrat dan zat-zat lain yang diperlukan untuk kesehatan dan pertumbuhan badan.
Berdasarkan hal di atas, penulis sengaja mengambil judul Budidaya Tanaman Mangga dalam penulisan tugas mata kuliah Penanganan Pasca Panen yang diberikan oleh dosen Universitas Abulyatama Aceh kelas Paralel Blangpidie.
II. Membuat Perkebunan Mangga
Mangga (Mangifera Indica L) bukan tanaman asli dari Indonesia, walaupun demikian masyarakat sudah menganggap mangga sebagai salah satu tanaman buah-buahan asli Indonesia. Di Indonesia tanaman mangga tumbuh baik di daerah dataran rendah yang berhawa panas, tapi juga masih bisa ditanam sampai dataran tinggi yang berhawa sedang.
Mangga yang berkembang di Indonesia diduga berasal dari India yang kemudian menyebar ke Semenanjung Malaysia, Indonesia dan sekitarnya. Mangga yang biasa dimakan sehari-hari seperti mangga golek, mangga manalagi, mangga arumanis, mangga sengir, secara taksonomi termasuk spesies Mangirea Indica L, genus/marga Mangifera, famili Anacardiaceae, ordo sapindales.
Mangga tumbuh berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak dan bertajuk rindang dan hijau sepanjang tahun. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10 – 40 meter. Umur pohon bisa mencapai 100 tahun lebih. Marfologi tanaman mangga terdiri atas akar, batang, daun dan bunga. Bunga menghasilkan buah dan biji (pelok), yang secara generatif dapat tumbuh menjadi tanaman baru.
Buah mangga termasuk kelompok buah batu berdaging. Panjang buah berkisar antara 2,5 – 30 cm. Bentuknya ada yang bulat, bulat telur, bulat memanjang dan ada yang pipih. Warna buah bermacam-macam, tergantung varietasnya, variasinya ada yang hijau, kuning, merah atau campuran masing-masing warna tersebut.
Tanaman mangga monoembrional yang mempunyai biji yang mengandung hanya satu embrio. Kalau biji tumbuh menjadi tanaman baru akan menghasilkan hanya satu tanaman.
Jenis dan varietas mangga budidaya berasal dari alam dan buatan. Dari varietas itu ada tanaman yang dikembangkan secara generatif dan ada yang vegetatif. Di Indonesia ada beberapa jenis dan varietas mangga komersial yang sudah terkenal bagus mutunya. Antara lain, Golek, Arumanis, Manalagi, Endog, Madu, Lalijiwo, Keweni, Pakel dan Kemang.
Dalam berkebun mangga, sebelum mulai sebaiknya mempelajari dulu soal teori berkebun mangga dan perihal teori lain yang berhubungan dengan mangga. Misalnya pemilihan lokasi untuk kebun, sebaiknya dekat tempat pemasaran dan tidak jauh dari jalan raya agar pengangkutan tidak repot. Ketinggian lokasi kebun dan iklim juga harus cocok untuk pertumbuhan mangga.
Tanaman mangga masih dapat hidup dengan sehat pada temperatur 4˚ - 10˚ C. namun kondisi itu bukan temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi. Temperatur pertumbuhan optimum untuk mangga berkisar antara 24˚ - 27˚ C. Pada kondisi ini pertumbuhan mangga sangat baik dan produktifitasnya tinggi.
Banyak sedikitnya curah hujan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan terbentuknya bunga atau buah. Mangga membutuhkan curah hujan minimal 1000 mm, dan musim kering 4 – 6 bulan pertahun. Setiap bulan rata-rata hujan tidak lebih dari 60 mm. Di daerah tropis mangga dapat tumbuh sampai daerah pegunungan setinggi 1.300 meter diatas permukaan laut, namun pertumbuhan dan produksinya jelek. Hasil terbaik mangga ditanam di dataran rendah sampai pada ketinggian 500 meter diatas permukaan laut.
Mangga akan tumbuh dengan baik di lokasi yang lahannya bertanah ringan seperti tanah lempung berpasir sampai tanah berat atau tanah seperti lempung. Sebaiknya lahan tanam jangan di lokasi yang terlalu miring dan cekung.
1. Mengatur Tanaman
Pohon mangga sebaiknya ditanam menurut jarak tertentu, bisa juga diatur penanamannya sehingga terlihat rapi dan indah. Pengaturan tanamnya dapat dengan cara bujur sangkar, diagonal atau kwinkunks (Quincunx), segitiga sama sisi atu heksagonal, dan cara garis tinggi (kontur).
2. Jarak Tanam
Jarak tanam untuk tanaman mangga tergantung beberapa faktor. Diantaranya jenis tanah berat atau ringan, dan tanah subur atau tandus. Juga jenis tanaman mangga ada yang tinggi besar dan ada yang pendek kecil.
Di lahan tandus mangga dapat ditanam dengan jarak dekat. Di tempat itu lapisan tanah subur terlalu tipis, perakaran tidak banyak dan tidak bisa menyebar sehingga tanaman tumbuh kerdil.
Tanam dari semai biji pada umumnya bersosok lebih besar dari okulasi atau cangkok. Oleh karena itu jaraknya lebih lebar. Jarak tanam mangga yang baik pada umumnya 12 – 14 meter, sehingga setelah tumbuh besar pohon mangga tidak saling berdempetan.
Setelah jarak tanam ditentukan dan dipasang ajir, maka dibuat lubang tanam berukuran 100 cm x 100 cm. Lubang itu diisi dengan tanah yang subur supaya di kemudian hari tanaman mangga bisa tumbuh sehat dan subur.
3. Penanaman Bibit
Penanaman bibit mangga sebaiknya dilakukan pada waktu musim hujan, sehingga tak perlu menyiram, sedangkan udara tak begitu panas pada waktu siang hari. Keadaan ini akan mengurangi kematian tanaman yang baru ditanam. Walaupun ditanam di musim hujan sebaiknya menanam pada sore hari agar bibit tidak layu.
Dalam lobang tanam taburi dengan insektisida untuk mencegah gangguan rayap atau semut. Misalnya insektisida butiran seperti Furadan 3G, Curatter 3G, Basamid G, atau Rhocap 10G. Dengan dosis 10 – 25 gram per lubang tanam/pohon.
4. Perawatan Tanaman
Untuk pohon mangga produktif membutuhkan perawatan yang kontinyu, diantaranya :
- Penyiraman
- Pencegahan penyakit dan benalu
- Pemberantasan hama
- Pemangkasan bunga, ranting dan cabang
- Penyiangan dan penggemburan
- Pemangkasan
- Pemupukan
- Pupuk hijau dan tanaman penutup tanah
5. Hama dan Penyakit
Hama pada tanaman mangga bermacam-macam jenis dan bentuknya. Ada yang menyerang daun, batang, kulit, bunga, buah dan akar. Ada jenis yang tergolong serangga, tungau, tikus, kalong dan burung. Masing-masing jenis hama membutuhkan cara pengendalian yang khas.
Sekitar 75 % dari binatang yang hidup di bumi tergolong serangga. Yang tergolong serangga hama mangga adalah lalat buah, lalat bisul daun mangga, bubuk buah mangga, penggerek batang, wereng mangga, kutu putih besar, kutu sisik, kutu bisul pucuk, ngengat perisai hitam, penggerek pucuk, kupu-kupu penusuk buah, semut rangrang dan tungau.
Penanggulangan hama tanaman mangga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun, membuat pengasapan, penyemprotan dengan insektisida seperti Ripcord 5 EC, Cymbush 50 EC atau Decis 2,5 EC, bisa juga dengan menggunakan insektisida nabati seperti tepung tembakau, minimal mengandung 1% nikotin. Selain itu juga bisa diatasi dengan memotong cabang atau dahan yang terserang hama.
Penyakit pada mangga biasanya disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Serangannya mengakibatkan busuk buah. Tiga penyakit penting buah mangga sebaul panen adalah antraknosa (anthracnose), bercak hitam dan kudis. Penyakit setelah panen adalah busuk buah karena cendawan. Pengendaliannya dengan pestisida yang sebelumnya dilakukan pertimbangan yang matang.
Buah mangga setelah panen masih ada kemungkinan terserang penyakit, terutama karena busuk oleh cendawan atau bakteri. Mangga yang busuk berkerut hitam disebabkan oleh cendawan Phomopsis sp, busuk kering yang keras dan hitam disebabkan oleh cendawan Dothiorella mangiferae Cheerna dan Dani, busuk pangkal buah oleh cendawan Colletotrichum gloeosporiodes, busuk lunak oleh cendawan Botrydiplodia theobromae Pat. Dan lain-lain.
Untuk mengantisifasi agar buah tidak busuk dan terserang cendawan, sebaiknya dilakukan cara sebagai berikut :
- Buah di panen dengan hati-hati, jangan sampai luka atau memar.
- Infeksi cendawan pembusuk bersifat laten, untuk mengendalikannya sejak buah mangga masih muda perlu dilindungi dengan penyemprotan fungisida.
- Sebelum di taruh di tempat penyimpanan, buah mangga perlu didesinfeksi.
- Mangga dapat awet disimpan di tempat bersuhu rendah 7 - 10˚ C. hanya saja cara ini bisa membuat mangga luka, terutama buah yang berkulit tipis. Lukanya berupa bercak (lingkaran kecil) cokelat. Kalau disimpan pada suhu 1˚ C, warnanya akan berubah dari hijau menjadi suram. Setelah buah dikeluarkan dari ruang dingin, buah akan cepat busuk.
6. Panen
Mangga okulasi dan sambungan sudah bisa menghasilkan buah pada tahun keempat setelah bibit ditanam. Hasil panen pertama sekitar 10 – 13 buah per pohon. Hasil itu akan terus meningkat dengan bertambahnya umur tanaman, kalau disertai perawatan insentif, terutama pemupukan.
Ketika pohon berumur 6 tahun, hasilnya bisa menjadi 50 – 75 per pohon. Umur 10 tahun bisa 300 – 500 buah, umur 10 – 15 tahun bisa menghasilkan 1000 buah dan umur 15 – 20 tahun bisa mencapai 2000 – 5000 buah per pohon.
Mangga dipanen ketika di pohon sudah terlihat satu atau dua buah yang masak. Sebaiknya mangga di panen ketika buahnya masih keras, tapi usianya sudah tua. Selektif satu persatu karena bunga pada setiap cabang tidak bersamaan keluarnya walau masih dalam satu pohon.
Mangga merupakan tanaman yang mudah ditanam dan tanpa memerlukan perlakuan khusus yang rumit. Tanaman ini bisa ditanam di pekarangan rumah atau di kebun. Kalau setiap rumah di Indonesia bisa menanam satu pohon mangga, akan ada jutaan pohon mangga di seluruh Indonesia. Adanya tanaman mangga akan mengurangi pengotoran udara, menambah suasana sejuk di rumah pada musim kemarau dan mengurangi banjir pada musim hujan. Selain itu juga bisa melengkapi gizi keluarga dan menambah penghasilan rumah tangga.
Dengan mengkonsumsi mangga anak-anak dan semua anggota keluarga akan cukup mendapat provitamin A dan vitamin C. Provitamin A bisa diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh dan vitamin ini penting sekali untuk menjaga kesehatan mata. Sedangkan vitamin C perlu untuk mencegah sariawan.
Selain provitamin A dan vitamin C, mangga juga mengandung vitamin lain, mineral, karbohidrat dan zat-zat lain yang diperlukan untuk kesehatan dan pertumbuhan badan.
Berdasarkan hal di atas, penulis sengaja mengambil judul Budidaya Tanaman Mangga dalam penulisan tugas mata kuliah Penanganan Pasca Panen yang diberikan oleh dosen Universitas Abulyatama Aceh kelas Paralel Blangpidie.
II. Membuat Perkebunan Mangga
Mangga (Mangifera Indica L) bukan tanaman asli dari Indonesia, walaupun demikian masyarakat sudah menganggap mangga sebagai salah satu tanaman buah-buahan asli Indonesia. Di Indonesia tanaman mangga tumbuh baik di daerah dataran rendah yang berhawa panas, tapi juga masih bisa ditanam sampai dataran tinggi yang berhawa sedang.
Mangga yang berkembang di Indonesia diduga berasal dari India yang kemudian menyebar ke Semenanjung Malaysia, Indonesia dan sekitarnya. Mangga yang biasa dimakan sehari-hari seperti mangga golek, mangga manalagi, mangga arumanis, mangga sengir, secara taksonomi termasuk spesies Mangirea Indica L, genus/marga Mangifera, famili Anacardiaceae, ordo sapindales.
Mangga tumbuh berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak dan bertajuk rindang dan hijau sepanjang tahun. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10 – 40 meter. Umur pohon bisa mencapai 100 tahun lebih. Marfologi tanaman mangga terdiri atas akar, batang, daun dan bunga. Bunga menghasilkan buah dan biji (pelok), yang secara generatif dapat tumbuh menjadi tanaman baru.
Buah mangga termasuk kelompok buah batu berdaging. Panjang buah berkisar antara 2,5 – 30 cm. Bentuknya ada yang bulat, bulat telur, bulat memanjang dan ada yang pipih. Warna buah bermacam-macam, tergantung varietasnya, variasinya ada yang hijau, kuning, merah atau campuran masing-masing warna tersebut.
Tanaman mangga monoembrional yang mempunyai biji yang mengandung hanya satu embrio. Kalau biji tumbuh menjadi tanaman baru akan menghasilkan hanya satu tanaman.
Jenis dan varietas mangga budidaya berasal dari alam dan buatan. Dari varietas itu ada tanaman yang dikembangkan secara generatif dan ada yang vegetatif. Di Indonesia ada beberapa jenis dan varietas mangga komersial yang sudah terkenal bagus mutunya. Antara lain, Golek, Arumanis, Manalagi, Endog, Madu, Lalijiwo, Keweni, Pakel dan Kemang.
Dalam berkebun mangga, sebelum mulai sebaiknya mempelajari dulu soal teori berkebun mangga dan perihal teori lain yang berhubungan dengan mangga. Misalnya pemilihan lokasi untuk kebun, sebaiknya dekat tempat pemasaran dan tidak jauh dari jalan raya agar pengangkutan tidak repot. Ketinggian lokasi kebun dan iklim juga harus cocok untuk pertumbuhan mangga.
Tanaman mangga masih dapat hidup dengan sehat pada temperatur 4˚ - 10˚ C. namun kondisi itu bukan temperatur yang baik untuk pertumbuhan dan produksi. Temperatur pertumbuhan optimum untuk mangga berkisar antara 24˚ - 27˚ C. Pada kondisi ini pertumbuhan mangga sangat baik dan produktifitasnya tinggi.
Banyak sedikitnya curah hujan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan terbentuknya bunga atau buah. Mangga membutuhkan curah hujan minimal 1000 mm, dan musim kering 4 – 6 bulan pertahun. Setiap bulan rata-rata hujan tidak lebih dari 60 mm. Di daerah tropis mangga dapat tumbuh sampai daerah pegunungan setinggi 1.300 meter diatas permukaan laut, namun pertumbuhan dan produksinya jelek. Hasil terbaik mangga ditanam di dataran rendah sampai pada ketinggian 500 meter diatas permukaan laut.
Mangga akan tumbuh dengan baik di lokasi yang lahannya bertanah ringan seperti tanah lempung berpasir sampai tanah berat atau tanah seperti lempung. Sebaiknya lahan tanam jangan di lokasi yang terlalu miring dan cekung.
1. Mengatur Tanaman
Pohon mangga sebaiknya ditanam menurut jarak tertentu, bisa juga diatur penanamannya sehingga terlihat rapi dan indah. Pengaturan tanamnya dapat dengan cara bujur sangkar, diagonal atau kwinkunks (Quincunx), segitiga sama sisi atu heksagonal, dan cara garis tinggi (kontur).
2. Jarak Tanam
Jarak tanam untuk tanaman mangga tergantung beberapa faktor. Diantaranya jenis tanah berat atau ringan, dan tanah subur atau tandus. Juga jenis tanaman mangga ada yang tinggi besar dan ada yang pendek kecil.
Di lahan tandus mangga dapat ditanam dengan jarak dekat. Di tempat itu lapisan tanah subur terlalu tipis, perakaran tidak banyak dan tidak bisa menyebar sehingga tanaman tumbuh kerdil.
Tanam dari semai biji pada umumnya bersosok lebih besar dari okulasi atau cangkok. Oleh karena itu jaraknya lebih lebar. Jarak tanam mangga yang baik pada umumnya 12 – 14 meter, sehingga setelah tumbuh besar pohon mangga tidak saling berdempetan.
Setelah jarak tanam ditentukan dan dipasang ajir, maka dibuat lubang tanam berukuran 100 cm x 100 cm. Lubang itu diisi dengan tanah yang subur supaya di kemudian hari tanaman mangga bisa tumbuh sehat dan subur.
3. Penanaman Bibit
Penanaman bibit mangga sebaiknya dilakukan pada waktu musim hujan, sehingga tak perlu menyiram, sedangkan udara tak begitu panas pada waktu siang hari. Keadaan ini akan mengurangi kematian tanaman yang baru ditanam. Walaupun ditanam di musim hujan sebaiknya menanam pada sore hari agar bibit tidak layu.
Dalam lobang tanam taburi dengan insektisida untuk mencegah gangguan rayap atau semut. Misalnya insektisida butiran seperti Furadan 3G, Curatter 3G, Basamid G, atau Rhocap 10G. Dengan dosis 10 – 25 gram per lubang tanam/pohon.
4. Perawatan Tanaman
Untuk pohon mangga produktif membutuhkan perawatan yang kontinyu, diantaranya :
- Penyiraman
- Pencegahan penyakit dan benalu
- Pemberantasan hama
- Pemangkasan bunga, ranting dan cabang
- Penyiangan dan penggemburan
- Pemangkasan
- Pemupukan
- Pupuk hijau dan tanaman penutup tanah
5. Hama dan Penyakit
Hama pada tanaman mangga bermacam-macam jenis dan bentuknya. Ada yang menyerang daun, batang, kulit, bunga, buah dan akar. Ada jenis yang tergolong serangga, tungau, tikus, kalong dan burung. Masing-masing jenis hama membutuhkan cara pengendalian yang khas.
Sekitar 75 % dari binatang yang hidup di bumi tergolong serangga. Yang tergolong serangga hama mangga adalah lalat buah, lalat bisul daun mangga, bubuk buah mangga, penggerek batang, wereng mangga, kutu putih besar, kutu sisik, kutu bisul pucuk, ngengat perisai hitam, penggerek pucuk, kupu-kupu penusuk buah, semut rangrang dan tungau.
Penanggulangan hama tanaman mangga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun, membuat pengasapan, penyemprotan dengan insektisida seperti Ripcord 5 EC, Cymbush 50 EC atau Decis 2,5 EC, bisa juga dengan menggunakan insektisida nabati seperti tepung tembakau, minimal mengandung 1% nikotin. Selain itu juga bisa diatasi dengan memotong cabang atau dahan yang terserang hama.
Penyakit pada mangga biasanya disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Serangannya mengakibatkan busuk buah. Tiga penyakit penting buah mangga sebaul panen adalah antraknosa (anthracnose), bercak hitam dan kudis. Penyakit setelah panen adalah busuk buah karena cendawan. Pengendaliannya dengan pestisida yang sebelumnya dilakukan pertimbangan yang matang.
Buah mangga setelah panen masih ada kemungkinan terserang penyakit, terutama karena busuk oleh cendawan atau bakteri. Mangga yang busuk berkerut hitam disebabkan oleh cendawan Phomopsis sp, busuk kering yang keras dan hitam disebabkan oleh cendawan Dothiorella mangiferae Cheerna dan Dani, busuk pangkal buah oleh cendawan Colletotrichum gloeosporiodes, busuk lunak oleh cendawan Botrydiplodia theobromae Pat. Dan lain-lain.
Untuk mengantisifasi agar buah tidak busuk dan terserang cendawan, sebaiknya dilakukan cara sebagai berikut :
- Buah di panen dengan hati-hati, jangan sampai luka atau memar.
- Infeksi cendawan pembusuk bersifat laten, untuk mengendalikannya sejak buah mangga masih muda perlu dilindungi dengan penyemprotan fungisida.
- Sebelum di taruh di tempat penyimpanan, buah mangga perlu didesinfeksi.
- Mangga dapat awet disimpan di tempat bersuhu rendah 7 - 10˚ C. hanya saja cara ini bisa membuat mangga luka, terutama buah yang berkulit tipis. Lukanya berupa bercak (lingkaran kecil) cokelat. Kalau disimpan pada suhu 1˚ C, warnanya akan berubah dari hijau menjadi suram. Setelah buah dikeluarkan dari ruang dingin, buah akan cepat busuk.
6. Panen
Mangga okulasi dan sambungan sudah bisa menghasilkan buah pada tahun keempat setelah bibit ditanam. Hasil panen pertama sekitar 10 – 13 buah per pohon. Hasil itu akan terus meningkat dengan bertambahnya umur tanaman, kalau disertai perawatan insentif, terutama pemupukan.
Ketika pohon berumur 6 tahun, hasilnya bisa menjadi 50 – 75 per pohon. Umur 10 tahun bisa 300 – 500 buah, umur 10 – 15 tahun bisa menghasilkan 1000 buah dan umur 15 – 20 tahun bisa mencapai 2000 – 5000 buah per pohon.
Mangga dipanen ketika di pohon sudah terlihat satu atau dua buah yang masak. Sebaiknya mangga di panen ketika buahnya masih keras, tapi usianya sudah tua. Selektif satu persatu karena bunga pada setiap cabang tidak bersamaan keluarnya walau masih dalam satu pohon.
BUDIDAYA DURIAN Durio zibethinus Murr
I. Pendahuluan
Indonesia, sebagai negara agraris yang terletak di daerah tropis, merupakan negara yang kaya akan buah-buahan. Salah satu buah tropis yang mempunyai nilai jual sangat tinggi adalah durian (Durio zibethinus Murr) sehingga sempat mendapat julukan King of the Fruit. Buah durian yang banyak mengandung protein dan gizi sangat tinggi, di Indonesia, banyak dimanfaatkan sebagai buah segar, walaupun tidak sedikit yang mengolahnya menjadi berbagai makanan, seperti tempoyak, lempok, es krim dan keripik biji durian.
Penanaman dan pengelolaan kebun durian di Indonesia saat ini belumlah maksimal dan masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Thailan dan Malaysia. Suplai buah durian di Indonesia saat ini masih banyak mengandalkan tanaman liar, baik milik rakyat maupun tanaman hutan. Ini berbeda dengan di negara Thailan dan Malaysia yang sudah banyak mengebunkan durian secara intensif sehingga banyak menghasilkan durian dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan bisa diekspor.
Penyusunan makalah ini sengaja penulis pilih judul “Budidaya Durian”, untuk membagi ilmu penanaman durian secara intensif seperti yang dilakukan oleh para petani di Thailan dan Malaysia yang sudah mulai diadopsi ilmunya oleh para petani di Indonesia.
II. Menanam Durian
Berkebun durian komersial secara intensif, selain memerlukan modal, pengetahuan teknologi dan lokasi lahan yang cocok, juga memerlukan informasi tentang permintaan pasar dan keinginan pasar.
Modal memegang peranan yang paling penting. Pengetahuan teknologi memegang peranan dalam aspek budidaya. Pengetahuan yang dibutuhkan meliputi pemilihan varietas, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan cara mengatur pembuahan di luar musim untuk menghindari oversupply dan mendapat harga yang bagus.
Pengetahuan tentang pasar juga merupakan faktor penting. Dalam memproduksi durian, pasar yang akan dituju harus ditentukan dengan jelas. Apakah untuk pasar lokal atau ekspor. Selain menyangkut kualitas, perbedaan juga menyangkut cara penanganan pasca panen, seperti kematangan buah, keseragaman dan packaging-nya.
Tanaman durian akan tumbuh secara optimal di daerah tropis. Untuk bertanam durian secara intensif dibutuhkan tempat dengan ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Ketinggian tempat akan berpengaruh terhadap waktu pembungaan dan kematangan buah. Tempat yang ideal adalah yang memiliki intensitas cahaya matahari sekitar 40 – 50 % dengan suhu 22 - 30˚ C. Curah hujan yang ideal adalah 1.500 – 2.500 mm pertahun. Tempat itu juga sebaiknya memiliki bulah basah selama 9 – 11 bulan pertahun dan bulan kering selama 3 – 4 bulan untuk meransang pertumbuhan bunga.
Tanah yang cocok adalah tanah lempung berpasir yang subur dan memiliki banyak kandungan bahan organik. Jenis tanah latosol, podsolik merah kuning, atau andosol merupakan jenis tanah yang paling cocok untuk tanaman durian. Tanah yang berstektur berat seperti tanah liat, kurang bagus untuk tanaman durian karena pengeringannya sangat sulit terutama pada musim hujan.
Topografi yang baik adalah yang agak miring, tetapi tidak melebihi 35˚. Untuk lahan yang miring, kita perlu membuat terasering untuk mencegah erosi. Karena akarnya mampu menembus kedalaman sampai tiga meter, lokasi yang dipilih idealnya adalah yang memiliki kedalaman air tanah sekitar 50 – 300 cm.
Jenis dan varietas durian yang ada di Indonesia saat ini adalah : Kani, Sunan, Sukun, Petruk, Sitokong, Mas, Otong, Sihijau, Sijajang, Sidodol, Bokor, Siriwig, Perwira dan Petaling Namlung. Selain varietas tersebut, ada beberapa varietas durian dari negara tetangga yang bersifat unggul yang sudah ditanam oleh petani di Indonesia, diantaranya : Monthong, Chanee, Kan Yao dan Kradhum Thong, yang kesemua itu berasal dari Thailand.
a. Memilih Bibit
Pemilihan bibit merupakan faktor yang sangat penting dalam berkebun durian. Untuk lebih memastikan jenis dan varietas bibit yang akan ditanam, carilah bibit di petani atau pedagang yang sudah mempunyai kredibilitas dan benar-benar mempunyai pohon induk sendiri serta sudah mendapatkan sertifikat dari Departemen Pertanian. Cara lain dengan membuat bibit sendiri menggunakan batang atas dari pohon induk yang benar-benar terjaga keaslian dan kualitasnya.
Bibit durian yang baik mempunyai ciri-ciri : Keadaan tanaman subur, segar, sehat, daunnya banyak, batangnya kokoh, bebas hama dan penyakit, mempunyai percabangan 2 – 4 arah dan menunjukkan perkembangan tunas baru. Ham dan penyakit dapat dilihat langsung di daun dan batang tanaman. Tanaman yang sehat menunjukkan tidak ada binatang, hama atau jamur yang menempel di tanaman. Bekas serangannya pun tidak ada.
b. Mempersiapkan Lahan
Mempersiapkan lahan terutama ditujukan untuk usaha penanaman durian dalam skala besar atau di kebun yang luas. Lahan dibersihkan dari tanaman keras yang dapat menghalangi sinar matahari. Selain agar tidak menghalangi sinar matahari langsung juga untuk menghindari persaingan dalam perebutan unsur hara.
Rumput dan alang-alang juga diberantas dengan menyemprotkan obat-obatan pembasmi atau dengan menanam rabuh hijau atau cover crop, seperti kacang-kacangan, yang dapat menghambat dan mematikan rumput dan alang-alang serta gulma lainnya. Selain itu, rabuk hijau juga dapat mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi penguapan air pada musim kemarau.
Lahan yang terlalu miring sebaiknya dibuat terasering, sedangkan lahan yang luas dan datar harus dibuat saluran-saluran pembuangan air untuk memudahkan pembuangan air saat musim hujan.
Pengaturan jarak tanam juga lebih ditujukan untuk penanaman durian dalam skala besar. Jarak tanam ini tergantung pada jenis, varietas, lokasi lahan dan jenis tanah. Jarak tanam ini paling ideal karena jika kurang dari jarak tersebut tanaman akan saling berebut unsur hara, penyebaran penyakit lebih mudah dan sinar matahari tidak efektif menembus tanaman karena terlalu rapat. Selain jarak tanam, pola penanaman juga perlu diatur supaya kebun kelihatan rapi dan teratur.
Untuk penanaman durian dalam skala yang luas di tempat terbuka, mutlak diperlukan tanaman pelindung untuk melindungi tanaman dari sinar matahari yang terik dan untuk memecah atau meminimalkan pengaruh angin.
Lubang tanam untuk penanaman durian dibuat dengan ukuran 50 cm². Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cangkul atau garpu. Sebagai campuran media gunakan pupuk kandang dari kotoran ayam, kambing/domba, sapi, kerbau atau kuda dengan jumlah kurang lebih 30 – 50 kg perlubang, tergantung pada jenis dan kesuburan tanah.
c. Pemupukan
Pemupukan tanaman durian dengan pupuk oraganik dan anorganik. Pada masa awal pertumbuhan tanaman diberi pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfor tinggi. Setelah mendekati masa produktif, gunakan pupuk yang mempunyai kandungan Kalium tinggi ditambah dengan unsur mikro, seperti Ca, Mn, Mg, Cu, Zn dan Mb.
Pemberian pupuk diulang setahun sekali, waktu pemberian pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
d. Hama dan Penyakit
Untuk menanggulangi hama dan penyakit, cara yang bisa dilakukan adalah mencegah masuknya hama dan penyakit ke areal kebun dengan cara karantina bibit, memusnahkan tanaman inang, dan melakukan sanitasi kebun.
Hama yang sering menyerang tanaman durian adalah : Penggerek Batang, Penggerek Buah, Kutu Loncat, Kutu Putih, Rayap dan Ulat Daun. Sedangkan penyakit tanaman durian umumnya disebabkan oleh cendawan, beberapa penyakit tersebut diantaranya : Kanker Batang dan Mati Pucuk, Busuk Akar, Bercak Daun, Jamur Upas, Akar Putih dan Busuk Buah.
Selain itu tanaman durian juga mempunyai penyakit psikologis yang umumnya menyerang bagian daun dan buah. Beberapa penyakit tersebut adalah : Ujung Daun Mengering, Wet Core, Daging Buah Keras dan Tip Burn.
e. Panen
Penentuan waktu panen buah durian yang biasa dilakukan petani tradisional adalah dengan menunggu buah jatuh. Waktu panen buah tergantung pada jenis atau varietasnya. Pada umumnya buah durian mengalami tingkat kematangan sempurna empat bulan setelah bunga mekar.
Panen yang bertujuan untuk dijual dengan pengangkutan jarak jauh atau untuk di ekspor, pemetinkannya dilakukan pada tingkat kematangan 80 – 85 %. Cara pemanenan yang benar adalah dengan memetik atau memotong buah di pohon dengan menggunakan pisau atau galah berpisau.
Indonesia, sebagai negara agraris yang terletak di daerah tropis, merupakan negara yang kaya akan buah-buahan. Salah satu buah tropis yang mempunyai nilai jual sangat tinggi adalah durian (Durio zibethinus Murr) sehingga sempat mendapat julukan King of the Fruit. Buah durian yang banyak mengandung protein dan gizi sangat tinggi, di Indonesia, banyak dimanfaatkan sebagai buah segar, walaupun tidak sedikit yang mengolahnya menjadi berbagai makanan, seperti tempoyak, lempok, es krim dan keripik biji durian.
Penanaman dan pengelolaan kebun durian di Indonesia saat ini belumlah maksimal dan masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Thailan dan Malaysia. Suplai buah durian di Indonesia saat ini masih banyak mengandalkan tanaman liar, baik milik rakyat maupun tanaman hutan. Ini berbeda dengan di negara Thailan dan Malaysia yang sudah banyak mengebunkan durian secara intensif sehingga banyak menghasilkan durian dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan bisa diekspor.
Penyusunan makalah ini sengaja penulis pilih judul “Budidaya Durian”, untuk membagi ilmu penanaman durian secara intensif seperti yang dilakukan oleh para petani di Thailan dan Malaysia yang sudah mulai diadopsi ilmunya oleh para petani di Indonesia.
II. Menanam Durian
Berkebun durian komersial secara intensif, selain memerlukan modal, pengetahuan teknologi dan lokasi lahan yang cocok, juga memerlukan informasi tentang permintaan pasar dan keinginan pasar.
Modal memegang peranan yang paling penting. Pengetahuan teknologi memegang peranan dalam aspek budidaya. Pengetahuan yang dibutuhkan meliputi pemilihan varietas, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan cara mengatur pembuahan di luar musim untuk menghindari oversupply dan mendapat harga yang bagus.
Pengetahuan tentang pasar juga merupakan faktor penting. Dalam memproduksi durian, pasar yang akan dituju harus ditentukan dengan jelas. Apakah untuk pasar lokal atau ekspor. Selain menyangkut kualitas, perbedaan juga menyangkut cara penanganan pasca panen, seperti kematangan buah, keseragaman dan packaging-nya.
Tanaman durian akan tumbuh secara optimal di daerah tropis. Untuk bertanam durian secara intensif dibutuhkan tempat dengan ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Ketinggian tempat akan berpengaruh terhadap waktu pembungaan dan kematangan buah. Tempat yang ideal adalah yang memiliki intensitas cahaya matahari sekitar 40 – 50 % dengan suhu 22 - 30˚ C. Curah hujan yang ideal adalah 1.500 – 2.500 mm pertahun. Tempat itu juga sebaiknya memiliki bulah basah selama 9 – 11 bulan pertahun dan bulan kering selama 3 – 4 bulan untuk meransang pertumbuhan bunga.
Tanah yang cocok adalah tanah lempung berpasir yang subur dan memiliki banyak kandungan bahan organik. Jenis tanah latosol, podsolik merah kuning, atau andosol merupakan jenis tanah yang paling cocok untuk tanaman durian. Tanah yang berstektur berat seperti tanah liat, kurang bagus untuk tanaman durian karena pengeringannya sangat sulit terutama pada musim hujan.
Topografi yang baik adalah yang agak miring, tetapi tidak melebihi 35˚. Untuk lahan yang miring, kita perlu membuat terasering untuk mencegah erosi. Karena akarnya mampu menembus kedalaman sampai tiga meter, lokasi yang dipilih idealnya adalah yang memiliki kedalaman air tanah sekitar 50 – 300 cm.
Jenis dan varietas durian yang ada di Indonesia saat ini adalah : Kani, Sunan, Sukun, Petruk, Sitokong, Mas, Otong, Sihijau, Sijajang, Sidodol, Bokor, Siriwig, Perwira dan Petaling Namlung. Selain varietas tersebut, ada beberapa varietas durian dari negara tetangga yang bersifat unggul yang sudah ditanam oleh petani di Indonesia, diantaranya : Monthong, Chanee, Kan Yao dan Kradhum Thong, yang kesemua itu berasal dari Thailand.
a. Memilih Bibit
Pemilihan bibit merupakan faktor yang sangat penting dalam berkebun durian. Untuk lebih memastikan jenis dan varietas bibit yang akan ditanam, carilah bibit di petani atau pedagang yang sudah mempunyai kredibilitas dan benar-benar mempunyai pohon induk sendiri serta sudah mendapatkan sertifikat dari Departemen Pertanian. Cara lain dengan membuat bibit sendiri menggunakan batang atas dari pohon induk yang benar-benar terjaga keaslian dan kualitasnya.
Bibit durian yang baik mempunyai ciri-ciri : Keadaan tanaman subur, segar, sehat, daunnya banyak, batangnya kokoh, bebas hama dan penyakit, mempunyai percabangan 2 – 4 arah dan menunjukkan perkembangan tunas baru. Ham dan penyakit dapat dilihat langsung di daun dan batang tanaman. Tanaman yang sehat menunjukkan tidak ada binatang, hama atau jamur yang menempel di tanaman. Bekas serangannya pun tidak ada.
b. Mempersiapkan Lahan
Mempersiapkan lahan terutama ditujukan untuk usaha penanaman durian dalam skala besar atau di kebun yang luas. Lahan dibersihkan dari tanaman keras yang dapat menghalangi sinar matahari. Selain agar tidak menghalangi sinar matahari langsung juga untuk menghindari persaingan dalam perebutan unsur hara.
Rumput dan alang-alang juga diberantas dengan menyemprotkan obat-obatan pembasmi atau dengan menanam rabuh hijau atau cover crop, seperti kacang-kacangan, yang dapat menghambat dan mematikan rumput dan alang-alang serta gulma lainnya. Selain itu, rabuk hijau juga dapat mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi penguapan air pada musim kemarau.
Lahan yang terlalu miring sebaiknya dibuat terasering, sedangkan lahan yang luas dan datar harus dibuat saluran-saluran pembuangan air untuk memudahkan pembuangan air saat musim hujan.
Pengaturan jarak tanam juga lebih ditujukan untuk penanaman durian dalam skala besar. Jarak tanam ini tergantung pada jenis, varietas, lokasi lahan dan jenis tanah. Jarak tanam ini paling ideal karena jika kurang dari jarak tersebut tanaman akan saling berebut unsur hara, penyebaran penyakit lebih mudah dan sinar matahari tidak efektif menembus tanaman karena terlalu rapat. Selain jarak tanam, pola penanaman juga perlu diatur supaya kebun kelihatan rapi dan teratur.
Untuk penanaman durian dalam skala yang luas di tempat terbuka, mutlak diperlukan tanaman pelindung untuk melindungi tanaman dari sinar matahari yang terik dan untuk memecah atau meminimalkan pengaruh angin.
Lubang tanam untuk penanaman durian dibuat dengan ukuran 50 cm². Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cangkul atau garpu. Sebagai campuran media gunakan pupuk kandang dari kotoran ayam, kambing/domba, sapi, kerbau atau kuda dengan jumlah kurang lebih 30 – 50 kg perlubang, tergantung pada jenis dan kesuburan tanah.
c. Pemupukan
Pemupukan tanaman durian dengan pupuk oraganik dan anorganik. Pada masa awal pertumbuhan tanaman diberi pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfor tinggi. Setelah mendekati masa produktif, gunakan pupuk yang mempunyai kandungan Kalium tinggi ditambah dengan unsur mikro, seperti Ca, Mn, Mg, Cu, Zn dan Mb.
Pemberian pupuk diulang setahun sekali, waktu pemberian pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
d. Hama dan Penyakit
Untuk menanggulangi hama dan penyakit, cara yang bisa dilakukan adalah mencegah masuknya hama dan penyakit ke areal kebun dengan cara karantina bibit, memusnahkan tanaman inang, dan melakukan sanitasi kebun.
Hama yang sering menyerang tanaman durian adalah : Penggerek Batang, Penggerek Buah, Kutu Loncat, Kutu Putih, Rayap dan Ulat Daun. Sedangkan penyakit tanaman durian umumnya disebabkan oleh cendawan, beberapa penyakit tersebut diantaranya : Kanker Batang dan Mati Pucuk, Busuk Akar, Bercak Daun, Jamur Upas, Akar Putih dan Busuk Buah.
Selain itu tanaman durian juga mempunyai penyakit psikologis yang umumnya menyerang bagian daun dan buah. Beberapa penyakit tersebut adalah : Ujung Daun Mengering, Wet Core, Daging Buah Keras dan Tip Burn.
e. Panen
Penentuan waktu panen buah durian yang biasa dilakukan petani tradisional adalah dengan menunggu buah jatuh. Waktu panen buah tergantung pada jenis atau varietasnya. Pada umumnya buah durian mengalami tingkat kematangan sempurna empat bulan setelah bunga mekar.
Panen yang bertujuan untuk dijual dengan pengangkutan jarak jauh atau untuk di ekspor, pemetinkannya dilakukan pada tingkat kematangan 80 – 85 %. Cara pemanenan yang benar adalah dengan memetik atau memotong buah di pohon dengan menggunakan pisau atau galah berpisau.
PENANGANAN PASCA PANEN PADI Oriza Sativa
I. Pendahuluan
Padi sebenarnya bukanlah hal baru bagi manusia, termasuk di Indonesia. Sudah sejak dahulu nenek monyang kita membudidayakannya. Sejarah dunia pertanian mengalami lompatan yang sangat berarti, dari pertanian tradisional menuju pertanian modern.
Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separuh penduduk Asia. Sekitar 1.750 juta jiwa dari sekitar tiga milyar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia, menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras. Sementara di Afrika dan Amerika Latin yang berpenduduk sekitar 1,2 milyar, 100 juta di antaranyapun hidup dari beras.
Di Indonesia, beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantunya penduduk Indonesia pada beras, maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, maka pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat.
Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain.
II. Panen
a. Saat Panen
Panen merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap petani. Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi di lapangan dan faktor penentu proses selanjutnya. Pemanenan dan penanganan pasca panen perlu dicermati untuk dapat mempertahankan mutu sehingga dapat memenuhi spesifikasi yang diminta konsumen. Penanganan yang kurang hati-hati akan berpengaruh terhadap mutu dan penampilan produk yang berdampak kepada pemasaran.
Sekitar sepuluh hari sebelum panen, sawah harus dikeringkan agar masaknya padi berlangsung serentak. Selain itu, keringnya sawah akan lebih memudahkan pemanenan. Pemanenan padi harus dilakukan pada saat yang tepat. Panen yang terlalu cepat dapat menyebabkan kualitas butir gabah menjadi rendah, yaitu banyak butir hijau atau butir berkapur. Bila hal ini yang terjadi, nantinya akan diperoleh beras yang mudah hancur saat digiling. Sebaliknya, panen yang terlambat dapat menurunkan produksi karena banyak butir gabah yang sudah dimakan burung atau tikus.
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang sudah menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Tangkai padi menunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen.
b. Cara Panen
Secara tradisional padi dipanen dengan ketam. Hanya saja panen dengan alat ketam tersebut agak lambat dan perlu banyak tenaga kerja sehingga tidak efisien. Agar panen dapat berlangsung cepat, alat yang digunakan adalah sabit. Dikatakan cepat karena hanya dengan empat tenaga kerja saja luas areal padi yang dapat dipanen dapat mencapai 2.500 m² untuk waktu setengah hari. Sementara panen dengan ketam memerlukan sepuluh tenaga kerja untuk areal yang sama, tetapi waktunya 2 hari. Panen dengan sabit ini hanya disisakan batang setinggi 20 cm dari permukaan tanah.
c. Perontokan
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok.
Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung.
Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung, tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.
III. Pasca Panen
a. Pengeringan
Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak bercampur dengan tanah.
Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2 – 3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama, sekitar seminggu.
b. Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu. Lesung terbuat dari kayu utuh yang diceruk mirip perahu. Cerukan pada kayu tersebut berfungsi sebagai tempat gabah ditumbuk. Sementara alu merupakan pasangan dari lesung sebagai alat penumbuk gabah. Alu tersebut terbuat dari kayu yang bentuknya bulat panjang seperti pipa.
Mesin Penggiling "BANGKIT" yang kapasitas 350 kg/jam, Berat 220 Kg sangat cocok digunakan usaha pertanian agroindustri beras dalam usaha kecil
Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia dan alatnya sulit dijumpai. Saat ini kebanyakan lesung dan alu sudah menghilang dari kehidupan petani padi karena kehadiran alat penggiling yang praktis dan daya kerjanya cepat.
Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling. Alat yang sering digunakan berupa hulle. Hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah ini sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.
c. Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual.
Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat.
Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara.
Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal. Akan lebih baik lagi bila setiap karung diberi tanda khusus seperti tanggal penyimpanan.
d. Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen, mengeringkan, lalu menjualnya ke pedagang pengumpul, baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras.
Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan ke pasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.
Bila dijual langsung ke pedagang beras di pasar, keuntungan yang diperoleh hanyalah berupa uang kontan, kerugiannya adalah harga yang diperoleh tidak maksimal karena pedagangpun harus mengambil keuntungan saat dipasarkan lebih lanjut.
Bila dititipkan di pasar swalayan, keuntungan yang diperoleh berupa harga jual yang lebih tinggi. Hanya saja pembayarannya tidak dilakukan secara tunai, melainkan setelah beras tersebut laku terjual. Beras yang dititipkan dikemas dalam plastik yang sudah dilengkapi dengan label.
Bila dijual langsung ke konsumen, harganya memang sama dengan harga jual ke pasar swalayan, bahkan dapat lebih tinggi. Dari segi usaha cara ini kurang praktis karena petani harus mendatangi konsumen satu persatu.
Padi sebenarnya bukanlah hal baru bagi manusia, termasuk di Indonesia. Sudah sejak dahulu nenek monyang kita membudidayakannya. Sejarah dunia pertanian mengalami lompatan yang sangat berarti, dari pertanian tradisional menuju pertanian modern.
Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separuh penduduk Asia. Sekitar 1.750 juta jiwa dari sekitar tiga milyar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia, menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras. Sementara di Afrika dan Amerika Latin yang berpenduduk sekitar 1,2 milyar, 100 juta di antaranyapun hidup dari beras.
Di Indonesia, beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantunya penduduk Indonesia pada beras, maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, maka pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat.
Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain.
II. Panen
a. Saat Panen
Panen merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap petani. Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi di lapangan dan faktor penentu proses selanjutnya. Pemanenan dan penanganan pasca panen perlu dicermati untuk dapat mempertahankan mutu sehingga dapat memenuhi spesifikasi yang diminta konsumen. Penanganan yang kurang hati-hati akan berpengaruh terhadap mutu dan penampilan produk yang berdampak kepada pemasaran.
Sekitar sepuluh hari sebelum panen, sawah harus dikeringkan agar masaknya padi berlangsung serentak. Selain itu, keringnya sawah akan lebih memudahkan pemanenan. Pemanenan padi harus dilakukan pada saat yang tepat. Panen yang terlalu cepat dapat menyebabkan kualitas butir gabah menjadi rendah, yaitu banyak butir hijau atau butir berkapur. Bila hal ini yang terjadi, nantinya akan diperoleh beras yang mudah hancur saat digiling. Sebaliknya, panen yang terlambat dapat menurunkan produksi karena banyak butir gabah yang sudah dimakan burung atau tikus.
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang sudah menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Tangkai padi menunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen.
b. Cara Panen
Secara tradisional padi dipanen dengan ketam. Hanya saja panen dengan alat ketam tersebut agak lambat dan perlu banyak tenaga kerja sehingga tidak efisien. Agar panen dapat berlangsung cepat, alat yang digunakan adalah sabit. Dikatakan cepat karena hanya dengan empat tenaga kerja saja luas areal padi yang dapat dipanen dapat mencapai 2.500 m² untuk waktu setengah hari. Sementara panen dengan ketam memerlukan sepuluh tenaga kerja untuk areal yang sama, tetapi waktunya 2 hari. Panen dengan sabit ini hanya disisakan batang setinggi 20 cm dari permukaan tanah.
c. Perontokan
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok.
Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung.
Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung, tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.
III. Pasca Panen
a. Pengeringan
Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak bercampur dengan tanah.
Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2 – 3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama, sekitar seminggu.
b. Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu. Lesung terbuat dari kayu utuh yang diceruk mirip perahu. Cerukan pada kayu tersebut berfungsi sebagai tempat gabah ditumbuk. Sementara alu merupakan pasangan dari lesung sebagai alat penumbuk gabah. Alu tersebut terbuat dari kayu yang bentuknya bulat panjang seperti pipa.
Mesin Penggiling "BANGKIT" yang kapasitas 350 kg/jam, Berat 220 Kg sangat cocok digunakan usaha pertanian agroindustri beras dalam usaha kecil
Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia dan alatnya sulit dijumpai. Saat ini kebanyakan lesung dan alu sudah menghilang dari kehidupan petani padi karena kehadiran alat penggiling yang praktis dan daya kerjanya cepat.
Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling. Alat yang sering digunakan berupa hulle. Hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah ini sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.
c. Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual.
Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat.
Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara.
Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal. Akan lebih baik lagi bila setiap karung diberi tanda khusus seperti tanggal penyimpanan.
d. Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen, mengeringkan, lalu menjualnya ke pedagang pengumpul, baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras.
Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan ke pasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.
Bila dijual langsung ke pedagang beras di pasar, keuntungan yang diperoleh hanyalah berupa uang kontan, kerugiannya adalah harga yang diperoleh tidak maksimal karena pedagangpun harus mengambil keuntungan saat dipasarkan lebih lanjut.
Bila dititipkan di pasar swalayan, keuntungan yang diperoleh berupa harga jual yang lebih tinggi. Hanya saja pembayarannya tidak dilakukan secara tunai, melainkan setelah beras tersebut laku terjual. Beras yang dititipkan dikemas dalam plastik yang sudah dilengkapi dengan label.
Bila dijual langsung ke konsumen, harganya memang sama dengan harga jual ke pasar swalayan, bahkan dapat lebih tinggi. Dari segi usaha cara ini kurang praktis karena petani harus mendatangi konsumen satu persatu.
BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
A. Pendahuluan.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat hampir semua lapisan masyarakat ‘kalang kabut’, terutama yang paling merasakannya adalah kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah, seperti Petani. Banyak hal yang selama ini terabaikan kini mulai dijamah kembali. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menambah kekurangan. Karena itu untuk bahan seminar ini penulis sengaja mengambil tema “ Budidaya Tanaman Jagung Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Menopang Ekonoi Keluarga”.
Masalah ini sangat jarang dibicarakan dalam form-forum ilmiah seperti seminar ini, padahal jagung merupakan salah satu produk andalan yang proses budidayanya sangat mudah, murah dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi petani. Apalagi jika diusahakan secara intensif dan dipasarkan secara distributif.
Selama ini jagung disepelekan, ditanam hanya untuk sekedar mendapat ‘jagung rebus’. Karena itu melalui seminar ini, penulis mencoba membuka wawasan para peserta untuk melihat sisi-sisi yang menguntungkan dari budidaya jagung.
Namun tentu saja dalam makalah seminar ini, penulis tidak menjelaskan perihal jagung secara mendetil, tetapi hanya bagian-bagian yang pokok.
A. Gambaran Umum Tanaman Jagung
1. Marfologi Tanaman Jagung
a. Akar :
Tanaman jagung berakar serabut, menyebar kesamping dan kebawah sepanjang ± 25 cm. Penyebarannya pada lapisan olah tanah.
b. Batang :
Batang tanaman jagung berwarna hijau sampai keungu-unguan, berbentuk bulat, tinggi tanaman bervariasi antara 125 – 250 cm. Batang berbuku-buku dan dibatasi oleh ruas-ruas.
c. Daun :
Daun jagung terdiri atas pelepah daun dan helaian daun. Jumlah daun 10 – 20 helai tiap tanaman. Helaian daun memanjang dengan ujung daun meruncing. Kedudukan antara 1 daun dengan daun lainnya berlawanan.
d. Bunga :
Bunga jagung berumah satu, dimana rumah daun jantan terletak terpisah dengan bunga betina pada dahan yang sama. Bunga jantan pada ujung tanaman (malai), bunga betina berada pada ketiak daun (tongkol), yang biasa disebut “rambut jagung”. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepung sari pada rambut, 95 % terjadi perkawinan silang dan 5 % perkawinan sendiri.
e. Biji :
Biji jagung tersusun rapi pada tongkol, pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol kadang-kadang ada dua. Setiap tongkol terdiri atas 10 – 14 deret, dan terdiri ± 200 – 400 butir.
2. Jenis dan Varietas Jagung
Pemilihan varietas diarahkan untuk varietas unggul yang dapat memberi hasil tinggi yang dapat memberi keuntungan besar bagi petani. Varietas jagung yang ideal dicirikan sebagai berikut :
Hasil biji persatuan luas tinggi
Tanggap terhadap pemupukan
Umur pendek
Berdaya hasil tinggi
Toleran terhadap hama dan penyakit
Beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan
Tegap dan tahan rebah
Tanaman pendek
Kulit jagung menutup tongkol dengan rapat
Biji keras dengan warna rata
Kandungan protein biji cukup tinggi
Jenis-jenis varietas jagung :
- Bima
- Arjuna
- Kania Putih
- Malin
- Jawa Timur Kuning
- Harapan, dan lain-lain
B. Tanah dan Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik hampir pada semua jenis tanah. Tetapi tanaman ini akan tumbuh dengan lebih baik pada tanah yang lebih gembur, kaya akan humus.
- Jagung tumbuh baik pada Ph tanah antara 5,5 – 7,0 . tanaman ini tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 1300 m diatas permukaan laut.
- Jagung tumbuh baik pada iklim Padah – sedang, tumguh baik pada temperatur pada 23° - 27° C.
C. Analisis Pasar
Tujuan diadakannya Analisis Pasar adalah :
Dapat mengetahui keadaan pasar yang tepat
Selalu dapat mengontrol harga suatu komoditi
Mengetahui jumlah modal yang ditanamkan
Dapat merangsang petani dalan berusaha
Segala keuntungan mudah diketahui
Kerugian dapat diperkecil dan pemasaran dapat dilakukan dengan baik
Mengetahui kebutuhan pasar
Dapat mengira bulan – bulan apa saja harga jagung meningkat
D. Budidaya Jagung
1. Memilih Benih yang Baik
Benih yang baik adalah benih dari suatu jenis tanaman yang dihasilkan dari suatu varietas yang mempunyai persyaratan sebagai berikut :
Daya adaptasi tinggi pada kondisi tertentu
Kemurniannya baik
Daya hasilnya baik
Mempunyai sifat agronomik yang diinginkan
Tahan terhadap hama dan penyakit
2. Menentukan Jarak Tanam
Jarak antara tanaman diusahakan teratur agar ruang tumnbuh tanaman seragam dan pemeliharaan tanaman mudah. Populasi optimal dari beberapa varietas sekitar 50.000 Ton/tahun, dengan menggunakan jarak tanam 100 x 40 cm ( 2 tanaman pelubang). Atau 100 x 20 cm ( 1 tanaman per lubang), atau 25 x 75 cm ( 1 tanaman per lubang).
3. Cara Menanam Tanaman Jagung
Waktu tanam yang baik adalah :
Di Tegalan :
Musim Labuhan (permulaan musim hujan : september – November ), penanaman dapat juga dilakukan pada musim Marengan (saat musim hujan hampir berakhir : Februari – April).
Di Sawah :
Dapat ditanam pada musim Labuhan, musim marengan dan musim kemarau.
- Penanaman pada musim Labuhan dipilih varietas Genjah, sehingga tersedia waktu untuk persiapan penanaman padi.
- Penanaman dapat dilakukan secara tugal sedalam 3 – 5 cm setiap lubang diisi 2 - 3 biji.
E. Faktor yang mempengaruhi Tingginya Hasil Jagung
Tanah dan dan Kesuburan tanah
Persiapan tanah
Benih yang bagus
Waktu tanam yang tepat
Pengendalian hama dan penyakit
Krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat hampir semua lapisan masyarakat ‘kalang kabut’, terutama yang paling merasakannya adalah kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah, seperti Petani. Banyak hal yang selama ini terabaikan kini mulai dijamah kembali. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menambah kekurangan. Karena itu untuk bahan seminar ini penulis sengaja mengambil tema “ Budidaya Tanaman Jagung Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Menopang Ekonoi Keluarga”.
Masalah ini sangat jarang dibicarakan dalam form-forum ilmiah seperti seminar ini, padahal jagung merupakan salah satu produk andalan yang proses budidayanya sangat mudah, murah dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi petani. Apalagi jika diusahakan secara intensif dan dipasarkan secara distributif.
Selama ini jagung disepelekan, ditanam hanya untuk sekedar mendapat ‘jagung rebus’. Karena itu melalui seminar ini, penulis mencoba membuka wawasan para peserta untuk melihat sisi-sisi yang menguntungkan dari budidaya jagung.
Namun tentu saja dalam makalah seminar ini, penulis tidak menjelaskan perihal jagung secara mendetil, tetapi hanya bagian-bagian yang pokok.
A. Gambaran Umum Tanaman Jagung
1. Marfologi Tanaman Jagung
a. Akar :
Tanaman jagung berakar serabut, menyebar kesamping dan kebawah sepanjang ± 25 cm. Penyebarannya pada lapisan olah tanah.
b. Batang :
Batang tanaman jagung berwarna hijau sampai keungu-unguan, berbentuk bulat, tinggi tanaman bervariasi antara 125 – 250 cm. Batang berbuku-buku dan dibatasi oleh ruas-ruas.
c. Daun :
Daun jagung terdiri atas pelepah daun dan helaian daun. Jumlah daun 10 – 20 helai tiap tanaman. Helaian daun memanjang dengan ujung daun meruncing. Kedudukan antara 1 daun dengan daun lainnya berlawanan.
d. Bunga :
Bunga jagung berumah satu, dimana rumah daun jantan terletak terpisah dengan bunga betina pada dahan yang sama. Bunga jantan pada ujung tanaman (malai), bunga betina berada pada ketiak daun (tongkol), yang biasa disebut “rambut jagung”. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepung sari pada rambut, 95 % terjadi perkawinan silang dan 5 % perkawinan sendiri.
e. Biji :
Biji jagung tersusun rapi pada tongkol, pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol kadang-kadang ada dua. Setiap tongkol terdiri atas 10 – 14 deret, dan terdiri ± 200 – 400 butir.
2. Jenis dan Varietas Jagung
Pemilihan varietas diarahkan untuk varietas unggul yang dapat memberi hasil tinggi yang dapat memberi keuntungan besar bagi petani. Varietas jagung yang ideal dicirikan sebagai berikut :
Hasil biji persatuan luas tinggi
Tanggap terhadap pemupukan
Umur pendek
Berdaya hasil tinggi
Toleran terhadap hama dan penyakit
Beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan
Tegap dan tahan rebah
Tanaman pendek
Kulit jagung menutup tongkol dengan rapat
Biji keras dengan warna rata
Kandungan protein biji cukup tinggi
Jenis-jenis varietas jagung :
- Bima
- Arjuna
- Kania Putih
- Malin
- Jawa Timur Kuning
- Harapan, dan lain-lain
B. Tanah dan Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik hampir pada semua jenis tanah. Tetapi tanaman ini akan tumbuh dengan lebih baik pada tanah yang lebih gembur, kaya akan humus.
- Jagung tumbuh baik pada Ph tanah antara 5,5 – 7,0 . tanaman ini tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 1300 m diatas permukaan laut.
- Jagung tumbuh baik pada iklim Padah – sedang, tumguh baik pada temperatur pada 23° - 27° C.
C. Analisis Pasar
Tujuan diadakannya Analisis Pasar adalah :
Dapat mengetahui keadaan pasar yang tepat
Selalu dapat mengontrol harga suatu komoditi
Mengetahui jumlah modal yang ditanamkan
Dapat merangsang petani dalan berusaha
Segala keuntungan mudah diketahui
Kerugian dapat diperkecil dan pemasaran dapat dilakukan dengan baik
Mengetahui kebutuhan pasar
Dapat mengira bulan – bulan apa saja harga jagung meningkat
D. Budidaya Jagung
1. Memilih Benih yang Baik
Benih yang baik adalah benih dari suatu jenis tanaman yang dihasilkan dari suatu varietas yang mempunyai persyaratan sebagai berikut :
Daya adaptasi tinggi pada kondisi tertentu
Kemurniannya baik
Daya hasilnya baik
Mempunyai sifat agronomik yang diinginkan
Tahan terhadap hama dan penyakit
2. Menentukan Jarak Tanam
Jarak antara tanaman diusahakan teratur agar ruang tumnbuh tanaman seragam dan pemeliharaan tanaman mudah. Populasi optimal dari beberapa varietas sekitar 50.000 Ton/tahun, dengan menggunakan jarak tanam 100 x 40 cm ( 2 tanaman pelubang). Atau 100 x 20 cm ( 1 tanaman per lubang), atau 25 x 75 cm ( 1 tanaman per lubang).
3. Cara Menanam Tanaman Jagung
Waktu tanam yang baik adalah :
Di Tegalan :
Musim Labuhan (permulaan musim hujan : september – November ), penanaman dapat juga dilakukan pada musim Marengan (saat musim hujan hampir berakhir : Februari – April).
Di Sawah :
Dapat ditanam pada musim Labuhan, musim marengan dan musim kemarau.
- Penanaman pada musim Labuhan dipilih varietas Genjah, sehingga tersedia waktu untuk persiapan penanaman padi.
- Penanaman dapat dilakukan secara tugal sedalam 3 – 5 cm setiap lubang diisi 2 - 3 biji.
E. Faktor yang mempengaruhi Tingginya Hasil Jagung
Tanah dan dan Kesuburan tanah
Persiapan tanah
Benih yang bagus
Waktu tanam yang tepat
Pengendalian hama dan penyakit
Monday, July 5, 2010
BUDIDAYA SEMANGKA Citrulus Vulgaris
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi yang terus meningkat dewasa ini, dapat kita rasakan dalam segala aspek dan sektor. Salah satunya adalah kemajuan teknologi di sektor Pertanian. Pemerintah memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan Teknologi Pertanian di Indonesia. Yaitu dengan didirikannya Balai-Balai Pertanian dan Balai-Balai Penelitian Tanaman Pangan.
Budidaya tanaman semangka adalah salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan akan buah-buahan bagi masyarakat. Apalagi di Daerah Kabupaten Aceh Barat Daya, jumlah petani yang membudidayakan tanaman ini sangat minim, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Selama ini pasokan semangka Wilayah Blangpidie di datangkan dari daerah-daerah lain, seperti dari Tapaktuan dan Meulaboh.
Semangka (Citrulus Vulgaris) dalam bahasa Inggris di sebut Water Melon, buah semangka masih kerabat dekat dengan Melon (Cucumis Melo & Var Cantalupensis Naud) dan Blewah (Cucumis Melo L) termasuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Seperti halnya keluarga labu-labuan lainnya, tanaman ini berasal dari Afrika Tropika.
Buah ini mengandung banyak air sehingga sangat disukai oleh manusia maupun binatang. Sehingga penyebarannya sangat cepat, misalnya ke India, Cina, dan ke Negara-Negara sekitarnya termasuk ke Indonesia.
Tanaman jenis labu-labuan ini akhirnya di budidayakan di Negara-negara tersebut dan mengalami suatu proses adaptasi dengan kondisi iklim setempat dalam kurun waktu yang cukup lama. Malahan berkat kemajuan teknologi Pertanian yang semakin maju, beberapa Negara telah berhasil memperkenalkan jenis keluarga labu-labuan “Baru” hasil perlakuan obat ataupun persilangan yang pada akhirnya menghasilkan suatu sosok tanaman yang lebih unggul dari pada sosok tanaman aslinya. Negara yang banyak menaruh perhatian terhadap keluarga ini dan telah mengembangkan jenis buah baru adalah Taiwan, Jepang, dan Amerika.
Di Indonesia buah labu-labuan telah berkembang seperti di Negara-negara lain yang telah lebih dahulu membudidayakan tanaman yang sama, walaupun banyak ketinggalan. Sebab sebelum Tahun 1970 Pertanian di Negara kita lebih mengutamakan kebutuhan pangan pokok, yakni beras. Tahun 1970 ini pula yang menjadikan titik tolak perkembangan tanaman pangan selain beras dengan terobosan-terobosan baru dan alih teknologi, Pemerintah mendirikan Balai-Balai Penelitian Tanaman Pangan. Hal ini sedikit banyak tentu memberikan andil positif dalam menyebar luaskan daerah penanaman keluarga labu-labuan ini.
Balai – Balai semacam ini bermunculan di beberapa daerah pada Tahun 1984. Meningkatnya perhatian terhadap Budidaya tanaman holticultura tadi, didasarkan atas terbukanya pasaran di Luar Negeri, terutama hasil budidaya tanaman pangan, yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Persyaratan buah yang layak ekspor terkadang masih menjadi kendala bagi beberapa jenis buah, khususnya semangka. Oleh karena itu perlu diadakan suatu program budidaya terpadu, supaya menghasilkan buah semangka yang berkualitas prima memenuhi standar pasaran di Luar Negeri dan mampu bersaing dengan buah produksi dari negeri lain. Karena itulah kita perlu mengembangkan teknik -teknik budidaya ditanah air kita untuk mengejar ketinggalan dari teknik budidaya di negara lain.
Analisis pendapatan petani semangka di tanah air, masih terbatas untuk memenuhi pasaran dalam negeri. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kita mampu bersaing di pasaran internasional. Faktor-faktor yang menjadi barometer naik turunnya harga pasaran buah semangka di dalam negeri adalah banyaknya hasil buah yang dipanen pada saat bersaan.
Daerah – daerah penghasil semangka yang paling banyak di Indonesia:
A. Jawa Tengah: DISTA Yogyakarta, Magelang dan Kulon Progo
B. Jawa Barat: Indramanyu, Kerawang
C. Jawa Timur: Bayuwangi dan Malang
D. Sumatra: Lampung
Buah semangka yang berkualitas baik telah banyak dipasarkan di supermarket di kota-kota besar. Dan yang menjadi pelanggannya adalah masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas.Kenyataan demikian menjadikan permintaan pasar buah semangka semakin meningkat. Terlebih saat buah yang didatangkan dari daerah-daerah penghasil tadi relatif sedikit jumlahnya sehingga harganyapun melonjak beberapa kali lipat.
Budi daya semangka telah banyak di temui dimana –mana, bukanlah yang asing lagi bagi masyarakat petani yang khususnya dalam bidang produksi semangka kita lihat sekarang ini sangat sesuai di budidayakan di daerah Aceh Barat Daya karena bisa menghasikan produksi yang sangat besar dan resiko kerusakan sangat kecil. Aceh Selatan sangat cocok tempat budidaya semangka, karena selain iklim yang mendukung juga tekstur tanah yang poros. Juga pemasaran nya sangat mudah dan harga sangat memuaskan para petani yang mebudidayakannya.
Nilai semangka di Aceh Barat Daya cukup tinggi dan bisa di golongkan baik, karena selain rasanya manis, dan proses memasukannya lebih cepat sebelum jangka waktu sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk dibudidayankan. Pengaruhnya yaitu akibat mutasi dan keadaan iklim yang kuat, mendorong cepat nya semangka dan cepat masak, karena itulah kita harapkan di daerah Aceh Selatan ini dimasa yang akan datang bisa menghasilkan semangka besar-besaran.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah bertujuan untuk menciptakan lingkingan yang baik bagi pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman, pengolahan tanah pertama untuk membalikkan tanah selain itu juga untuk memecahkan bongakahan-bongkahan tanah, meratakan tanah dan pembuatan bedeng bertujuan untuk membuang kelebihan air.
3. Pembabatan
Rumput-rumputan yang ada di babat dan dibersihkan dengan menggunakan parang atau alat yang lainnya.
4. Pembalikan tanah
Tanah dibalikkan supaya gulma-gulma yang ada tidak akan tumbuh dan menjadi pupuk bagi tanaman nanti, pembalikan tanah bisa dilakukan dengan menggunakan traktor atau cangkul.
5. Rotari
Tanah dihaluskan kembali dengan traktor atau cangkul supaya lebih gembur.
6. Pembuatan Bedeng
Setelah tanah diolah lalu kita membuat bedeng dengan ukuran 2,3 x 3,5 m dengan drainase.
7. Lobang tanam
Setelah pembuatan bedengan lalu dilakukan lobang tanam 1,5 x 2,3 m.
8. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara bagi tanaman, baik melalui tanah maupun melalui tanaman. Pemupukan yang tepat (dosis dan waktu) dapat meningkatkan produksi.
1. Pupuk dasar
Pupuk dasar diberi sebelum tanam, bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah atau tekstur tanah, pupuk yang diberikan yaitu pupuk kandang diberi 1 minggu sebelum tanam, dan pupuk TSP, 3 gr / batang diberi 3 hari sebelum tanam.
2. Pupuk susulan
Pupuk ini diberi setelah tanam, yang berfungsi untuk memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk yang diberikan yaitu Urea, KCL, NPK, diberi 14 hari sesudah tanam, 28 hari sesudah tanam dan 42 hari sesudah tanam dengan dosis 3 – 5 gr / tanaman.
9. Perlakuan benih
Untuk mempercepat pertumbuhan benih maka benih dapat diperlakukan dengan perendaman, benih dicampur dengan atonik ± 4 jam 1 cc/liter air, lalu ditiriskan dam setelah itu dicampur dengan Currater.
10. Penanaman
Ditanam sesuai dengan ukuran jarak tanam yang telah diukur dan dibuat yaitu 3,3 x 1,5 m. tiap lubang tanam diberi 2 – 3 butir benih semangka tepat ditengah-tengah lubang, lalu lubang ditutup.
11. Penyiangan
Gulma dibersihkan di sekitar batang dan daun-daun yang tua / daun kering juga dibersihkan.
12. Penyemprotan hama dan penyakit
Penyakit yang dikendalikan dengan Dithane 45 dosisnya 1 cc/liter air. Hama dikendalikan dengan menggunakan Lybacyd dengan dosis 0,5 – 1 cc/liter air. Penyemprotan dilakukan 10 hari – 2 minggu sekali secara bergantian.
13. Pemangkasan
Pertumbuhan batang (sulur) utama dan cabang lateralnya perlu kita atur dan kita batasi agar buah yang dihasilkan bermutu baik (berukuran besar, bentuk sempurna). Apabila menginginkan buah berukuran besar , dapat kita usahakan dengan memelihara maksimal 1 – 3 calon buah pada setiap tanaman yang masing-masing terletak pada satu cabang lateral dan dua pada batang utama.
Cabang-cabang yang tumbuh setelah dipilih dari dua cabang lateral yang terbagus yang ada, cabang yang tidak dibutuhkan kita pangkas dengan gunting atau silet, disisakan 5 cm dari cabang utama.
pemangkasan dilakukan terhadap cabang lateral (cabang yang tumbuhnya kesamping) pada baris ke 2, 4 dan 10, juga batang utama yang terlalu panjang, buah yang menunjukkan ciri tidak layak dipertahankan, antara lain, ukurannya lebih kecil, mengkerut, terdapat bekas gigitan dan bentuknya tidak normal.
Tujuan pemangkasan cabang yang berlebihan adalah untuk memaksa tanaman memusatkan hasil tenaga internalnya (tenaga dalam) demi perkembangan buah. Calon buah yang akan dipelihara di pilih dari calon buah yang paling baik, usahakan memilih calon buah yang bentuknya seragam, penampilannya sempurna dan tidak berkerut, letak calon buah relatif agak jauh dari pangkal batang utama, minimal 70 cm.
Sisa calon buah yang tidak terpilih kita buang dengan memotong tangkainya, Batang yang pertumbuhan daunnya terlalu panjang, dapat dipotong ujungnya.
Untuk mencegah terjadinya kerusakan buah yang menempel diatas tanah dan membuat warna kulit buah merata tanpa adanya bagian yang belanga akibat tidak terkena sinar matahari.
Buah yang tidak dibalik seringkali berlubang pada dasar buahnya akibat digerogoti oleh binatang ataupun jamur dan bakteri terutama bila sering terkena air hujan.
Pembalikan buah hanya dianjurkan sekali pada setiap periode penanaman yaitu setelah buah berukuran sebesar bola kaki atau beratnya ± 1,5 Kg. Pada saat pembalikan buah sebaiknya alas jerami pada tempat buah ditambah jerami baru. Dengan cara demikian walaupun tidak dilakukan pembalikan buah, buah tetap terjamin keadaannya, yaitu dengan syarat pada awal penanaman, tepatnya setelah bakal buah yang akan dipelihara terpilih, di bawah calon buah tersebut ditambah jerami kering.
Ciri-ciri semangka yang siap untuk dipanen
- Sulurnya kering
- Tangkai buahnya mengecil
- Daun sudah banyak yang kering
- Buah mengkilat
- Bila dikorok berbunyi nyaring
Setelah panen buahnya tidak bisa disimpan lama karena bisa pecah atau busuk, yang menyebabkan kerugian, oleh karena itu setelah buah di panen, buah digudang selama 1 malam atau bisa langsung dijual.
Perkembangan teknologi yang terus meningkat dewasa ini, dapat kita rasakan dalam segala aspek dan sektor. Salah satunya adalah kemajuan teknologi di sektor Pertanian. Pemerintah memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan Teknologi Pertanian di Indonesia. Yaitu dengan didirikannya Balai-Balai Pertanian dan Balai-Balai Penelitian Tanaman Pangan.
Budidaya tanaman semangka adalah salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan akan buah-buahan bagi masyarakat. Apalagi di Daerah Kabupaten Aceh Barat Daya, jumlah petani yang membudidayakan tanaman ini sangat minim, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Selama ini pasokan semangka Wilayah Blangpidie di datangkan dari daerah-daerah lain, seperti dari Tapaktuan dan Meulaboh.
Semangka (Citrulus Vulgaris) dalam bahasa Inggris di sebut Water Melon, buah semangka masih kerabat dekat dengan Melon (Cucumis Melo & Var Cantalupensis Naud) dan Blewah (Cucumis Melo L) termasuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Seperti halnya keluarga labu-labuan lainnya, tanaman ini berasal dari Afrika Tropika.
Buah ini mengandung banyak air sehingga sangat disukai oleh manusia maupun binatang. Sehingga penyebarannya sangat cepat, misalnya ke India, Cina, dan ke Negara-Negara sekitarnya termasuk ke Indonesia.
Tanaman jenis labu-labuan ini akhirnya di budidayakan di Negara-negara tersebut dan mengalami suatu proses adaptasi dengan kondisi iklim setempat dalam kurun waktu yang cukup lama. Malahan berkat kemajuan teknologi Pertanian yang semakin maju, beberapa Negara telah berhasil memperkenalkan jenis keluarga labu-labuan “Baru” hasil perlakuan obat ataupun persilangan yang pada akhirnya menghasilkan suatu sosok tanaman yang lebih unggul dari pada sosok tanaman aslinya. Negara yang banyak menaruh perhatian terhadap keluarga ini dan telah mengembangkan jenis buah baru adalah Taiwan, Jepang, dan Amerika.
Di Indonesia buah labu-labuan telah berkembang seperti di Negara-negara lain yang telah lebih dahulu membudidayakan tanaman yang sama, walaupun banyak ketinggalan. Sebab sebelum Tahun 1970 Pertanian di Negara kita lebih mengutamakan kebutuhan pangan pokok, yakni beras. Tahun 1970 ini pula yang menjadikan titik tolak perkembangan tanaman pangan selain beras dengan terobosan-terobosan baru dan alih teknologi, Pemerintah mendirikan Balai-Balai Penelitian Tanaman Pangan. Hal ini sedikit banyak tentu memberikan andil positif dalam menyebar luaskan daerah penanaman keluarga labu-labuan ini.
Balai – Balai semacam ini bermunculan di beberapa daerah pada Tahun 1984. Meningkatnya perhatian terhadap Budidaya tanaman holticultura tadi, didasarkan atas terbukanya pasaran di Luar Negeri, terutama hasil budidaya tanaman pangan, yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Persyaratan buah yang layak ekspor terkadang masih menjadi kendala bagi beberapa jenis buah, khususnya semangka. Oleh karena itu perlu diadakan suatu program budidaya terpadu, supaya menghasilkan buah semangka yang berkualitas prima memenuhi standar pasaran di Luar Negeri dan mampu bersaing dengan buah produksi dari negeri lain. Karena itulah kita perlu mengembangkan teknik -teknik budidaya ditanah air kita untuk mengejar ketinggalan dari teknik budidaya di negara lain.
Analisis pendapatan petani semangka di tanah air, masih terbatas untuk memenuhi pasaran dalam negeri. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kita mampu bersaing di pasaran internasional. Faktor-faktor yang menjadi barometer naik turunnya harga pasaran buah semangka di dalam negeri adalah banyaknya hasil buah yang dipanen pada saat bersaan.
Daerah – daerah penghasil semangka yang paling banyak di Indonesia:
A. Jawa Tengah: DISTA Yogyakarta, Magelang dan Kulon Progo
B. Jawa Barat: Indramanyu, Kerawang
C. Jawa Timur: Bayuwangi dan Malang
D. Sumatra: Lampung
Buah semangka yang berkualitas baik telah banyak dipasarkan di supermarket di kota-kota besar. Dan yang menjadi pelanggannya adalah masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas.Kenyataan demikian menjadikan permintaan pasar buah semangka semakin meningkat. Terlebih saat buah yang didatangkan dari daerah-daerah penghasil tadi relatif sedikit jumlahnya sehingga harganyapun melonjak beberapa kali lipat.
Budi daya semangka telah banyak di temui dimana –mana, bukanlah yang asing lagi bagi masyarakat petani yang khususnya dalam bidang produksi semangka kita lihat sekarang ini sangat sesuai di budidayakan di daerah Aceh Barat Daya karena bisa menghasikan produksi yang sangat besar dan resiko kerusakan sangat kecil. Aceh Selatan sangat cocok tempat budidaya semangka, karena selain iklim yang mendukung juga tekstur tanah yang poros. Juga pemasaran nya sangat mudah dan harga sangat memuaskan para petani yang mebudidayakannya.
Nilai semangka di Aceh Barat Daya cukup tinggi dan bisa di golongkan baik, karena selain rasanya manis, dan proses memasukannya lebih cepat sebelum jangka waktu sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk dibudidayankan. Pengaruhnya yaitu akibat mutasi dan keadaan iklim yang kuat, mendorong cepat nya semangka dan cepat masak, karena itulah kita harapkan di daerah Aceh Selatan ini dimasa yang akan datang bisa menghasilkan semangka besar-besaran.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah bertujuan untuk menciptakan lingkingan yang baik bagi pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman, pengolahan tanah pertama untuk membalikkan tanah selain itu juga untuk memecahkan bongakahan-bongkahan tanah, meratakan tanah dan pembuatan bedeng bertujuan untuk membuang kelebihan air.
3. Pembabatan
Rumput-rumputan yang ada di babat dan dibersihkan dengan menggunakan parang atau alat yang lainnya.
4. Pembalikan tanah
Tanah dibalikkan supaya gulma-gulma yang ada tidak akan tumbuh dan menjadi pupuk bagi tanaman nanti, pembalikan tanah bisa dilakukan dengan menggunakan traktor atau cangkul.
5. Rotari
Tanah dihaluskan kembali dengan traktor atau cangkul supaya lebih gembur.
6. Pembuatan Bedeng
Setelah tanah diolah lalu kita membuat bedeng dengan ukuran 2,3 x 3,5 m dengan drainase.
7. Lobang tanam
Setelah pembuatan bedengan lalu dilakukan lobang tanam 1,5 x 2,3 m.
8. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara bagi tanaman, baik melalui tanah maupun melalui tanaman. Pemupukan yang tepat (dosis dan waktu) dapat meningkatkan produksi.
1. Pupuk dasar
Pupuk dasar diberi sebelum tanam, bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah atau tekstur tanah, pupuk yang diberikan yaitu pupuk kandang diberi 1 minggu sebelum tanam, dan pupuk TSP, 3 gr / batang diberi 3 hari sebelum tanam.
2. Pupuk susulan
Pupuk ini diberi setelah tanam, yang berfungsi untuk memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk yang diberikan yaitu Urea, KCL, NPK, diberi 14 hari sesudah tanam, 28 hari sesudah tanam dan 42 hari sesudah tanam dengan dosis 3 – 5 gr / tanaman.
9. Perlakuan benih
Untuk mempercepat pertumbuhan benih maka benih dapat diperlakukan dengan perendaman, benih dicampur dengan atonik ± 4 jam 1 cc/liter air, lalu ditiriskan dam setelah itu dicampur dengan Currater.
10. Penanaman
Ditanam sesuai dengan ukuran jarak tanam yang telah diukur dan dibuat yaitu 3,3 x 1,5 m. tiap lubang tanam diberi 2 – 3 butir benih semangka tepat ditengah-tengah lubang, lalu lubang ditutup.
11. Penyiangan
Gulma dibersihkan di sekitar batang dan daun-daun yang tua / daun kering juga dibersihkan.
12. Penyemprotan hama dan penyakit
Penyakit yang dikendalikan dengan Dithane 45 dosisnya 1 cc/liter air. Hama dikendalikan dengan menggunakan Lybacyd dengan dosis 0,5 – 1 cc/liter air. Penyemprotan dilakukan 10 hari – 2 minggu sekali secara bergantian.
13. Pemangkasan
Pertumbuhan batang (sulur) utama dan cabang lateralnya perlu kita atur dan kita batasi agar buah yang dihasilkan bermutu baik (berukuran besar, bentuk sempurna). Apabila menginginkan buah berukuran besar , dapat kita usahakan dengan memelihara maksimal 1 – 3 calon buah pada setiap tanaman yang masing-masing terletak pada satu cabang lateral dan dua pada batang utama.
Cabang-cabang yang tumbuh setelah dipilih dari dua cabang lateral yang terbagus yang ada, cabang yang tidak dibutuhkan kita pangkas dengan gunting atau silet, disisakan 5 cm dari cabang utama.
pemangkasan dilakukan terhadap cabang lateral (cabang yang tumbuhnya kesamping) pada baris ke 2, 4 dan 10, juga batang utama yang terlalu panjang, buah yang menunjukkan ciri tidak layak dipertahankan, antara lain, ukurannya lebih kecil, mengkerut, terdapat bekas gigitan dan bentuknya tidak normal.
Tujuan pemangkasan cabang yang berlebihan adalah untuk memaksa tanaman memusatkan hasil tenaga internalnya (tenaga dalam) demi perkembangan buah. Calon buah yang akan dipelihara di pilih dari calon buah yang paling baik, usahakan memilih calon buah yang bentuknya seragam, penampilannya sempurna dan tidak berkerut, letak calon buah relatif agak jauh dari pangkal batang utama, minimal 70 cm.
Sisa calon buah yang tidak terpilih kita buang dengan memotong tangkainya, Batang yang pertumbuhan daunnya terlalu panjang, dapat dipotong ujungnya.
Untuk mencegah terjadinya kerusakan buah yang menempel diatas tanah dan membuat warna kulit buah merata tanpa adanya bagian yang belanga akibat tidak terkena sinar matahari.
Buah yang tidak dibalik seringkali berlubang pada dasar buahnya akibat digerogoti oleh binatang ataupun jamur dan bakteri terutama bila sering terkena air hujan.
Pembalikan buah hanya dianjurkan sekali pada setiap periode penanaman yaitu setelah buah berukuran sebesar bola kaki atau beratnya ± 1,5 Kg. Pada saat pembalikan buah sebaiknya alas jerami pada tempat buah ditambah jerami baru. Dengan cara demikian walaupun tidak dilakukan pembalikan buah, buah tetap terjamin keadaannya, yaitu dengan syarat pada awal penanaman, tepatnya setelah bakal buah yang akan dipelihara terpilih, di bawah calon buah tersebut ditambah jerami kering.
Ciri-ciri semangka yang siap untuk dipanen
- Sulurnya kering
- Tangkai buahnya mengecil
- Daun sudah banyak yang kering
- Buah mengkilat
- Bila dikorok berbunyi nyaring
Setelah panen buahnya tidak bisa disimpan lama karena bisa pecah atau busuk, yang menyebabkan kerugian, oleh karena itu setelah buah di panen, buah digudang selama 1 malam atau bisa langsung dijual.
ANALISA BUDIDAYA KACANG TANAH (Arachis hypogea L) DI LAHAN KERING
1. Pendahuluan
Meskipun Indonesia telah berswasembada beras sejak tahun 1984, akan tetapi swasembada pangan masih belum tercapai. Salah satu komoditi yang masih rendah produktifitasnya ditingkat petani adalah kacang tanah. Upaya peningkatan produktivitas kacang tanah tidak bisa hanya menggantungkan diri pada hasil kacang tanah yang ditanam di lahan sawah, tetapi lahan kering atau tegalan memiliki peluang yang dapat dikembangkan sebagai penghasil kacang tanah yang potensial.
Masalah yang dihadapi lahan kering pada umumnya adalah tingkat kesuburan yang relatif rendah sehingga mengakibatkan produktifitasnya rendah pula. Untuk meningkatkan produktivitas ini, maka sistem bercocok tanamnya perlu disempurnakan dengan menerapkan teknologi budidaya kacang tanah yang dianjurkan. Dengan demikian akan dapat memberikan kontribusi lebih baik bagi petani dan keluarganva pada khususnya serta masyarakat pada umumnya.
2.Teknologi yang Dianjurkan
1.Persyaratan tumbuh
- Tumbuh baik pada ketinggian 0 - 500 m dpl
- Struktur tanah gembur dan drainase baik
- Keasaman (pH) tanah antara 6-6,5
- Dalam masa pertumbuhan memerlukan cahaya matahari yang cukup
- Tanaman yang masih muda memerlukan air cukup untuk pertumbuhan dan setelah
berumur 2,5 bulan kebutuhan akan air sudah mulai berkurang.
2.Benih
Varietas unggul yang dianjurkan antara lain : Gajah, Macan, Banteng, Tapir, Kelinci dan Mahesa, varietas-varietas ini tahan terhadap penyakit layu, karat dan bercak daun. Varietas lainnya yang sangat digemari oleh para petani adalah varietas lokal setempat.
3. Penyiapan lahan
- Tanah diolah dengan cara bajak 1 kali dan digaru 1kali
- Buatlah saluran drainase berjarak 3 - 4 meter membujur searah dengan barisan
tanaman
- Lebar saluran 30 cm dan dalam 25 cm
4. Waktu tanam
- Penanainan dilakukan segera setelah hujan turun cukup
- Perlu diupayakan supaya penanaman dilakukan serentak pada suatu hamparan
5. Cara tanam
- Biji ditugalkan dengan kedalaman 3 cm
- Jarak tanam 40 x 1 0 cm (2 biji/Iubang)
- Benih diperlukan sekitar 70 kg biji/ha
6. Pemeliharaan
a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan dosis Urea 50 kg/ha, Sp-36 100 kg/ha, dan KCL 50 kg/ha. Pupuk diberikan pada umur 10 - 15 hari setelah tanam dengan cara disebarkan dalam larikan antara barisan. Semua pupuk diberikan sekaligus. Pemupukan bisa juga dilakukan dengan cara disebar merata keseluruh areal sebelum tanam, asalkan kondisi lahan dalam keadaan lembab (macak-macak).
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada umur 3 minggu dan umur 6 minggu setelah tanam (tergantung keadaan rumput). c. Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama dan penyakit hendaknya menggunakan prinsip pengendalian hama terpadu. Hama yang sering menyerang tanaman kacang tanah adalah : pengerek daun (Stamopteryx subsecivella), pengisap daun (Empoasca) dan kutu daun (Tetranychus bimaculatus). Sedangkan penyakit yang sering menyerang antara lain: penyakit layu (bacterial wilt), bercak dawn (Leaf spot), sapu (Virus), mozaik (Mozaik disease), cendawan akar (Sclerotical disease) dan penyakit cendawan akar (Sclerotical blight)
7. Panen
Tanaman kacang tanah bisa dipanen antara umur 100 - 110 hari, dengan tanda tanda : kulit polong mengeras dan berwarna kehitaman, polong berisi penuh, kulit biji tipis mengkilat dan tidak berair serta sebagian besar daun telah rontok.
3. Analisa Ekonomi
Produksi yang dicapai dari hasil pengkajian Demonstrasi Penerapan Paket Teknologi Anjuran Budidaya Kacang Tanah sebagai Pengisi Lorong pada Penelitian Adaptif Budidaya Lorong di Desa Ntonggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima mencapai rata-rata 2,75 ton polong kering per hektar dengan analisa biaya dan keuntungan sebagai berikut:
Tabel Analisa Ekonomi
1. Biaya produksi perhektar
a. Benih 70 kg biji @ Rp. 6.000.- Rp. 420.000;
b. Tali rapia 1 roll @ Rp. 10.000,- Rp. 10.000,-
c. Pupuk :
a. Urea 50 kg @ Rp 1.100,- Rp. 55.000,-
b. Sp-36 100 kg @ Rp. 1.650.- Rp. 165.000,-
c. KCL 50 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 52.500,-
d. Tenaga kerja
d. Pembuatan drainase 10 HOK (a) Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
e. Penanaman 30 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 300.000,-
f. Pemupukan 2 HOK @ Rp. 10 000,- Rp. 20.000,-
g. Penyiangan 40 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 400.000,-
h. Panen 40 HOK @, Rp. 10.000; Rp. 400.000,-
i. Pascapanen 5 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 50.000;
e. Total biaya (1) Rp. 1.972.500,-
2. Penerimaan =2,75 ton @ Rp. 210.000, /kwt Rp. 5.775.000,-
3. Keuntungan =(2)-(1) Rp. 3.802.500,-
4. B/C Rasio = 2,93
4. Penutup
Demikian makalah singkat ini penulis susun seadanya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi berbagai pihak baik bagi penulis sendiri maupun bagi para petani atau siapapun yang membutuhkan sebagai bacaan penambah wawasan ataupun sebagai referensi penulisan ilmiah. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan karya tulis pada masa yang akan datang.
Dari berbagai sumber..
Meskipun Indonesia telah berswasembada beras sejak tahun 1984, akan tetapi swasembada pangan masih belum tercapai. Salah satu komoditi yang masih rendah produktifitasnya ditingkat petani adalah kacang tanah. Upaya peningkatan produktivitas kacang tanah tidak bisa hanya menggantungkan diri pada hasil kacang tanah yang ditanam di lahan sawah, tetapi lahan kering atau tegalan memiliki peluang yang dapat dikembangkan sebagai penghasil kacang tanah yang potensial.
Masalah yang dihadapi lahan kering pada umumnya adalah tingkat kesuburan yang relatif rendah sehingga mengakibatkan produktifitasnya rendah pula. Untuk meningkatkan produktivitas ini, maka sistem bercocok tanamnya perlu disempurnakan dengan menerapkan teknologi budidaya kacang tanah yang dianjurkan. Dengan demikian akan dapat memberikan kontribusi lebih baik bagi petani dan keluarganva pada khususnya serta masyarakat pada umumnya.
2.Teknologi yang Dianjurkan
1.Persyaratan tumbuh
- Tumbuh baik pada ketinggian 0 - 500 m dpl
- Struktur tanah gembur dan drainase baik
- Keasaman (pH) tanah antara 6-6,5
- Dalam masa pertumbuhan memerlukan cahaya matahari yang cukup
- Tanaman yang masih muda memerlukan air cukup untuk pertumbuhan dan setelah
berumur 2,5 bulan kebutuhan akan air sudah mulai berkurang.
2.Benih
Varietas unggul yang dianjurkan antara lain : Gajah, Macan, Banteng, Tapir, Kelinci dan Mahesa, varietas-varietas ini tahan terhadap penyakit layu, karat dan bercak daun. Varietas lainnya yang sangat digemari oleh para petani adalah varietas lokal setempat.
3. Penyiapan lahan
- Tanah diolah dengan cara bajak 1 kali dan digaru 1kali
- Buatlah saluran drainase berjarak 3 - 4 meter membujur searah dengan barisan
tanaman
- Lebar saluran 30 cm dan dalam 25 cm
4. Waktu tanam
- Penanainan dilakukan segera setelah hujan turun cukup
- Perlu diupayakan supaya penanaman dilakukan serentak pada suatu hamparan
5. Cara tanam
- Biji ditugalkan dengan kedalaman 3 cm
- Jarak tanam 40 x 1 0 cm (2 biji/Iubang)
- Benih diperlukan sekitar 70 kg biji/ha
6. Pemeliharaan
a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan dosis Urea 50 kg/ha, Sp-36 100 kg/ha, dan KCL 50 kg/ha. Pupuk diberikan pada umur 10 - 15 hari setelah tanam dengan cara disebarkan dalam larikan antara barisan. Semua pupuk diberikan sekaligus. Pemupukan bisa juga dilakukan dengan cara disebar merata keseluruh areal sebelum tanam, asalkan kondisi lahan dalam keadaan lembab (macak-macak).
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada umur 3 minggu dan umur 6 minggu setelah tanam (tergantung keadaan rumput). c. Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama dan penyakit hendaknya menggunakan prinsip pengendalian hama terpadu. Hama yang sering menyerang tanaman kacang tanah adalah : pengerek daun (Stamopteryx subsecivella), pengisap daun (Empoasca) dan kutu daun (Tetranychus bimaculatus). Sedangkan penyakit yang sering menyerang antara lain: penyakit layu (bacterial wilt), bercak dawn (Leaf spot), sapu (Virus), mozaik (Mozaik disease), cendawan akar (Sclerotical disease) dan penyakit cendawan akar (Sclerotical blight)
7. Panen
Tanaman kacang tanah bisa dipanen antara umur 100 - 110 hari, dengan tanda tanda : kulit polong mengeras dan berwarna kehitaman, polong berisi penuh, kulit biji tipis mengkilat dan tidak berair serta sebagian besar daun telah rontok.
3. Analisa Ekonomi
Produksi yang dicapai dari hasil pengkajian Demonstrasi Penerapan Paket Teknologi Anjuran Budidaya Kacang Tanah sebagai Pengisi Lorong pada Penelitian Adaptif Budidaya Lorong di Desa Ntonggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima mencapai rata-rata 2,75 ton polong kering per hektar dengan analisa biaya dan keuntungan sebagai berikut:
Tabel Analisa Ekonomi
1. Biaya produksi perhektar
a. Benih 70 kg biji @ Rp. 6.000.- Rp. 420.000;
b. Tali rapia 1 roll @ Rp. 10.000,- Rp. 10.000,-
c. Pupuk :
a. Urea 50 kg @ Rp 1.100,- Rp. 55.000,-
b. Sp-36 100 kg @ Rp. 1.650.- Rp. 165.000,-
c. KCL 50 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 52.500,-
d. Tenaga kerja
d. Pembuatan drainase 10 HOK (a) Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
e. Penanaman 30 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 300.000,-
f. Pemupukan 2 HOK @ Rp. 10 000,- Rp. 20.000,-
g. Penyiangan 40 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 400.000,-
h. Panen 40 HOK @, Rp. 10.000; Rp. 400.000,-
i. Pascapanen 5 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 50.000;
e. Total biaya (1) Rp. 1.972.500,-
2. Penerimaan =2,75 ton @ Rp. 210.000, /kwt Rp. 5.775.000,-
3. Keuntungan =(2)-(1) Rp. 3.802.500,-
4. B/C Rasio = 2,93
4. Penutup
Demikian makalah singkat ini penulis susun seadanya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi berbagai pihak baik bagi penulis sendiri maupun bagi para petani atau siapapun yang membutuhkan sebagai bacaan penambah wawasan ataupun sebagai referensi penulisan ilmiah. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan karya tulis pada masa yang akan datang.
Dari berbagai sumber..
Sunday, July 4, 2010
Teknik Penyusunan RDK dan RDKK
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-NYA penulis dapat menyusun Materi Pelatihan Petani yang berjudul “Teknik Penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)” ini. Salawat beriring Salam tak lupa penulis haturkan ke Haribaan Baginda Rasulullah yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Dalam kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bp. Yuswazir, SP selaku Kepala Kantor Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan Materi Pelatihan ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada ibu Ir. Masdalena selaku Kasie Informasi dan Penyuluhan Pertanian yang telah banyak membantu penulis hingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulih harapkan dari semua pihak untuk perbaikan penyusunan materi pelatihan di masa yang akan datang.
Akhirnya penulis berharap semoga materi pelatihan ini dapat bermanfaat untuk pembangunan pertanian khususnya di Aceh Barat Daya dan umumnya di Provinsi Aceh yang akhirnya akan mampu meningkatkan kemajuan pertanian Indonesia.
Blangpidie, 5 Juli 2010
Penulis
Mahyuddin, SP
NIP. 19790119 200504 1 001
I. PENDAHULUAN
1. Dasar
Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 273/Kpts/Ot.160/4/2007 Tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Lampiran 2 Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK) Dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK)
2. Latar Belakang
Program utama pembangunan pertanian yaitu: Peningkatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. Kedua program tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan pangan menuju Ketahanan Pangan Nasional maupun daerah, melalui tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu serta merata dengan harga terjangkau oleh seIuruh lapisan masyarakat di tingkat rumah tangga. Ketahanan pangan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Untuk mewujudkan program ketahanan pangan tersebut, khususnya penyediaan pangan, perlu disusun rencana/sasaran setiap tahun. Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian melalui musyawarah menyusun Rencana Definitif Kelompok (RDK) yang merupakan rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk satu periode 1 (satu) tahun berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.
RDK hendaknya dijabarkan lebih lanjut oleh kelompok tani dalam suatu Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota kelompok tani yang memerlukan maupun dari swadana petani. Pesanan berupa RDKK yang disusun melalui musyawarah anggota kelompok tani hendaknya disampaikan kepada Gabungan kelompok tani, Perusahaan Mitra (distributor pupuk dan benih) serta Perbankan (khusus untuk keperluan kredit) selambat-Iambatnya 1 (satu) bulan sebelum Musim Tanam, sehingga teknologi dapat diterapkan sesuai anjuran.
Oleh karena itu penyusunan RDKK yang dilaksanakan oleh kelompok tani secara serentak dan tepat waktu merupakan kegiatan strategis, sehingga perlu suatu gerakan untuk mendorong petani/ kelompok tani menyusun RDKK.
Mekanisme penyusunan RDKK harus memperhatikan keinginan para petani, namun mengingat kemampuan petani dalam menyusun perencanaan masih terbatas, maka penyuluh pertanian perlu mendampingi dan membimbing petani/kelompok dalam menyusunnya, sehingga rencana yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.
3. Tujuan
Pedoman penyusunan RDK dan RDKK bertujuan:
1. Meningkatkan peran kelompok tani dalam menyusun rencana kegiatan usahatani berkelompok;
2. Meningkatkan peran penyuluh pertanian dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.
3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai adalah :
1. Tersusunnya rencana kegiatan usahatani berkelompok yang baik sebagai pedoman anggota kelompok dalam melaksanakan kegiatan usahataninya,
2. Tersusunnya rencana kebutuhan sarana produksi pertanian dan permodalan sebagai pendukung kegiatan usahatani;
3. Terlaksana tugas dan fungsi penyuluh secara optimal dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.
4. Kata Kunci
1. Rencana Definitif Kelompok (RDK), adalah rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk 1 (satu), yang disusun melalui musyawarah dan berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani;
2. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) adalah rencana kebutuhan kelompok tani untuk 1 (satu) musim tanam yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok tani, meliputi kebutuhan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta modal kerja, untuk mendukung pelaksanaan RDK yang dibutuhkan oleh petani yang merupakan pesanan kelompok tani kepada gabungan kelompok tani atau lembaga lain (distributor sarana produksi dan perbankan);
3. Penyuluhan Pertanian, adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup;
4. Penyuluh Pertanian PNS adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkuppertanian, perikanan, kehutanan untuk melakukan kegiatan penyuluhan;
5. Pertanian (mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan), adalah seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat;
6. Usaha tani, adalah usaha di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan;
7. Petani, adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang;
8. Pekebun, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha perkebunan;
9. Peternak, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha peternakan;
10. Kontak tani adalah ketua atau mantan ketua kelompok tani yang masih aktif sebagai anggota kelompok dan diakui kepemimpinannya dalam menggerakkan anggota/petani untuk mengembangkan usahanya;
11. Kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota;
12. Gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha;
13. Pemberdayaan Kelompok, merupakan upaya memfasilitasi kelompok untuk menggunakan potensi dan kreatifitasnya sendiri dalam mencapai tujuan mensejahterakan petani anggotanya;
14. Intensifikasi Pertanian adalah upaya pengamalan ilmu dan teknologi dalam usahatani untuk meningkatkan Produktivitas dan efisiensi dengan memanfaatkan1 potensi tanaman, lahan, daya dan dana secara terpadu serta mempertahankan kelestarian sumberdaya alam.
II. PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK (RDK) DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK (RDKK)
1. Tata Cara Penyusunan RDK dan RDKK
1.1 Rencana Definitif Kelompok
Rencana Definitif Kelompok sebagai rencana kegiatan kelompok tani untuk 1 (satu) tahun yang berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.
Rencana defenitif kelompok disusun dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati rencana kegiatannya dalam pengelolaan usahatani antara lain ; pola tanam, sasaran areal tanam, sasaran produksi, sarana produksi dan permodalan, teknologi usahatani, jadwal kegiatan, pembagian tugas.
3. RDK dituangkan dalam bentuk format (terlampir) yang ditandatangani oleh ketua kelompok dan menjadi pedoman bagi anggota kelompok tani dalam menyelenggarakan kegiatan usahataninya.
1.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
RDKK sebagai dasar rencana pengadaan dan pelayanan dari GAPOKTAN. Dalam pelaksanaan penyusunan RDKK mengacu kepada RDK masing-masing kelompok dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDKK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati daftar kebutuhan sarana produksi 6 tepat (tepat jenis, jumlah, waktu, tempat, harga dan mutu) yang akan dibiayai secara swadana maupun kredit dari tiap anggota kelompok tani. Daftar yang disusun akan berfungsi sebagai pesanan kelompok tani kepada GAPOKTAN. RDKK selesai paling lambat 1 bulan sebelum jadwal tanam.
3. Meneliti kelengkapan RDKK dan penandatanganan RDKK oleh Ketua kelompok tani yang diketahui oleh Penyuluh Pertanian.
2. Materi RDK dan RDKK
2.1 Rencana Definitif Kelompok (RDK)
Materi RDK meliputi:
1) Pola tanam dan pola usahatani yang disusun atas dasar pertimbangan :
a. Aspek teknis, meliputi; agroekosistem dan teknologi;
b. Aspek ekonomi, meliputi ; permintaan pasar, harga, keuntungan usahatani;
c. Aspek sosial, meliputi ; kebijakan pemerintah, kerja sama kelompok tani dan dukungan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
2) Sasaran areal tanam dan produksi didasarkan atas;
a. Potensi wilayah kelompok tani;
b. Produktivitas dari masing-masing komoditi;
c. Kebutuhan konsumsi anggota kelompok dan permintaan pasar.
3) Teknologi usahatani,
a. Ketersediaan teknologi;
b. Rekomendasi teknologi;
4) Sarana produksi dan permodalan, didasarkan atas;
a. Luas areal usahatani kelompok tani;
b. Teknologi yang akan diterapkan;
c. Kemampuan permodalan anggota kelompok tani;
5) Jadwal kegiatan, mengacu kepada rencana kegiatan usahatani;
6) Pembagian tugas disesuaikan dengan kesediaan dan kesepakatan kelompok.
2.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
Materi RDKK terdiri dari :
1) Jenis dan luas masing-masing komoditi yang diusahakan
2) Perhitungan kebutuhan:
a. benih
b. pupuk
c. pestisida
d. biaya garap dan pemeliharaan
e. biaya panen dan pasca panen
3) Jadwal penggunaan sarana produksi (sesuai kebutuhan lapangan)
Masing-masing kebutuhan tersebut ditentukan jumlah maupun nilai uangnya dan diperinci yang akan dibiayai secara swadana dan kredit.
III. MEKANISME PELAKSANAAN RDKK
1. Mekanisme Pengajuan RDKK
Proses pengajuan RDKK baik swadana maupun kredit dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) RDKK yang telah disusun dibuat rangkap 3 (tiga), Lembar pertama disampaikan kepada GAPOKTAN sebagai pesanan sarana produksi pertanian dan permodalan, lembar ke-2 sebagai arsip penyuluh dan lembar ke-3 untuk arsip kelompok tani;
2) GAPOKTAN mengkompilasi RDKK dari kelompok tani dan menyampaikan hasilnya ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan;
3) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan melakukan verifikasi terhadap kompilasi RDKK dari GAPOKTAN sebelum diteruskan ke KPPKP atau Dinas Pertanian, apabila terdapat ketidaklengkapan RDKK tersebut dikembalikan ke GAPOKTAN untuk dilakukan perbaikan. Selanjutnya Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan meneruskan RDKK yang telah diverifikasi ke KPPKP atau Dinas Pertanian rangkap 2 (dua);
4) KPPKP atau Dinas Pertanian meneruskan setiap RDKK yang disampaikan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan ke unit pelayanan sarana produksi dan permodalan (distributor sarana produksi dan perbankan) setelah disetujui Pelaksana Kegiatan di KPPKP atau Dinas Pertanian. Disamping itu KPPKP atau Dinas Pertanian mengkompilasi RDKK yang telah masuk.
2. Mekanisme Penyaluran Sarana Produksi Pertanian dan Permodalan
2.1 Sarana Produksi Pertanian
Penyaluran sarana produksi dilakukan oleh distributor yang ditunjuk, langsung ke GAPOKTAN dengan tahapan sebagai berikut:
1) Atas dasar kompilasi RDKK yang diterima dari POSKO III, distributor menyusun rencana dan jadwal penyaluran sarana produksi dan selanjutnya dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) GAPOKTAN menginformasikan rencana dan jadwal penyaluran yang telah disepakati ke masing-masing POKTAN;
3) Atas dasar informasi GAPOKTAN, POKTAN menyiapkan anggotanya untuk menerima sarana produksi sesuai jadwal ditetapkan dan memenuhi kreteria 6 (enam) tepat.
Apabila Gapoktan belum mampu sebagai penyalur saprodi dapat bekerja sama dengan kios resmi yang sudah ada.
2.2 Permodalan
1) Penyalur kredit yang ditunjuk (perbankan) memverifikasi RDKK yang diterima dari POSKO III selanjutnya menyusun rencana dan jadwal pencairan kredit yang dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) Penyaluran dana kredit melalui GAPOKTAN, untuk selanjutnya menyelesaikan transaksi pengadaan sarana produksi dengan distributor. Dana kredit di luar sarana produksi diserahkan langsung kepada anggota kelompok melalui kelompok tani.
Teknis penyaluran sarana produksi dan permodalan diatur tersendiri bersama instansi terkait.
IV. GERAKAN PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RDK/ RDKK
1. Persiapan Penyusunan RDK dan RDKK
1) Sosialisasi manfaat dan kegunaan RDK bagi para petani, stakeholders lainnya untuk peningkatan dan pengembangan usaha tani;
2) Inventarisasi faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha tani di masing-masing wilayah;
3) Meningkatkan kemampuan pendamping ( penyuluh, kepala desa, tokoh masyarakat setempat);
4) Meningkatkan kemampuan anggota kelompok dalam menyusun RDK dan RDKK.
2. Pelaksanaan Gerakan RDK dan RDKK
1) Penyusunan RDK dilaksanakan secara serentak pada hari Krida Pertanian (Juni-Juli ) untuk perencanaan usaha tani musim tanam Oktober-Maret dan musim tanam April-September;
2) Penyusunan RDKK selesai dilaksanakan pada Bulan Agustus untuk kegiatan Musim Tanam Oktober-Maret dan Bulan Pebruari untuk kegiatan musim tanam April-September, kemudian disampaikan kepada GAPOKTAN;
3) Penyampaian RDKK ke GAPOKTAN sampai realisasi penyaluran sarana produksi dan kredit dilaksanakan dalam jangka waktu 1 bulan;
4) Penyaluran masing-masing jenis sarana produksi disesuaikan dengan kebutuhan lapangan;
5) Pelaksanaan kegiatan usaha tani dilaksanakan secara gerakan bersama dalam kelompok sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam RDK.
V. SUPERVISI DAN EVALUASI
1. Supervisi
Supervisi diselenggarakan secara terkoordinasi, berkala dan berkelanjutan, untuk memperlancar penyusunan RDK/RDKK serta gerakan-gerakannya mencapai sasaran yang diharapkan. Supervisi dilakukan secara bertingkat, yaitu :
1) Tim Supervisi Pusat melakukan supervisi ke Provinsi dalam rangka memantau sampai seberapa jauh penyusunan RDK/ RDKK dilaksanakan, permasalahan yang ada, serta saran pemecahannya di tingkat provinsi dan kabupaten/kota;
2) Tim supervisi provinsi melakukan supervisi ke kabupaten/kota dan kecamatan;
3) Tim supervisi kabupaten/kota melakukan supervisi ke kecamatan, desa dan kelompok tani;
4) Pembinaan gerakan penyusunan RDK/ RDKK dilakukan oleh :
a. Camat selaku Ketua Posko IV melakukan pembinaan agar gerakan penyusunan RDK/RDKK diwilayahnya berjalan lancar;
b. Anggota Posko IV lainnya membina GAPOKTAN yang ada diwilayah kerjanya sesuai Tupoksi masing-masing;
c. Penyuluh Pertanian membimbing penerapan teknologi usaha tani yang dianjurkan.
Tim supervisi di masing-masing tingkatan ditetapkan oleh Ketua POSKO.
2. Evaluasi dan Pelaporan
Evalusi dan pelaporan dilaksanakan secara berjenjang untuk mengetahui kemajuan dan permasalahan yang timbul dalam penyusunan serta pelaksanaan gerakan-gerakan RDK dan RDKK sebagai bahan perbaikan perencanaan dimasa yang akan datang.
VI. PENUTUP
Demikian sekilas tentang Penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Semoga bermanfaat bagi semua pihak dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Aceh Barat Daya khususnya dan di Nanggroe Aceh Darussalam pada umumnya. Sehingga pada gilirannya keberhasilan pembangunan pertanian secara nasional dapat terwujud.
Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-NYA penulis dapat menyusun Materi Pelatihan Petani yang berjudul “Teknik Penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)” ini. Salawat beriring Salam tak lupa penulis haturkan ke Haribaan Baginda Rasulullah yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Dalam kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bp. Yuswazir, SP selaku Kepala Kantor Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan Materi Pelatihan ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada ibu Ir. Masdalena selaku Kasie Informasi dan Penyuluhan Pertanian yang telah banyak membantu penulis hingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulih harapkan dari semua pihak untuk perbaikan penyusunan materi pelatihan di masa yang akan datang.
Akhirnya penulis berharap semoga materi pelatihan ini dapat bermanfaat untuk pembangunan pertanian khususnya di Aceh Barat Daya dan umumnya di Provinsi Aceh yang akhirnya akan mampu meningkatkan kemajuan pertanian Indonesia.
Blangpidie, 5 Juli 2010
Penulis
Mahyuddin, SP
NIP. 19790119 200504 1 001
I. PENDAHULUAN
1. Dasar
Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 273/Kpts/Ot.160/4/2007 Tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Lampiran 2 Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK) Dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK)
2. Latar Belakang
Program utama pembangunan pertanian yaitu: Peningkatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. Kedua program tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan pangan menuju Ketahanan Pangan Nasional maupun daerah, melalui tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu serta merata dengan harga terjangkau oleh seIuruh lapisan masyarakat di tingkat rumah tangga. Ketahanan pangan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Untuk mewujudkan program ketahanan pangan tersebut, khususnya penyediaan pangan, perlu disusun rencana/sasaran setiap tahun. Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian melalui musyawarah menyusun Rencana Definitif Kelompok (RDK) yang merupakan rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk satu periode 1 (satu) tahun berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.
RDK hendaknya dijabarkan lebih lanjut oleh kelompok tani dalam suatu Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota kelompok tani yang memerlukan maupun dari swadana petani. Pesanan berupa RDKK yang disusun melalui musyawarah anggota kelompok tani hendaknya disampaikan kepada Gabungan kelompok tani, Perusahaan Mitra (distributor pupuk dan benih) serta Perbankan (khusus untuk keperluan kredit) selambat-Iambatnya 1 (satu) bulan sebelum Musim Tanam, sehingga teknologi dapat diterapkan sesuai anjuran.
Oleh karena itu penyusunan RDKK yang dilaksanakan oleh kelompok tani secara serentak dan tepat waktu merupakan kegiatan strategis, sehingga perlu suatu gerakan untuk mendorong petani/ kelompok tani menyusun RDKK.
Mekanisme penyusunan RDKK harus memperhatikan keinginan para petani, namun mengingat kemampuan petani dalam menyusun perencanaan masih terbatas, maka penyuluh pertanian perlu mendampingi dan membimbing petani/kelompok dalam menyusunnya, sehingga rencana yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.
3. Tujuan
Pedoman penyusunan RDK dan RDKK bertujuan:
1. Meningkatkan peran kelompok tani dalam menyusun rencana kegiatan usahatani berkelompok;
2. Meningkatkan peran penyuluh pertanian dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.
3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai adalah :
1. Tersusunnya rencana kegiatan usahatani berkelompok yang baik sebagai pedoman anggota kelompok dalam melaksanakan kegiatan usahataninya,
2. Tersusunnya rencana kebutuhan sarana produksi pertanian dan permodalan sebagai pendukung kegiatan usahatani;
3. Terlaksana tugas dan fungsi penyuluh secara optimal dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.
4. Kata Kunci
1. Rencana Definitif Kelompok (RDK), adalah rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk 1 (satu), yang disusun melalui musyawarah dan berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani;
2. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) adalah rencana kebutuhan kelompok tani untuk 1 (satu) musim tanam yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok tani, meliputi kebutuhan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta modal kerja, untuk mendukung pelaksanaan RDK yang dibutuhkan oleh petani yang merupakan pesanan kelompok tani kepada gabungan kelompok tani atau lembaga lain (distributor sarana produksi dan perbankan);
3. Penyuluhan Pertanian, adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup;
4. Penyuluh Pertanian PNS adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkuppertanian, perikanan, kehutanan untuk melakukan kegiatan penyuluhan;
5. Pertanian (mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan), adalah seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat;
6. Usaha tani, adalah usaha di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan;
7. Petani, adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang;
8. Pekebun, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha perkebunan;
9. Peternak, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha peternakan;
10. Kontak tani adalah ketua atau mantan ketua kelompok tani yang masih aktif sebagai anggota kelompok dan diakui kepemimpinannya dalam menggerakkan anggota/petani untuk mengembangkan usahanya;
11. Kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota;
12. Gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha;
13. Pemberdayaan Kelompok, merupakan upaya memfasilitasi kelompok untuk menggunakan potensi dan kreatifitasnya sendiri dalam mencapai tujuan mensejahterakan petani anggotanya;
14. Intensifikasi Pertanian adalah upaya pengamalan ilmu dan teknologi dalam usahatani untuk meningkatkan Produktivitas dan efisiensi dengan memanfaatkan1 potensi tanaman, lahan, daya dan dana secara terpadu serta mempertahankan kelestarian sumberdaya alam.
II. PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK (RDK) DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK (RDKK)
1. Tata Cara Penyusunan RDK dan RDKK
1.1 Rencana Definitif Kelompok
Rencana Definitif Kelompok sebagai rencana kegiatan kelompok tani untuk 1 (satu) tahun yang berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.
Rencana defenitif kelompok disusun dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati rencana kegiatannya dalam pengelolaan usahatani antara lain ; pola tanam, sasaran areal tanam, sasaran produksi, sarana produksi dan permodalan, teknologi usahatani, jadwal kegiatan, pembagian tugas.
3. RDK dituangkan dalam bentuk format (terlampir) yang ditandatangani oleh ketua kelompok dan menjadi pedoman bagi anggota kelompok tani dalam menyelenggarakan kegiatan usahataninya.
1.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
RDKK sebagai dasar rencana pengadaan dan pelayanan dari GAPOKTAN. Dalam pelaksanaan penyusunan RDKK mengacu kepada RDK masing-masing kelompok dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDKK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati daftar kebutuhan sarana produksi 6 tepat (tepat jenis, jumlah, waktu, tempat, harga dan mutu) yang akan dibiayai secara swadana maupun kredit dari tiap anggota kelompok tani. Daftar yang disusun akan berfungsi sebagai pesanan kelompok tani kepada GAPOKTAN. RDKK selesai paling lambat 1 bulan sebelum jadwal tanam.
3. Meneliti kelengkapan RDKK dan penandatanganan RDKK oleh Ketua kelompok tani yang diketahui oleh Penyuluh Pertanian.
2. Materi RDK dan RDKK
2.1 Rencana Definitif Kelompok (RDK)
Materi RDK meliputi:
1) Pola tanam dan pola usahatani yang disusun atas dasar pertimbangan :
a. Aspek teknis, meliputi; agroekosistem dan teknologi;
b. Aspek ekonomi, meliputi ; permintaan pasar, harga, keuntungan usahatani;
c. Aspek sosial, meliputi ; kebijakan pemerintah, kerja sama kelompok tani dan dukungan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
2) Sasaran areal tanam dan produksi didasarkan atas;
a. Potensi wilayah kelompok tani;
b. Produktivitas dari masing-masing komoditi;
c. Kebutuhan konsumsi anggota kelompok dan permintaan pasar.
3) Teknologi usahatani,
a. Ketersediaan teknologi;
b. Rekomendasi teknologi;
4) Sarana produksi dan permodalan, didasarkan atas;
a. Luas areal usahatani kelompok tani;
b. Teknologi yang akan diterapkan;
c. Kemampuan permodalan anggota kelompok tani;
5) Jadwal kegiatan, mengacu kepada rencana kegiatan usahatani;
6) Pembagian tugas disesuaikan dengan kesediaan dan kesepakatan kelompok.
2.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
Materi RDKK terdiri dari :
1) Jenis dan luas masing-masing komoditi yang diusahakan
2) Perhitungan kebutuhan:
a. benih
b. pupuk
c. pestisida
d. biaya garap dan pemeliharaan
e. biaya panen dan pasca panen
3) Jadwal penggunaan sarana produksi (sesuai kebutuhan lapangan)
Masing-masing kebutuhan tersebut ditentukan jumlah maupun nilai uangnya dan diperinci yang akan dibiayai secara swadana dan kredit.
III. MEKANISME PELAKSANAAN RDKK
1. Mekanisme Pengajuan RDKK
Proses pengajuan RDKK baik swadana maupun kredit dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) RDKK yang telah disusun dibuat rangkap 3 (tiga), Lembar pertama disampaikan kepada GAPOKTAN sebagai pesanan sarana produksi pertanian dan permodalan, lembar ke-2 sebagai arsip penyuluh dan lembar ke-3 untuk arsip kelompok tani;
2) GAPOKTAN mengkompilasi RDKK dari kelompok tani dan menyampaikan hasilnya ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan;
3) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan melakukan verifikasi terhadap kompilasi RDKK dari GAPOKTAN sebelum diteruskan ke KPPKP atau Dinas Pertanian, apabila terdapat ketidaklengkapan RDKK tersebut dikembalikan ke GAPOKTAN untuk dilakukan perbaikan. Selanjutnya Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan meneruskan RDKK yang telah diverifikasi ke KPPKP atau Dinas Pertanian rangkap 2 (dua);
4) KPPKP atau Dinas Pertanian meneruskan setiap RDKK yang disampaikan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan ke unit pelayanan sarana produksi dan permodalan (distributor sarana produksi dan perbankan) setelah disetujui Pelaksana Kegiatan di KPPKP atau Dinas Pertanian. Disamping itu KPPKP atau Dinas Pertanian mengkompilasi RDKK yang telah masuk.
2. Mekanisme Penyaluran Sarana Produksi Pertanian dan Permodalan
2.1 Sarana Produksi Pertanian
Penyaluran sarana produksi dilakukan oleh distributor yang ditunjuk, langsung ke GAPOKTAN dengan tahapan sebagai berikut:
1) Atas dasar kompilasi RDKK yang diterima dari POSKO III, distributor menyusun rencana dan jadwal penyaluran sarana produksi dan selanjutnya dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) GAPOKTAN menginformasikan rencana dan jadwal penyaluran yang telah disepakati ke masing-masing POKTAN;
3) Atas dasar informasi GAPOKTAN, POKTAN menyiapkan anggotanya untuk menerima sarana produksi sesuai jadwal ditetapkan dan memenuhi kreteria 6 (enam) tepat.
Apabila Gapoktan belum mampu sebagai penyalur saprodi dapat bekerja sama dengan kios resmi yang sudah ada.
2.2 Permodalan
1) Penyalur kredit yang ditunjuk (perbankan) memverifikasi RDKK yang diterima dari POSKO III selanjutnya menyusun rencana dan jadwal pencairan kredit yang dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) Penyaluran dana kredit melalui GAPOKTAN, untuk selanjutnya menyelesaikan transaksi pengadaan sarana produksi dengan distributor. Dana kredit di luar sarana produksi diserahkan langsung kepada anggota kelompok melalui kelompok tani.
Teknis penyaluran sarana produksi dan permodalan diatur tersendiri bersama instansi terkait.
IV. GERAKAN PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RDK/ RDKK
1. Persiapan Penyusunan RDK dan RDKK
1) Sosialisasi manfaat dan kegunaan RDK bagi para petani, stakeholders lainnya untuk peningkatan dan pengembangan usaha tani;
2) Inventarisasi faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha tani di masing-masing wilayah;
3) Meningkatkan kemampuan pendamping ( penyuluh, kepala desa, tokoh masyarakat setempat);
4) Meningkatkan kemampuan anggota kelompok dalam menyusun RDK dan RDKK.
2. Pelaksanaan Gerakan RDK dan RDKK
1) Penyusunan RDK dilaksanakan secara serentak pada hari Krida Pertanian (Juni-Juli ) untuk perencanaan usaha tani musim tanam Oktober-Maret dan musim tanam April-September;
2) Penyusunan RDKK selesai dilaksanakan pada Bulan Agustus untuk kegiatan Musim Tanam Oktober-Maret dan Bulan Pebruari untuk kegiatan musim tanam April-September, kemudian disampaikan kepada GAPOKTAN;
3) Penyampaian RDKK ke GAPOKTAN sampai realisasi penyaluran sarana produksi dan kredit dilaksanakan dalam jangka waktu 1 bulan;
4) Penyaluran masing-masing jenis sarana produksi disesuaikan dengan kebutuhan lapangan;
5) Pelaksanaan kegiatan usaha tani dilaksanakan secara gerakan bersama dalam kelompok sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam RDK.
V. SUPERVISI DAN EVALUASI
1. Supervisi
Supervisi diselenggarakan secara terkoordinasi, berkala dan berkelanjutan, untuk memperlancar penyusunan RDK/RDKK serta gerakan-gerakannya mencapai sasaran yang diharapkan. Supervisi dilakukan secara bertingkat, yaitu :
1) Tim Supervisi Pusat melakukan supervisi ke Provinsi dalam rangka memantau sampai seberapa jauh penyusunan RDK/ RDKK dilaksanakan, permasalahan yang ada, serta saran pemecahannya di tingkat provinsi dan kabupaten/kota;
2) Tim supervisi provinsi melakukan supervisi ke kabupaten/kota dan kecamatan;
3) Tim supervisi kabupaten/kota melakukan supervisi ke kecamatan, desa dan kelompok tani;
4) Pembinaan gerakan penyusunan RDK/ RDKK dilakukan oleh :
a. Camat selaku Ketua Posko IV melakukan pembinaan agar gerakan penyusunan RDK/RDKK diwilayahnya berjalan lancar;
b. Anggota Posko IV lainnya membina GAPOKTAN yang ada diwilayah kerjanya sesuai Tupoksi masing-masing;
c. Penyuluh Pertanian membimbing penerapan teknologi usaha tani yang dianjurkan.
Tim supervisi di masing-masing tingkatan ditetapkan oleh Ketua POSKO.
2. Evaluasi dan Pelaporan
Evalusi dan pelaporan dilaksanakan secara berjenjang untuk mengetahui kemajuan dan permasalahan yang timbul dalam penyusunan serta pelaksanaan gerakan-gerakan RDK dan RDKK sebagai bahan perbaikan perencanaan dimasa yang akan datang.
VI. PENUTUP
Demikian sekilas tentang Penyusunan Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Semoga bermanfaat bagi semua pihak dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Aceh Barat Daya khususnya dan di Nanggroe Aceh Darussalam pada umumnya. Sehingga pada gilirannya keberhasilan pembangunan pertanian secara nasional dapat terwujud.
Tuesday, May 11, 2010
Mirip Cerita Cakeuk
Setidaknya aku ingin memberi bocoran sedikit, kekacauan-kecauan hidupku sekarang ini semuanya akibat ulah sepele si orang kaya. Sangat kecil dan sepele, tapi berakibat fatal dan membuat sebuah kisah panjang yang nyaris tiada habis – seperti ingi menegaskan bahwa diriku belum mati – dan cerita ini terus berlanjut. Ingat sebuah kisah cakeuk yang mirip dengan dengan cerita ini, dimana sebuah tingkah konyol dan sepele berbuntut panjang dan memakan korban berantai yang saling berkaitan. Aku ingin menceritakannya seperti ini.
Cakeuk si burung bermain di sebuah padang rumput yang luas, lalu bertemu dengan dengan sahabatnya sebatang rumput panjang yang semakin panjang hingga hampir melebihi batas panjang sebatang rumput.
”Kenapa panjang dikau, wahai rumput ?” Tanya Cakeuk
”Tidak ada lagi yang memakan aku, wahai Cakeuk.” Jawab sang rumput panjang.
Lalu Cakeuk terbang tinggi menjauh, melihat sesuatu yang mungkin saja bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh si rumput panjang. Di tengah hamparan padang rumput yang luas itu, matanya menari kian kemari menyapu setiap sudut tanah lapang yang di terpa sinar mentari sore. Di kejauhan sang Cakeuk melihat seekor kerbau sedang melamun gundah gulana. Perlahan Cakeuk turun dan hinggap tepat di depan sang kerbau, lalu berkata :
”Kenapa dirimu tidak memakan rumput panjang, wahai kerbau ?”
”Tidak ada lagi manusia yang mengembalai aku, wahai Cakeuk.” Jawab kerbau sedih.
Cakeuk merasa bertanggung jawab untuk mengungkap misteri itu, dia harus mampu memecahkan semua misteri yang sedang terjadi. Perlahan dia kembali terbang mengangkasa, tanpa beban karena menganggap semua biaya penerbangan keluar dari hasil keringat sendiri, bukan hasil mencuri, menipu apalagi korupsi. Matanya kembali jelalatan kesana kemari, melihat kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti, pinta-pinta sekaligus mendapat saksi.
Tiba-tiba sebuah senyuman terbersit di wajah sang Cakeuk, ketika matanya menatap seorang anak kecil yang sedang terduduk lesu di bawah sebatang pohon yang rindang. Sang Cakeuk perlahan turun dan menghampiri si anak, lalu menyapanya.
”Kenapa kamu tidak mengembalai kerbau, wahai anak kecil ?” Tanya Cakeuk.
”Perutku sakit, wahai Cakeuk.” Jawab sang anak sambil memegang perutnya.
Cakeuk pun bertanya pada perut sang anak.
”Kenapa kamu sakit, wahai perut ?”
”Bagaimana aku tidak sakit, wahai Cakeuk. Nasi yang masuk ternyata masih mentah.” Jawab sang perut.
Lalu Cakeuk bertanya pada nasi yang berada di dalam perut.
”Kenapa kamu mentah, wahai nasi ?”
”Bagaimana aku tidak mentah, wahai Cakeuk. Kayu bakar yang dipakai untuk memasak aku, ternyata basah.” Jawab nasi.
Cakeuk geleng-geleng kepala menghadapi kenyataan ini. Masalah semakin rumit dan korban semakin bertambah. Semangat dalam jiwanya semakin besar, nalurinya semakin tertantang, dia harus bisa memecahkan kasus ini secepat mungkin dan menekan biaya seminim mungkin. Tidak perlu harus membentuk pansus, karena hanya akan menghabiskan uang rakyat dengan percuma. Daripada digunakan untuk rapat dan honor Tim yang belum tentu bekerja serius, akan lebih baik uang itu digunakan untuk membangun rumah dhuafa atau memberikan modal usaha pedagang kecil di pasar sayur kota Blangpidie.
Cakeuk kembali terbang tinggi dengan sedikit beban di kepala, berupa tanggung jawab sebagai ketua sekaligus anggota tim. Dia menganggap ini kerja sosial, tanpa pandang bulu. Karena selain dirinya sampai sejauh ini tidak ada satupun dari korban yang mempunyai bulu seperti itu. Walau kasus sudah hampir terungkap, namun Cakeuk tidak buru-buru menetapkan tersangka.
To the point, dia langsung terbang dan mendarat dengan mulus di landasan kayu bakar. Setelah mengurus segala tetek bengek visa dan keimigrasian lainnya, dia langsung menuju kediaman kayu bakar. Waktu adalah uang, begitu prinsip Cakeuk. Tanpa banyak membuang waktu dia langsung bertanya pada kayu bakar yang berdiri berhimpitan di depannya.
”Kenapa kamu basah wahai kayu ?”
”Hujan turun sangat deras, hingga membasahi seluruh tubuhku.” Jawab kayu bakar jujur.
Cakeuk memalingkan mukanya dan menatap hujan yang datang bergerombolan. Sebuah rezim yang memegang prinsip main keroyok, sangat tidak pantas untuk ditiru, kecuali untuk gotong royong membersihkan lingkungan atau tempat ibadah. Atau untuk mencari orang hilang, menangkap pelaku mesum dan memerangi pelaku kejahatan.
Allahu Akbar..
Geram, Cakeuk bertanya pada hujan sambil sesekali membersihkan matanya yang basah akibat ulah anak buah sang hujan yang tiada henti membasahinya.
”Kenapa kamu turun, wahai hujan ?” Tanya sang Cakeuk.
”Kodok yang memintaku untuk turun, wahai Cakeuk.” Jawab hujan sekenanya, sambil terus berteriak lantang menyemangati anak buahnya untuk terus turun membasahi bumi dan segala isinya.
Cakeuk kembali mencatat semua temuan itu dan buru-buru menemui sang kodok di pinggiran sungai. Besar hatinya kasus ini akan terungkap pada sang kodok. Apalagi saat di temui di kediamannya si kodok sedang duduk santai di beranda belakang sambil ketawa-ketiwi melihat anak-anaknya yang sedang bermain di kolam renang pribadi. Orang kaya, batin Cakeuk.
Setelah mengucapkan salam khas kodok seadanya, Cakeuk masuk dan dukuk manis di bangku santai yang kosong di samping kodok, matanya ikut memperhatikan kelincahan berenang putera puteri kodok.
”Kenapa anda meminta hujan supaya turun, pak kodok ?” Tanya Cakeuk sambil menyodorkan Tape Recorder mini yang selalu dibawanya dan hanya dipakai untuk kodok-kodok seperti pak kodok ini.
”Sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu,” Jawab kodok sambil meraih gelas minuman yang tinggal separuh di meja kecil yang memisahkan mereka.
”Tapi karena ayam mematuk aku, terpaksa itu aku lakukan.” Lanjutnya, lalu diam.
Cakeuk terdiam, lalu pamit tanpa ingin menghabiskan banyak waktu pak kodok yang sangat berharga itu. Sudah jelas, bahwa ayam lah pokok permasalahan dari kasus ini.
Mencari ayam tidak begitu sulit, karena dia tak pernah keluar dari komunitasnya dan akan selalu seperti itu. Kecuali ayam yang di culik dan dibawa ke pasar untuk dijual pada pedagang spesialis ayam curian. Atau di bawa ke pinggir sungai, di bagian paling hulu untuk di sembelih dan makan gadang bersama teman-teman dari komunitas (kebanggaan) pemabuk.
Dari jauh, Cakeuk langsung berteriak keras sambil menatap wajah ayam tanpa berkedip.
”Kenapa kamu mematuk kodok, wahai ayam ?”
”Gara-gara burung elang yang duluan mematuk aku.” Ayam menjawab sebentar lalu pergi, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Merayu si betina.
Pikiran Cakeuk terus berjalan dan berpikir, tenyata yang di atas lah penyebab dari semua ini. Tanpa ragu Cakeuk terbang tinggi mencari yang di atas, karena dia bisa pastikan bahwa selain dirinya tak akan ada yang mampu menemui yang di atas itu, apalagi untuk menyeretnya ke pengadilan.
Burung elang terbang santai sendirian, matanya jelalatan melihat ke bawah. Sambil sesekali menukik turun lalu terbang lagi, tinggi.. Orang-orang yang di bawah selalu melihat pemandangan ini dengan hati senang. Saat elang semakin merendah, ada harapan besar bagi mereka. Setidaknya akan mendapat sebatang rokok kalau bersedia duduk dan mendengar banyolan si elang. Tanpa mereka sadar bahwa sesungguhnya si elang mencari mangsa.
Reputasi tinggi selama ini membuat Cakeuk di kenal oleh semua lapisan, sehingga dia bebas untuk menemui siapa saja. Tak terkecuali si elang, walau harus mewawancarainya sambil berjalan (maksudnya, terbang).
”Pak Elang.. Pak Elang.. Minta waktunya sedikti, pak..” Kata Cakeuk memohon.
Si Elang lalu memperlambat jalannya sambil menoleh, sebagai pertanda dia siap untuk diajukan pertanyaan.
”Benarkah bapak yang mematuk ayam, sehingga bla.. bla.. bla...” Tanya Cakeuk buru-buru.
Si Elang hanya tersenyum.
“Tanya pada si Gagak.” Katanya sambil kembali berjalan.
“Maaf, aku buru-buru..?” Katanya lagi sambil menutup pintu mobil.
Cakeuk terdiam sebentar, lalu pergi setelah mencatat fakta terbaru tadi.
Ternyata ada lagi yang di atas, yang lebih besar, yang lebih berkuasa, yang ikut andil dalam perkara ini. Aku pikir cuma rumput panjang yang tamak sendiri hingga dia panjang dan besar dan gendut. Punya rumah mewah, mobil mewah, apartemen dan segala macam.
Ach.. lagi-lagi tidak boleh berprasangka.
Cakeuk tidak segan untuk menemui si gagak, karena mereka sering bertemu dan berdiskusi. Membahas persoalan bangsa, baik berdua maupun dalam forum-forum resmi. Namun, Cakeuk merasa harus menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut dan akan menambah daftar korban serta kerugian meteril.
Di kediaman sang gagak, Cakeuk duduk terdiam dalam tempo waktu yang lama. Karena tak habis pikir dengan jawaban gagak. Semua rentetan peristiwa itu, yang andai di selesaikan oleh pansus akan menghabiskan uang rakyat milyaran rupiah, ternyata penyebabnya hanya satu.
“Galak-galak ku tak sigoe...!”
(suka-suka saja aku patuk sekali...)
Cakeuk si burung bermain di sebuah padang rumput yang luas, lalu bertemu dengan dengan sahabatnya sebatang rumput panjang yang semakin panjang hingga hampir melebihi batas panjang sebatang rumput.
”Kenapa panjang dikau, wahai rumput ?” Tanya Cakeuk
”Tidak ada lagi yang memakan aku, wahai Cakeuk.” Jawab sang rumput panjang.
Lalu Cakeuk terbang tinggi menjauh, melihat sesuatu yang mungkin saja bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh si rumput panjang. Di tengah hamparan padang rumput yang luas itu, matanya menari kian kemari menyapu setiap sudut tanah lapang yang di terpa sinar mentari sore. Di kejauhan sang Cakeuk melihat seekor kerbau sedang melamun gundah gulana. Perlahan Cakeuk turun dan hinggap tepat di depan sang kerbau, lalu berkata :
”Kenapa dirimu tidak memakan rumput panjang, wahai kerbau ?”
”Tidak ada lagi manusia yang mengembalai aku, wahai Cakeuk.” Jawab kerbau sedih.
Cakeuk merasa bertanggung jawab untuk mengungkap misteri itu, dia harus mampu memecahkan semua misteri yang sedang terjadi. Perlahan dia kembali terbang mengangkasa, tanpa beban karena menganggap semua biaya penerbangan keluar dari hasil keringat sendiri, bukan hasil mencuri, menipu apalagi korupsi. Matanya kembali jelalatan kesana kemari, melihat kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti, pinta-pinta sekaligus mendapat saksi.
Tiba-tiba sebuah senyuman terbersit di wajah sang Cakeuk, ketika matanya menatap seorang anak kecil yang sedang terduduk lesu di bawah sebatang pohon yang rindang. Sang Cakeuk perlahan turun dan menghampiri si anak, lalu menyapanya.
”Kenapa kamu tidak mengembalai kerbau, wahai anak kecil ?” Tanya Cakeuk.
”Perutku sakit, wahai Cakeuk.” Jawab sang anak sambil memegang perutnya.
Cakeuk pun bertanya pada perut sang anak.
”Kenapa kamu sakit, wahai perut ?”
”Bagaimana aku tidak sakit, wahai Cakeuk. Nasi yang masuk ternyata masih mentah.” Jawab sang perut.
Lalu Cakeuk bertanya pada nasi yang berada di dalam perut.
”Kenapa kamu mentah, wahai nasi ?”
”Bagaimana aku tidak mentah, wahai Cakeuk. Kayu bakar yang dipakai untuk memasak aku, ternyata basah.” Jawab nasi.
Cakeuk geleng-geleng kepala menghadapi kenyataan ini. Masalah semakin rumit dan korban semakin bertambah. Semangat dalam jiwanya semakin besar, nalurinya semakin tertantang, dia harus bisa memecahkan kasus ini secepat mungkin dan menekan biaya seminim mungkin. Tidak perlu harus membentuk pansus, karena hanya akan menghabiskan uang rakyat dengan percuma. Daripada digunakan untuk rapat dan honor Tim yang belum tentu bekerja serius, akan lebih baik uang itu digunakan untuk membangun rumah dhuafa atau memberikan modal usaha pedagang kecil di pasar sayur kota Blangpidie.
Cakeuk kembali terbang tinggi dengan sedikit beban di kepala, berupa tanggung jawab sebagai ketua sekaligus anggota tim. Dia menganggap ini kerja sosial, tanpa pandang bulu. Karena selain dirinya sampai sejauh ini tidak ada satupun dari korban yang mempunyai bulu seperti itu. Walau kasus sudah hampir terungkap, namun Cakeuk tidak buru-buru menetapkan tersangka.
To the point, dia langsung terbang dan mendarat dengan mulus di landasan kayu bakar. Setelah mengurus segala tetek bengek visa dan keimigrasian lainnya, dia langsung menuju kediaman kayu bakar. Waktu adalah uang, begitu prinsip Cakeuk. Tanpa banyak membuang waktu dia langsung bertanya pada kayu bakar yang berdiri berhimpitan di depannya.
”Kenapa kamu basah wahai kayu ?”
”Hujan turun sangat deras, hingga membasahi seluruh tubuhku.” Jawab kayu bakar jujur.
Cakeuk memalingkan mukanya dan menatap hujan yang datang bergerombolan. Sebuah rezim yang memegang prinsip main keroyok, sangat tidak pantas untuk ditiru, kecuali untuk gotong royong membersihkan lingkungan atau tempat ibadah. Atau untuk mencari orang hilang, menangkap pelaku mesum dan memerangi pelaku kejahatan.
Allahu Akbar..
Geram, Cakeuk bertanya pada hujan sambil sesekali membersihkan matanya yang basah akibat ulah anak buah sang hujan yang tiada henti membasahinya.
”Kenapa kamu turun, wahai hujan ?” Tanya sang Cakeuk.
”Kodok yang memintaku untuk turun, wahai Cakeuk.” Jawab hujan sekenanya, sambil terus berteriak lantang menyemangati anak buahnya untuk terus turun membasahi bumi dan segala isinya.
Cakeuk kembali mencatat semua temuan itu dan buru-buru menemui sang kodok di pinggiran sungai. Besar hatinya kasus ini akan terungkap pada sang kodok. Apalagi saat di temui di kediamannya si kodok sedang duduk santai di beranda belakang sambil ketawa-ketiwi melihat anak-anaknya yang sedang bermain di kolam renang pribadi. Orang kaya, batin Cakeuk.
Setelah mengucapkan salam khas kodok seadanya, Cakeuk masuk dan dukuk manis di bangku santai yang kosong di samping kodok, matanya ikut memperhatikan kelincahan berenang putera puteri kodok.
”Kenapa anda meminta hujan supaya turun, pak kodok ?” Tanya Cakeuk sambil menyodorkan Tape Recorder mini yang selalu dibawanya dan hanya dipakai untuk kodok-kodok seperti pak kodok ini.
”Sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu,” Jawab kodok sambil meraih gelas minuman yang tinggal separuh di meja kecil yang memisahkan mereka.
”Tapi karena ayam mematuk aku, terpaksa itu aku lakukan.” Lanjutnya, lalu diam.
Cakeuk terdiam, lalu pamit tanpa ingin menghabiskan banyak waktu pak kodok yang sangat berharga itu. Sudah jelas, bahwa ayam lah pokok permasalahan dari kasus ini.
Mencari ayam tidak begitu sulit, karena dia tak pernah keluar dari komunitasnya dan akan selalu seperti itu. Kecuali ayam yang di culik dan dibawa ke pasar untuk dijual pada pedagang spesialis ayam curian. Atau di bawa ke pinggir sungai, di bagian paling hulu untuk di sembelih dan makan gadang bersama teman-teman dari komunitas (kebanggaan) pemabuk.
Dari jauh, Cakeuk langsung berteriak keras sambil menatap wajah ayam tanpa berkedip.
”Kenapa kamu mematuk kodok, wahai ayam ?”
”Gara-gara burung elang yang duluan mematuk aku.” Ayam menjawab sebentar lalu pergi, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Merayu si betina.
Pikiran Cakeuk terus berjalan dan berpikir, tenyata yang di atas lah penyebab dari semua ini. Tanpa ragu Cakeuk terbang tinggi mencari yang di atas, karena dia bisa pastikan bahwa selain dirinya tak akan ada yang mampu menemui yang di atas itu, apalagi untuk menyeretnya ke pengadilan.
Burung elang terbang santai sendirian, matanya jelalatan melihat ke bawah. Sambil sesekali menukik turun lalu terbang lagi, tinggi.. Orang-orang yang di bawah selalu melihat pemandangan ini dengan hati senang. Saat elang semakin merendah, ada harapan besar bagi mereka. Setidaknya akan mendapat sebatang rokok kalau bersedia duduk dan mendengar banyolan si elang. Tanpa mereka sadar bahwa sesungguhnya si elang mencari mangsa.
Reputasi tinggi selama ini membuat Cakeuk di kenal oleh semua lapisan, sehingga dia bebas untuk menemui siapa saja. Tak terkecuali si elang, walau harus mewawancarainya sambil berjalan (maksudnya, terbang).
”Pak Elang.. Pak Elang.. Minta waktunya sedikti, pak..” Kata Cakeuk memohon.
Si Elang lalu memperlambat jalannya sambil menoleh, sebagai pertanda dia siap untuk diajukan pertanyaan.
”Benarkah bapak yang mematuk ayam, sehingga bla.. bla.. bla...” Tanya Cakeuk buru-buru.
Si Elang hanya tersenyum.
“Tanya pada si Gagak.” Katanya sambil kembali berjalan.
“Maaf, aku buru-buru..?” Katanya lagi sambil menutup pintu mobil.
Cakeuk terdiam sebentar, lalu pergi setelah mencatat fakta terbaru tadi.
Ternyata ada lagi yang di atas, yang lebih besar, yang lebih berkuasa, yang ikut andil dalam perkara ini. Aku pikir cuma rumput panjang yang tamak sendiri hingga dia panjang dan besar dan gendut. Punya rumah mewah, mobil mewah, apartemen dan segala macam.
Ach.. lagi-lagi tidak boleh berprasangka.
Cakeuk tidak segan untuk menemui si gagak, karena mereka sering bertemu dan berdiskusi. Membahas persoalan bangsa, baik berdua maupun dalam forum-forum resmi. Namun, Cakeuk merasa harus menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut dan akan menambah daftar korban serta kerugian meteril.
Di kediaman sang gagak, Cakeuk duduk terdiam dalam tempo waktu yang lama. Karena tak habis pikir dengan jawaban gagak. Semua rentetan peristiwa itu, yang andai di selesaikan oleh pansus akan menghabiskan uang rakyat milyaran rupiah, ternyata penyebabnya hanya satu.
“Galak-galak ku tak sigoe...!”
(suka-suka saja aku patuk sekali...)
Monday, April 12, 2010
SIGUPAI...
Sigupai adalah varietas unggul lokal yang menjadi andalan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Sigupai menjadi varietas lokal yang unggul karena aroma wangi yang semerbak terutama saat padi mulai berbunga, harum semerbak menyebar ke segala penjuru sawah. Gabah sigupai yang beraroma khas, rasa nasi sangat enak dan pulen, sehingga banyak diminati oleh masyarakat manapun yang pernah merasakannya. Namun belakangan seiring perkembangan teknologi masyarakat Aceh Barat Daya sudah jarang menanam sigupai, keengganan ini karena umur (masa panen) sigupai lebih lama dibanding dengan varietas unggul nasional banyak masuk ke Aceh Barat Daya, dengan menawarkan segala kemudahan dan masa panen yang pendek.
Ini setidaknya menjadi salah satu bukti keberhasilan penyuluhan pertanian di Kabupaten Aceh Barat Daya, masyarakat mulai meninggalkan pola lama dalam berusahatani dan mulai menggunakan teknologi dengan segala konsekuensi dan keunggulan-keunggulannya. Sigupai yang berumur lebih lama dibandingkan dengan benih unggul bersertifikat, membuat petani lebih memilih menanam benih baru tersebut karena mempertimbangkan hasil panen yang tidak jauh berbeda.
Sigupai bukan satu-satunya varietas unggul lokal di Aceh Barat Daya, karena selain sigupai juga ada padi Sunteng, padi Cantik Manih, Sirendeh, Sukam Rayek, Sukam Cut, Simua, Si Kuneng, Penataran, Barcelona dan lain-lain. Tetapi diantara semua varietas unggul tersebut, sigupai merupakan varietas yang paling unggul, karena rasa dan aromanya tidak bisa ditandingi oleh padi manapun juga.
Umur panen sigupai juga tidak terlalu lama dibandingkan dengan varietas lokal lainnya, seperti padi Simua yang berumur ± 9 bulan dan si Kuneng berumur ± 7 bulan. Tinggi tanaman padi sigupai juga tidak mencapai ± 2 meter seperti padi simua, dan batang sigupai juga tidak terlalu besar seperti halnya padi Si Kuneng yang diameternya bisa mencapai ± 2 Cm.
Walaupun varietas lainnya memiliki rasa yang lebih enak dibanding benih IR dan sejenisnya, namun rasa dan aromanya tetap belum mampu mengalahkan rasa dan aroma sigupai, karena itu sigupai merupakan varietas paling unggul diantara varietas unggulan lainnya di Aceh Barat Daya.
Sigupai termasuk salah satu jenis padi wangi atau harum (aromatic rice). Jenis lain padi aromatic rice ini banyak dikembangkan di beberapa tempat di Asia, yang terkenal di Indonesia adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang. Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto.
Varietas sigupai bisa dibudidakan di lahan basah seperti di sawah dan juga bisa ditanami di lahan kering (gogo) dan relatif toleran terhadap penggenangan seperti di sawah, sigupai sistem gogo ini ditanami di ladang dan gunung atau bukit. Sigupai ladang ini saat ini masih banyak terdapat di Nagan Raya, khususnya di Kecamatan Darul Makmur. Namun rasa dan aroma sigupai ini berbeda dengan sigupai asli Aceh Barat Daya.
Penyuluhan pertanian yang tujuannya untuk merubah perilaku petani dari cara pertanian lama / tradisional ke cara pertanian modern, membuahkan hasil yang sangat berarti dalam perkembangan sistem pertanian di Indonesia, termasuk di Kabupaten Aceh Barat Daya. Sistem panca usaha tani yang dianjurkan juga mulai dilaksanakan petani, setelah melihat hasil yang dicapai dengan sistem pertanian seperti ini, petani perlahan mulai berubah dan mulai meninggalkan cara-cara pertanian lama, mulai menggunakan pupuk dan benih bersertifikat, mulai meninggalkan adat istiadat lama dan yang sangat disayangkan, mulai meninggalkan sigupai.
Perlahan sigupai mulai langka di Aceh Barat Daya, petani lebih memilih untuk menanam bibit yang berumur lebih pendek (± 100 hari) dibandingkan sigupai yang berumur ± 5 bulan. Tahun-tahun selanjutnya sigupai mulai tidak ditemukan lagi di pasaran. Ini tentu saja sangat memerlukan perhatian serius dari semua pihak, agar sigupai tidak hilang dan punah seperti halnya padi Sunteng dan Sirendeh, seperti Sukam Cut dan Si Kuneng.
Sigupai kian sulit di cari, mencari sigupai sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami, Nasrun Yunan dalam Serambi (05 Februari 2008).
Ir. Muslim Hasan MSi dalam Harian Serambi Indonesia (29 Januari 2010) menyatakan bahwa padi jenis sigupai yang beraroma harum dan pulen yang menjadi icon Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) punah sudah. Kalaupun masih tersisa, pastilah dalam jumlah yang sangat terbatas dan varietasnya tak lagi murni.
Pemerintah Daerah dalam hal ini instansi terkait dipandang perlu mendorong petani untuk mengembangkan tanaman padi sigupai melalui program khusus, terarah, dan dibarengi insentif yang memadai, sehingga beras “aseli” Abdya ini tidak tinggal nama. Mengembalikan masa kejayaan padi sigupai bukan hal mustahil, meski tidak mudah. Untuk itu diperlukan intervensi pemerintah melalui program pemurnian benih, perlindungan areal sawah, dan pemberian insentif kepada petani yang bersedia membudidayakan padi sigupai ini.
Proses pemurnian benih sigupai relatif lama, bisa mencapai delapan sampai sepuluh kali tanam. Setiap kali panen, butiran padi sigupai yang berkualitas dipisahkan untuk ditanam pada tahap berikutnya. Di samping itu perlu dilakukan rekayasa genetik di laboratorium untuk memperpendek umur panen sigupai dari lima bulan menjadi tiga bulan saja, sehingga petani tertarik menanamnya, karena menguntungkan secara ekonomi.
Diperlukan juga perlindungan areal secara khusus, mengingat sigupai tidak kondusif ditanami pada satu hamparan dengan tanaman padi jenis lain, karena dikhawatirkan produksinya tidak asli lagi disebabkan penyerbukan silang. Selanjutnya, perlu diberikan insentif sebagai perangsang kepada petani yang bersedia mengembangkan padi sigupai sebagai varietas langka, tapi strategis. Areal persawahan tertentu yang ternyata cocok ditanami sigupai perlu terus dilindungi dan tidak dikonversi ke peruntukan lain. Untuk keberhasilan semuanya ini perlu intervensi pemerintah kabupaten.
Selain karena berumur lama, petani enggan menanam kembali sigupai karena ada sinyalemen bahwa sigupai akan kalah bila ditanami dalam komunitas padi varietas lain. Terlepas dari sekedar isu atau takhayul, namun ujicoba penanaman sigupai yang dilakukan di lahan basah ”Cot Seutui” Desa Keude Siblah Kecamatan Blangpidie tahun 2007, mengalami gagal panen. Selain itu petani yang mencoba menanam sigupai di lahan sawah biasa tanpa perlakuan khusus juga mengalami hal serupa, lebih buruk lagi sigupai yang ditanami disini tidak keluar malai, karena sistem pembuahan yang gagal.
Bangsawan Siregar, SP (2009) menyatakan bahwa kegagalan budidaya sigupai di lahan Cot Seutui Blangpidie, disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya benih sigupai yang ditanami itu bukan sigupai yang toleran terhadap penggenangan, karena benih tersebut didatangkan dari Kabupaten Nagan Raya, dimana mereka menanam sigupai ladang (gogo). Tentu saja membutuhkan perlakuan khusus untuk merubah benih padi gogo menjadi benih padi sawah. Sementara budidaya (pengembangan) sigupai di Cot Seutui hanya memakai sistem budidaya biasa.
Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama penyuluh pertanian, pemerintah daerah dan stake holder lainnya. Agar sigupai bisa kembali bangkit dan bisa dibudidayakan, sehingga pada gilirannya kelak sigupai akan kembali bersinar terang, harum mewangi mengitari bumi Aceh Barat Daya. Perhatian serius ini bukan saja di level penyuluh dan pemerintah daerah, akan tetapi perlu kiranya membangkitkan kembali motivasi petani agar mau membudidayakan sigupai, secara bergiliran atau serentak.
Pernyataan Kepala Kantor Penyuluhan dan Ketahanan Pangan ini setidaknya merupakan lanjutan dari amanat Undang-undang. Seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, Pasal 8 ayat (1) Pemulia yang menghasilkan varietas adalah pemulia atau orang atau badan hukum, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak Pemuliaan Varietas Tanaman berhak untuk mendapatkan imbalan yang layak dengan memperhatikan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari varietas tersebut.
Ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas Departemen Pertanian, sekaligus Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Deptan, Suyamto (2009) menyatakan bahwa Ribuan varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Ini dampak dari pemaksaan kepada petani untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies Indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan, penanaman padi varietas lokal tinggal 10-15 persen.
Dilihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, posisi Indonesia tidak seaman Amerika Serikat, yang memiliki 23.097 plasma nutfah padi, dan Filipina 90.000 plasma nutfah padi. Di Indonesia, hanya ada 3.800 jenis plasma nutfah yang terdaftar di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Departemen Pertanian.
Produksi benih padi Indonesia pun cenderung stagnan, yaitu 460.000 ton per tahun, sejak tahun 2000. Jumlah ini jauh di bawah produksi benih Vietnam, yang pada 2005 sudah mencapai 1.09 juta ton per tahun.
Tanpa komitmen bersama untuk melestarikan, kata Suyamto, dikhawatirkan padi varietas lokal akan punah. Padahal, varietas lokal mempunyai karakteristik tertentu hasil adaptasi dengan lahan pertanian setempat. Jika disilangkan dengan tepat berpotensi menghasilkan padi yang produktivitasnya tinggi, tanpa perlu biaya pemupukan dan pestisida.
Namun, petani didorong untuk menanam padi berbasis spesies Indika, yang umumnya ditanam di daerah basah Asia tropis dan subtropis, seperti China dan Jepang. Adapun padi Javanika hanya ditanam di Indonesia. Sebagian besar plasma nutfah yang ada di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian adalah varietas padi lokal, Javanika, dari seluruh Indonesia.
Sampai akhir 1960-an, turun- temurun petani masih menanam ribuan varietas padi lokal. Misalnya varietas Angkong, Bengawan, Engseng, Melati, Markoti, Longong, Rejung Kuning, Umbul-umbul, Tunjung, Rijal, Sri Kuning, Untup, Tumpang Karyo, Rangka Madu, Sawah Kelai, Tembaga, Tjina, dan ribuan varietas padi lokal asli Indonesia lainnya.
Sejak pemerintah mengadopsi tanaman padi spesies Indika, seperti IR-64, PB-5, PB-8, dan kini varietas unggul nasional Ciherang, IR-64, Cisantana, Cigeulis, Cibogo, dan lainnya, perlahan-lahan keberadaan varietas lokal tergusur. Apalagi, belakangan ini pemerintah melalui instansi terkait dan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan giat memperkenalkan padi hibrida ke petani.
Ir. Zulkifli Muhammad (2006), menyatakan bahwa butuh perhatian khusus untuk memurnikan kembali benih sigupai. Diantaranya dengan cara menyeleksi malai terbaik dalam areal budidaya sigupai, ditanami dan kembali dipilih. Sehingga akan didapatkan sigupai yang benar-benar unggul dan mempunyai kualitas tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit.
Asumsi yang berkembang tentang telah hilangnya keaslian sigupai ini sebenarnya hanya asumsi dari orang-orang yang memang tidak mengenal sigupai secara detail. Tidak mengenal bentuk fisik, marfologi tanaman, aroma dan segala seluk-beluk padi sigupai. Masyarakat tani yang pernah membudidayakan sigupai, tidak akan tertipu dengan sigupai palsu, karena mereka umumnya sangat mengerti keaslian sigupai walau hanya dengan melihat benih serta mencium aroma gabah tersebut.
Sehingga penulis sangat yakin bahwa sigupai yang saat ini ada di Aceh Barat Daya masih asli dan belum bercampur dengan varietas lain. Keaslian sigupai Aceh Barat Daya terjamin dan tidak / belum berubah karena (ketakutan) telah terjadi perkawinan silang dengan varietas lain yang ditanami dalam areal yang sama. Pengaruh angin dan hewan sawah disinyalir ikut berpengaruh dalam bercampurnya bunga sigupai dengan varietas lain saat terjadi penyerbukan. Untuk menjawab hal ini, tentu saja dibutuhkan sebuah penelitian khusus dengan menanam sigupai di areal sawah biasa dan menggunakan sistem lokal.
Menurut Ensiklopedia Indonesia (2010), setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea (bagian yang ditutupi) dan lemma (bagian yang menutupi) jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama.
Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam penanaman sigupai kita perlu mengetahui informasi tentang karakter genetik. Informasi genetik ini diperlukan salah satunya untuk mendapatkan hasil yang bagus seperti yang diharapkan. Informasi genetik ini berupa karakter kromosom beserta gen-gen yang terkandung di dalamnya yang menjadi ciri atau identitas genetik yang khas untuk suatu tanaman. Hal ini disebabkan identitas genetik yang lengkap dan jelas dari suatu tanaman memiliki arti penting dalam program pemulian, perlindungan plasma nutfah, maupun secara komersial. Untuk memperoleh identitas genetik padi kultivar perlu dilakukan penelitian katakter kromosomnya.
Karakter kromosom yang diamati dapat berupa jumlah kromosom, panjang lengan pendek (p), panjang lengan panjang (q), panjang absolut kromosom (p+q), indeks sentromer, ratio lengan panjang terhadap lengan pendek, dan rasio pasangan kromosom absolut terpanjang dan terpendek (R). Kemudian hasil pengamatan karakter-karakter kromosom yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk karyotype dan idiogram. Karyotype adalah keseluruhan kelompok sifat yang menunjukkan identifikasi dari suatu set kromosom yang khas.
Dilihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, posisi Indonesia tidak seaman Amerika Serikat, yang memiliki 23.097 plasma nutfah padi, dan Filipina 90.000 plasma nutfah padi. Di Indonesia, hanya ada 3.800 jenis plasma nutfah yang terdaftar di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Departemen Pertanian. Produksi benih padi Indonesia pun cenderung stagnan, yaitu 460.000 ton per tahun, sejak tahun 2000. Jumlah ini jauh di bawah produksi benih Vietnam, yang pada 2005 sudah mencapai 1.09 juta ton per tahun.
Tanpa komitmen bersama untuk melestarikan, dikhawatirkan padi varietas lokal akan punah. Padahal, varietas lokal mempunyai karakteristik tertentu hasil adaptasi dengan lahan pertanian setempat. Jika disilangkan dengan tepat berpotensi menghasilkan padi yang produktivitasnya tinggi, tanpa perlu biaya pemupukan dan pestisida.
Ini setidaknya menjadi salah satu bukti keberhasilan penyuluhan pertanian di Kabupaten Aceh Barat Daya, masyarakat mulai meninggalkan pola lama dalam berusahatani dan mulai menggunakan teknologi dengan segala konsekuensi dan keunggulan-keunggulannya. Sigupai yang berumur lebih lama dibandingkan dengan benih unggul bersertifikat, membuat petani lebih memilih menanam benih baru tersebut karena mempertimbangkan hasil panen yang tidak jauh berbeda.
Sigupai bukan satu-satunya varietas unggul lokal di Aceh Barat Daya, karena selain sigupai juga ada padi Sunteng, padi Cantik Manih, Sirendeh, Sukam Rayek, Sukam Cut, Simua, Si Kuneng, Penataran, Barcelona dan lain-lain. Tetapi diantara semua varietas unggul tersebut, sigupai merupakan varietas yang paling unggul, karena rasa dan aromanya tidak bisa ditandingi oleh padi manapun juga.
Umur panen sigupai juga tidak terlalu lama dibandingkan dengan varietas lokal lainnya, seperti padi Simua yang berumur ± 9 bulan dan si Kuneng berumur ± 7 bulan. Tinggi tanaman padi sigupai juga tidak mencapai ± 2 meter seperti padi simua, dan batang sigupai juga tidak terlalu besar seperti halnya padi Si Kuneng yang diameternya bisa mencapai ± 2 Cm.
Walaupun varietas lainnya memiliki rasa yang lebih enak dibanding benih IR dan sejenisnya, namun rasa dan aromanya tetap belum mampu mengalahkan rasa dan aroma sigupai, karena itu sigupai merupakan varietas paling unggul diantara varietas unggulan lainnya di Aceh Barat Daya.
Sigupai termasuk salah satu jenis padi wangi atau harum (aromatic rice). Jenis lain padi aromatic rice ini banyak dikembangkan di beberapa tempat di Asia, yang terkenal di Indonesia adalah ras 'Cianjur Pandanwangi' (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan 'rajalele'. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang. Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto.
Varietas sigupai bisa dibudidakan di lahan basah seperti di sawah dan juga bisa ditanami di lahan kering (gogo) dan relatif toleran terhadap penggenangan seperti di sawah, sigupai sistem gogo ini ditanami di ladang dan gunung atau bukit. Sigupai ladang ini saat ini masih banyak terdapat di Nagan Raya, khususnya di Kecamatan Darul Makmur. Namun rasa dan aroma sigupai ini berbeda dengan sigupai asli Aceh Barat Daya.
Penyuluhan pertanian yang tujuannya untuk merubah perilaku petani dari cara pertanian lama / tradisional ke cara pertanian modern, membuahkan hasil yang sangat berarti dalam perkembangan sistem pertanian di Indonesia, termasuk di Kabupaten Aceh Barat Daya. Sistem panca usaha tani yang dianjurkan juga mulai dilaksanakan petani, setelah melihat hasil yang dicapai dengan sistem pertanian seperti ini, petani perlahan mulai berubah dan mulai meninggalkan cara-cara pertanian lama, mulai menggunakan pupuk dan benih bersertifikat, mulai meninggalkan adat istiadat lama dan yang sangat disayangkan, mulai meninggalkan sigupai.
Perlahan sigupai mulai langka di Aceh Barat Daya, petani lebih memilih untuk menanam bibit yang berumur lebih pendek (± 100 hari) dibandingkan sigupai yang berumur ± 5 bulan. Tahun-tahun selanjutnya sigupai mulai tidak ditemukan lagi di pasaran. Ini tentu saja sangat memerlukan perhatian serius dari semua pihak, agar sigupai tidak hilang dan punah seperti halnya padi Sunteng dan Sirendeh, seperti Sukam Cut dan Si Kuneng.
Sigupai kian sulit di cari, mencari sigupai sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami, Nasrun Yunan dalam Serambi (05 Februari 2008).
Ir. Muslim Hasan MSi dalam Harian Serambi Indonesia (29 Januari 2010) menyatakan bahwa padi jenis sigupai yang beraroma harum dan pulen yang menjadi icon Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) punah sudah. Kalaupun masih tersisa, pastilah dalam jumlah yang sangat terbatas dan varietasnya tak lagi murni.
Pemerintah Daerah dalam hal ini instansi terkait dipandang perlu mendorong petani untuk mengembangkan tanaman padi sigupai melalui program khusus, terarah, dan dibarengi insentif yang memadai, sehingga beras “aseli” Abdya ini tidak tinggal nama. Mengembalikan masa kejayaan padi sigupai bukan hal mustahil, meski tidak mudah. Untuk itu diperlukan intervensi pemerintah melalui program pemurnian benih, perlindungan areal sawah, dan pemberian insentif kepada petani yang bersedia membudidayakan padi sigupai ini.
Proses pemurnian benih sigupai relatif lama, bisa mencapai delapan sampai sepuluh kali tanam. Setiap kali panen, butiran padi sigupai yang berkualitas dipisahkan untuk ditanam pada tahap berikutnya. Di samping itu perlu dilakukan rekayasa genetik di laboratorium untuk memperpendek umur panen sigupai dari lima bulan menjadi tiga bulan saja, sehingga petani tertarik menanamnya, karena menguntungkan secara ekonomi.
Diperlukan juga perlindungan areal secara khusus, mengingat sigupai tidak kondusif ditanami pada satu hamparan dengan tanaman padi jenis lain, karena dikhawatirkan produksinya tidak asli lagi disebabkan penyerbukan silang. Selanjutnya, perlu diberikan insentif sebagai perangsang kepada petani yang bersedia mengembangkan padi sigupai sebagai varietas langka, tapi strategis. Areal persawahan tertentu yang ternyata cocok ditanami sigupai perlu terus dilindungi dan tidak dikonversi ke peruntukan lain. Untuk keberhasilan semuanya ini perlu intervensi pemerintah kabupaten.
Selain karena berumur lama, petani enggan menanam kembali sigupai karena ada sinyalemen bahwa sigupai akan kalah bila ditanami dalam komunitas padi varietas lain. Terlepas dari sekedar isu atau takhayul, namun ujicoba penanaman sigupai yang dilakukan di lahan basah ”Cot Seutui” Desa Keude Siblah Kecamatan Blangpidie tahun 2007, mengalami gagal panen. Selain itu petani yang mencoba menanam sigupai di lahan sawah biasa tanpa perlakuan khusus juga mengalami hal serupa, lebih buruk lagi sigupai yang ditanami disini tidak keluar malai, karena sistem pembuahan yang gagal.
Bangsawan Siregar, SP (2009) menyatakan bahwa kegagalan budidaya sigupai di lahan Cot Seutui Blangpidie, disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya benih sigupai yang ditanami itu bukan sigupai yang toleran terhadap penggenangan, karena benih tersebut didatangkan dari Kabupaten Nagan Raya, dimana mereka menanam sigupai ladang (gogo). Tentu saja membutuhkan perlakuan khusus untuk merubah benih padi gogo menjadi benih padi sawah. Sementara budidaya (pengembangan) sigupai di Cot Seutui hanya memakai sistem budidaya biasa.
Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama penyuluh pertanian, pemerintah daerah dan stake holder lainnya. Agar sigupai bisa kembali bangkit dan bisa dibudidayakan, sehingga pada gilirannya kelak sigupai akan kembali bersinar terang, harum mewangi mengitari bumi Aceh Barat Daya. Perhatian serius ini bukan saja di level penyuluh dan pemerintah daerah, akan tetapi perlu kiranya membangkitkan kembali motivasi petani agar mau membudidayakan sigupai, secara bergiliran atau serentak.
Pernyataan Kepala Kantor Penyuluhan dan Ketahanan Pangan ini setidaknya merupakan lanjutan dari amanat Undang-undang. Seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, Pasal 8 ayat (1) Pemulia yang menghasilkan varietas adalah pemulia atau orang atau badan hukum, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak Pemuliaan Varietas Tanaman berhak untuk mendapatkan imbalan yang layak dengan memperhatikan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari varietas tersebut.
Ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas Departemen Pertanian, sekaligus Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Deptan, Suyamto (2009) menyatakan bahwa Ribuan varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Ini dampak dari pemaksaan kepada petani untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies Indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan, penanaman padi varietas lokal tinggal 10-15 persen.
Dilihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, posisi Indonesia tidak seaman Amerika Serikat, yang memiliki 23.097 plasma nutfah padi, dan Filipina 90.000 plasma nutfah padi. Di Indonesia, hanya ada 3.800 jenis plasma nutfah yang terdaftar di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Departemen Pertanian.
Produksi benih padi Indonesia pun cenderung stagnan, yaitu 460.000 ton per tahun, sejak tahun 2000. Jumlah ini jauh di bawah produksi benih Vietnam, yang pada 2005 sudah mencapai 1.09 juta ton per tahun.
Tanpa komitmen bersama untuk melestarikan, kata Suyamto, dikhawatirkan padi varietas lokal akan punah. Padahal, varietas lokal mempunyai karakteristik tertentu hasil adaptasi dengan lahan pertanian setempat. Jika disilangkan dengan tepat berpotensi menghasilkan padi yang produktivitasnya tinggi, tanpa perlu biaya pemupukan dan pestisida.
Namun, petani didorong untuk menanam padi berbasis spesies Indika, yang umumnya ditanam di daerah basah Asia tropis dan subtropis, seperti China dan Jepang. Adapun padi Javanika hanya ditanam di Indonesia. Sebagian besar plasma nutfah yang ada di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian adalah varietas padi lokal, Javanika, dari seluruh Indonesia.
Sampai akhir 1960-an, turun- temurun petani masih menanam ribuan varietas padi lokal. Misalnya varietas Angkong, Bengawan, Engseng, Melati, Markoti, Longong, Rejung Kuning, Umbul-umbul, Tunjung, Rijal, Sri Kuning, Untup, Tumpang Karyo, Rangka Madu, Sawah Kelai, Tembaga, Tjina, dan ribuan varietas padi lokal asli Indonesia lainnya.
Sejak pemerintah mengadopsi tanaman padi spesies Indika, seperti IR-64, PB-5, PB-8, dan kini varietas unggul nasional Ciherang, IR-64, Cisantana, Cigeulis, Cibogo, dan lainnya, perlahan-lahan keberadaan varietas lokal tergusur. Apalagi, belakangan ini pemerintah melalui instansi terkait dan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan giat memperkenalkan padi hibrida ke petani.
Ir. Zulkifli Muhammad (2006), menyatakan bahwa butuh perhatian khusus untuk memurnikan kembali benih sigupai. Diantaranya dengan cara menyeleksi malai terbaik dalam areal budidaya sigupai, ditanami dan kembali dipilih. Sehingga akan didapatkan sigupai yang benar-benar unggul dan mempunyai kualitas tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit.
Asumsi yang berkembang tentang telah hilangnya keaslian sigupai ini sebenarnya hanya asumsi dari orang-orang yang memang tidak mengenal sigupai secara detail. Tidak mengenal bentuk fisik, marfologi tanaman, aroma dan segala seluk-beluk padi sigupai. Masyarakat tani yang pernah membudidayakan sigupai, tidak akan tertipu dengan sigupai palsu, karena mereka umumnya sangat mengerti keaslian sigupai walau hanya dengan melihat benih serta mencium aroma gabah tersebut.
Sehingga penulis sangat yakin bahwa sigupai yang saat ini ada di Aceh Barat Daya masih asli dan belum bercampur dengan varietas lain. Keaslian sigupai Aceh Barat Daya terjamin dan tidak / belum berubah karena (ketakutan) telah terjadi perkawinan silang dengan varietas lain yang ditanami dalam areal yang sama. Pengaruh angin dan hewan sawah disinyalir ikut berpengaruh dalam bercampurnya bunga sigupai dengan varietas lain saat terjadi penyerbukan. Untuk menjawab hal ini, tentu saja dibutuhkan sebuah penelitian khusus dengan menanam sigupai di areal sawah biasa dan menggunakan sistem lokal.
Menurut Ensiklopedia Indonesia (2010), setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea (bagian yang ditutupi) dan lemma (bagian yang menutupi) jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama.
Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam penanaman sigupai kita perlu mengetahui informasi tentang karakter genetik. Informasi genetik ini diperlukan salah satunya untuk mendapatkan hasil yang bagus seperti yang diharapkan. Informasi genetik ini berupa karakter kromosom beserta gen-gen yang terkandung di dalamnya yang menjadi ciri atau identitas genetik yang khas untuk suatu tanaman. Hal ini disebabkan identitas genetik yang lengkap dan jelas dari suatu tanaman memiliki arti penting dalam program pemulian, perlindungan plasma nutfah, maupun secara komersial. Untuk memperoleh identitas genetik padi kultivar perlu dilakukan penelitian katakter kromosomnya.
Karakter kromosom yang diamati dapat berupa jumlah kromosom, panjang lengan pendek (p), panjang lengan panjang (q), panjang absolut kromosom (p+q), indeks sentromer, ratio lengan panjang terhadap lengan pendek, dan rasio pasangan kromosom absolut terpanjang dan terpendek (R). Kemudian hasil pengamatan karakter-karakter kromosom yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk karyotype dan idiogram. Karyotype adalah keseluruhan kelompok sifat yang menunjukkan identifikasi dari suatu set kromosom yang khas.
Dilihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, posisi Indonesia tidak seaman Amerika Serikat, yang memiliki 23.097 plasma nutfah padi, dan Filipina 90.000 plasma nutfah padi. Di Indonesia, hanya ada 3.800 jenis plasma nutfah yang terdaftar di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Departemen Pertanian. Produksi benih padi Indonesia pun cenderung stagnan, yaitu 460.000 ton per tahun, sejak tahun 2000. Jumlah ini jauh di bawah produksi benih Vietnam, yang pada 2005 sudah mencapai 1.09 juta ton per tahun.
Tanpa komitmen bersama untuk melestarikan, dikhawatirkan padi varietas lokal akan punah. Padahal, varietas lokal mempunyai karakteristik tertentu hasil adaptasi dengan lahan pertanian setempat. Jika disilangkan dengan tepat berpotensi menghasilkan padi yang produktivitasnya tinggi, tanpa perlu biaya pemupukan dan pestisida.
Kebijaksanaan Timur dan Barat
Tak ada manusia atau pun bangsa yang mampu terus bertahan tanpa didukung oleh sebuah gagasan yang luhur. (Fyodor Dostojevski)
Anggur kenikmatan yang berasal bukan dari kendi Tuhan hanya akan menambah rasa sakit dan memuakkan. (Jalalu’din Rumi)
Ingatlat bahwa nama seseorang bagi pemiliknya merupakan suara terindah dan terpenting dalam bahasa apapun juga (Dale Carnegie)
Menempuh perjalanan dengan penuh harapan adalah lebih baik daripada sekedar berjalan untuk sampai pada tujuan (James Jeans)
Manusia mencela ketidakadilan karena takut akan menjadi korban ketidakadilan tersebut dan bukan karena mereka tidak mau melakukannya (Plato)
Anda takkan tahu apa yang bisa anda lakukan sampai anda berani mencobanya (Henry James)
Keberhasilan dan Kekayaan berawal dari sebuah pemikiran (Napoleon Hill)
Apapun yang dapat anda lakukan, ataupun anda mimpikan segeralah memulainya. Didalam keberanian itu terdapat kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban (W.H Murray)
Tanpa teman yang sejati, seorang jutawan pun merupakan orang miskin (Forbes)
Langkah kecil bagi seseorang bisa jadi merupakan langkah besar bagi umat manusia (Neil Amstrong)
Beri saya tempat berpijak dan saya akan menggerakkan dunia (Archimedes)
Suatu karya besar tidak hanya diwujudkan dengan kekuatan tetapi juga dengan ketekunan dan daya tahan (Samuel Johnson)
Sumber : Sigupai_Net
Anggur kenikmatan yang berasal bukan dari kendi Tuhan hanya akan menambah rasa sakit dan memuakkan. (Jalalu’din Rumi)
Ingatlat bahwa nama seseorang bagi pemiliknya merupakan suara terindah dan terpenting dalam bahasa apapun juga (Dale Carnegie)
Menempuh perjalanan dengan penuh harapan adalah lebih baik daripada sekedar berjalan untuk sampai pada tujuan (James Jeans)
Manusia mencela ketidakadilan karena takut akan menjadi korban ketidakadilan tersebut dan bukan karena mereka tidak mau melakukannya (Plato)
Anda takkan tahu apa yang bisa anda lakukan sampai anda berani mencobanya (Henry James)
Keberhasilan dan Kekayaan berawal dari sebuah pemikiran (Napoleon Hill)
Apapun yang dapat anda lakukan, ataupun anda mimpikan segeralah memulainya. Didalam keberanian itu terdapat kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban (W.H Murray)
Tanpa teman yang sejati, seorang jutawan pun merupakan orang miskin (Forbes)
Langkah kecil bagi seseorang bisa jadi merupakan langkah besar bagi umat manusia (Neil Amstrong)
Beri saya tempat berpijak dan saya akan menggerakkan dunia (Archimedes)
Suatu karya besar tidak hanya diwujudkan dengan kekuatan tetapi juga dengan ketekunan dan daya tahan (Samuel Johnson)
Sumber : Sigupai_Net
Subscribe to:
Posts (Atom)
Putriku..
Saat pengambilan foto untuk Visa..
Putriku tercinta..
ponakan
Keren..