Tuesday, January 5, 2010

RENCANA KERJA PENYULUHAN PERTANIAN

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Sebagai negara agraris Indonesia menempatkan pertanian sebagai sektor sentral yang didukung oleh tersebarnya sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup sebagai petani dan tinggal di pedesaan. Dengan kondisi demikian maka diperlukan suatu upaya untuk membantu kelancaran pembangunan pertanian yaitu dengan adanya penyuluhan pertanian.

Wiriaatmadja (1977) mengartikan bahwa penyuluhan merupakan suatu sistem pendidikan (belajar-mengajar), yang dalam prakteknya mempergunakan cara-cara seperti peniruan, pembujukan dan propaganda. Cara perintah sedikit sekali dilakukan sementara paksaan malahan dihindarinya. Kadang-kadang keadaan masyarakat memerlukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan makna penyuluhan secara teoritis. Hal demikian terpaksa diterima asal saja untuk kepentingan seluruh masyarakat, tidak lama kelangsungannya dan tidak bersifat menambah kesukaran atau penderitaan dari yang sudah ada.

Pembangunan pertanian adalah merupakan bagian integral pembangunan nasional dalam pengoperasiannya untuk mewujudkan peningkatan dan peran sektor pertanian dalam mensejahterakan masyarakat melalui peningkatan pendapatan, perluasan lapangan kerja, mempertahankan swasembada pangan serta penganekaragaman hasil-hasil pertanian.

Peranan sektor pertanian yang bermakna sentral bagi perekonomian nasional tersebut, terbukti dalam perjalanan pembangunan nasional telah dapat memberikan hasil yang optimal bagi bangsa kita. Oleh karena itu kita berupaya untuk meningkatkan kemampuan petani-petani agar mereka mampu memproduksi hasil-hasil pertanian yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Keberhasilan pembangunan pertanian tidak terlepas dari faktor sumberdaya manusia pertaniannya itu sendiri sebagai pelaku pembangunan pertanian dan kelembagaan yang merupakan tempat kegiatan pembangunan pertanian yang menghubungkan antara penyuluh pertanian dengan anggota kelompok tani maupun sebagai media di dalam mempercepat penyampaian teknologi dan informasi pertanian.

Pentingnya metode penyuluhan dalam menunjang keberhasilan penyuluhan pertanian menjadi hal yang perlu untuk diketahui secara komprehensif melalui pengalaman secara langsung di lapangan sebagai perbandingan empiris dari teori yang telah didapatkan di bangku perkuliahan mengenai kegiatan penyuluhan.

2. Tujuan

Adapun tujuan membuat rencana kerja penyuluh pertanian lapangan antara lain sebagai berikut :

a. Wahana untuk mempersatukan keinginan dalam menjalankan kegiatan pertanian antara penyuluh dengan petani.

b. Panduan atau acuan dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

c. Bahan untuk evaluasi sejauh mana kegiatan penyuluh pertanian telah barjalan dan sekaligus mengetahui apa saja yang menjadi kendala dalam mencapai tujuan.

d. Sebagai bahan pertimbangan bagi penentu kebijakan Pemerintah Daerah dalam menyusun program pembangunan.

3. Sasaran

Adapun yang menjadi sasaran dalam pembuatan program ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk meningkatkan perilaku, sikap dan ketrampilan para petani yang telah tergabung dalam suatu wadah kelompok tani, sehingga mampu mengelola usahataninya dengan baik.

b. Dengan meningkatnya sumberdaya manusia pertanian diharapkan mampu meningkatkan produksi usahatani dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.


BAB II

KEADAAN UMUM WILAYAH

I. Biofisika

1. Deskripsi Wilayah

Wilayah kerja kunjungan dan supervisi Penyuluhan Pertanian adalah 3 Kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya, yaitu Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng.

Data luas areal wilayah kerja kunjungan dan supervisi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Daftar Luas Areal Wilayah kerja kunjungan dan supervisi Tahun 2009

No

Nama Kecamatan

Luas Lahan

Sawah

Pekarangan

Tegalan

Perkebunan







1

Kuala Batee

6.255

1.142

3.276

-

2

Jeumpa

680



-

3

Manggeng

2.507

2.039

1.431

-

Jumlah

8.762

3.181

4.707

0

Sumber : Katalog BPS, Kecamatan Dalam Angka, 2009

2. Karakteristik Tanah dan Air

Data keasaman tanah (pH) di wilayah Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng belum tersedia data yang konkrit, sebagai dugaan dengan merujuk kepada keadaan vegetasi yang dominan di ketiga Kecamatan tersebut sebagai berikut : pH 4,2 s/d 7,5, kemiringan 8,17 dan kedalaman gambut 1,5.

3. Curah Hujan Rata-rata

Curah hujan sangan berpengaruh dan berguna untuk menetapkan keputusan pola tanam dan pemilihan komoditi dan varietas serta mengetahui keadaan air sepanjang tahun. 2008 Rata-rata curah hujan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Curah Hujan Rata-rata

Tahun

Curah Hujan (mm)

Hari Hujan

(hr)

Bulan Basah

Bulan Kering

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

4144.7

4349.6

4307

3705

4397

2642

5181

3329

4235

3636.9

3994

3698.5

134

157

125

125

136

121

133

137

154

132

136

127

12

9

10

11

9

7

11

8

12

9

10

11

-

3

2

1

3

2

-

2

-

3

2

1

Jumlah

Rata-rata

47.619,7

3968.3

134.75

86,62

119

9,91

19

1,58

Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan 2008.

4. Luas Pemilikan Lahan

Adapun luas pemilikan lahan di Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng sebagai berikut :

Tabel 3. Luas Lahan Menurut Jenis Pengairan

No

Kecamatan

Luas ( Ha )

Teknis

Semi Teknis

Sederhana

Tadah Hujan

Jumlah

1

Kuala Batee

-

1.144

1.283

-

2.428

2

Jeumpa

-

5

813

-

818

3

Manggeng

-

1,008

617

-

1.625

Jumlah

0

2.157

1.900

-

4.053

Sumber : Katalog BPS, Kecamatan Dalam Angka, 2009

5. Luas Pemilikan Lahan Kering

Luas Pemilikan lahan kering dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Luas Pemilikan Lahan Kering

No

Kecamatan

Luas ( Ha )

Jumlah (Ha)

Pekarangan

Tegalan

Ladang/ Huma

Tidak Diusahakan

1

Kuala Batee

1,142

3,276

-

26,827

31,245

2

Jeumpa

10.142

-




3

Manggeng

2,039

1,431

-

5,481

8,951

Jumlah

13.323

4,707

0

32,245

40,196

Sumber : Katalog BPS, Kecamatan Dalam Angka, 2009

6. Sumber Daya Manusia

Dalam rangka pembangunan pertanian, selain sumber daya alam sebagai modal utama, sumber daya manusia merupakan faktor pendukung dalam upaya mempercepat proses peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Untuk mengorganisasi sumber daya manusia agar lebih berhasil guna perlu dibentuk dalam wadah kelompok tani.

Sumber daya manusia sangat mempengaruhi dalam kegiatan pertanian. Dalam hal ini sumber daya manusia sebagai pelaku. Pembangunan sangat tergantung pada aspek jumlah sumber daya manusia dan mutu sumber daya manusianya. Data jumlah penduduk dan jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Data Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan.

No

Nama Kecamatan

Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan

Industri RT

Petani

Nelayan

Pedagang

Pegawai

Swasta

Lainnya

1

2

3

Kuala Batee

Jeumpa

Manggeng

52

58

-

2.884

1.354

1.188

53

54

387

375

184

364

224

136

261

295

581

600

160

49

287

Jumlah

110

5.426

494

923

621

1.476

496

Sumber : Katalog BPS, Kecamatan Dalam Angka, 2009

Tabel 6. Data Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

No

Nama Kecamatan

Laki-laki

Perempuan

Jumlah (jiwa)

1

2

3

Kuala Batee

Jeumpa

Manggeng

8.725

4.792

6.686

9.466

4.865

6.767

18.791

9.657

13.453

Jumlah

20.203

21.098

41.901

Sumber : Katalog BPS, Kecamatan Dalam Angka, 2009

7. Karakteristik Kelompok Tani

Jumlah kelompok tani yang sudah terbentuk di Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng terdapat 110 kelompok tani. Dalam rangka menuju pertanian yang teguh dan mandiri, maka perlu mendapat perhatian dalam hal kelas kelompok tani dan pembinaan yang memadai untuk meningkatkan sumber daya kelompok tani.

Adapun data kelas kelompok tani dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Kelompok Tani Menurut Kelas Kelompok.

NO

Kecamatan

KELOMPOK TANI MENURUT KELAS

KET

PEMULA

LANJUT

MADYA

UTAMA

JUMLAH









1

Kuala Batee

22

39

6

4

71


2

Jeumpa


6

3

1

10


3

Manggeng

8

11

7

3

29










Jumlah

30

56

16

8

110


BAB III

MASALAH DAN PEMECAHANNYA

1. Masalah

Masalah yang dimaksud disini adalah kesenjangan antara keadaan dengan tujuan yang ingin dicapai. Masalahnya yang terjadi di lapangan secara umum dapat ditinjau dari aspek ekonomi, teknis dan sosial.

Dalam hal ini ada beberapa masalah yang dihadapi para petani dalam mengelola usahataninya sebagai berikut :

a. Masalah lemahnya permodalan para petani dalam berusahatani.

b. Masih kurangnya kesadaran petani dalam hal pola tanam serentak khusus tanaman padi, sehingga tanaman sering diserang hama.

c. Kerjasama di tingkat anggota tani dalam kelompok masih kurang.

d. Masih kurang yakinnya petani dalam keberhasilan program go organik, sehingga mereka enggan melaksanakan pertanian organik.

e. Masih kurang kesadaran petani dalam mencari informasi baru.

2. Pemecahannya

Untuk keberhasilan program kerja penyuluhan pertanian di wilayah Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng , maka diperlukan upaya-upaya pemecahan masalah yang timbul dalam satu tahun anggaran secara berkesinambungan. Upaya-upaya pemecahan masalah yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Untuk membantu permodalan para petani diupayakan melalui dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dan Program-program lain yang bisa diusahakan serta perlu juga ada tabungan kelompok tani.

b. Adanya kesepakatan dalam hal penanaman serentak yang disepakati oleh keujreun blang dan ditindaklanjuti di tingkat Kecamatan oleh Muspika agar tercapai penanaman serentak.

c. Melakukan kunjungan dan memberikan bimbingan kepada anggota tani yang bernaung di wadah kelompok tani.

d. Memberikan Pelatihan-pelatihan kepada petani tentang pola Sistem of Rice Intentification (SRI) / Acong organic serta mempraktekkannya langsung sehingga para petani yakin dan mau melaksanakannya di masa-masa mendatang.

e. Memberikan dorongan kepada kelompok tani agar mau mencari informasi baru melalui penyuluhan secara terus menerus.

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Penyusunan Rencana Kerja Penyuluhan Pertanian wilayah Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Manggeng pada tahun 2009 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

a. Rencana kerja penyuluhan pertanian ini merupakan pedoman dan petunjuk arah dalam penyelenggaraan tugas-tugas penyuluh di lapangan.

b. Rencana kerja ini sebagai pedoman dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan juga sebagai tolak ukur sejauh mana kegiatan penyuluh pertanian telah berjalan dan permasalahan apa saja yang dihadapi selama satu tahun anggaran dan mengevaluasi tahun yang akan datang.

2. Saran

Program kerja ini telah disusun dengan segala kemampuan yang ada. Namun masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu diharapkan dari instansi terkait agar dapat mendukung demi terwujudnya rencana kerja yang lebih sempurna.


MEMPERBAIKI KUALITAS CABE KERING

Capsicum Annum L

1. Pendahuluan

Produk pertanian merupakan produk yang tidak tahan lama, sehingga setelah proses pemanenan selesai, produk pertanian harus segera dijual agar tidak busuk, apalagi tanpa dilakukan penanganan pasca panen dengan baik

Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung, kedelai dan lain-lain. Sedangkan proses pengeringan yang sesuai dengan standara mutu nasional ataupun ekspor sangat jarang dilakukan kalau tak ingin dikatakan tak pernah sama sekali. Apalagi untuk proses penanganan lebih lanjut dengan membuat produk-produk baru dari hasil pertanian, seperti pembuatan jus mangga, jus jeruk, dan lain-lain.

Keadaan yang seperti ini menyebabkan produk-produk pertanian yang seharusnya bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi atau bisa disimpan lama untuk menanti celah harga pasar meningkat lebih tinggi dari harga sekarang justru harus direlakan untuk dijual dengan harga rendah. Hal ini terjadi karena kecenderungan harga produk pertanian menurun drastis pada saat panen, terutama pada saat panen serentak.

Berdasarkan hal tersebut, disini penulis mencoba memaparkan tema pananganan pasca panen dengan judul “Memperbaiki Kualitas Cabe Kering.” Yang dimaksud dengan cabe kering ialah buah cabe tua dan masak yang utuh dari tanaman cabe merah (Capsicum Annum L Var Longum L) yang dikeringkan dan dibuang tangkainya.

2. Materi

Usaha agribisnis cabe sangat menguntungkan karena tingkat pengembalian modal yang cepat. Namun sebenarnya, dibalik semua itu akan menampilkan resiko yang sangat tinggi. Resiko yang paling rawan dihadapi petani adalah serangan hama penyakit dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Semua resiko tersebut dapat diminimalkan jika kita banyak belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun orang lain.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan resiko tersebut adalah mengetahui peta pasar, membaca musim, mengetahui berbagai hama dan penyakit, menguasai teknik budidaya, memperkirakan harga musiman, menentukan jadwal panen, memakai benih yang sesuai dengan karakteristik lahan, permintaan pasar dan penanganan pasca panen.

Penanganan pasca panen cabe hampir dikatakan belum sepenuhnya dilaksanakan para petani karena terbatasnya pengetahuan dan fasilitas. Selain itu, kejelasan spesifikasi produk yang diinginkan konsumen tidak diketahui secara jelas oleh petani. Spesifikasi produk hanya diketahui oleh pedagang pengumpul. Keadaan ini menyebabkan daya tawar petani lebih rendah daripada daya tawar pedagang pengumpul.

Kerusakan buah cabe secara mekanis, fisiologis dan fisik lebih sering disebabkan oleh pengelola yang kurang cermat dan hati-hati dalam penanganan pasca panen. Kerusakan mekanis paling dominan terjadi pada saat pemetikan, pengangkutan, penanganan saat bongkar muat serta tidak adanya packaging atau wadah yang baik dalam pengangkutan.

Cabe kering yang dijual di pasaran atau bahkan yang di ekspor ke luar negeri pada umumnya dikumpulkan dari hasil pengeringan yang dilakukan oleh para petani dan para pengumpul khusus yang dilakukan di sentra produksi cabe. Para pedagang pengumpul ini membeli cabe basah pada petani dan melakukan proses pengeringan sendiri. Pengeringan pada umumnya dilakukan dengan mempergunakan panas sinar matahari tanpa mengalami perlakuan khusus dan memakan waktu selama 7 – 10 hari.

Cabe segar setelah diangkut ke tempat pengumpulan, langsung dihamparkan di atas tanah yang diberi alas tikar atau kepang atau di atas tempat penjemuran khsusus berupa lantai. Pekerjaan sortasi sebelum penjemuran jarang dilakukan dan biasanya dikerjakan setelah cabe kering.

Cabe kering yang berasal dari buah cabe yang kurang sempurna tingkat kematangannnya (masih kehijau-hijauan) akan menghasilkan cabe kering berwarna keputih-putihan. Sedangkan pada bagian buah yang kedapatan busuk akan menghasilkan warna kehitam-hitaman.

Sebelum cabe kering dijual atau bahkan di ekspor hendaknya dilakukan suatu kegiatan “Reprocessing” terhadap cabe kering yang keadaannya masih kurang memenuhi syarat tingkat kekeringannya dengan jalan dijemur dan selain itu perlu diadakan pemilihan ulang yang dititik beratkan kepada kualitasnyta dengan memisahkan cabe kering yang mempunyai kelainan atau cacat dan kotoran-kotoran yang terdapat di padanya.

Care yang dikeringkan tanpa suatu perlakuan khusus sebelumnya akan mengalami perubahan warna setelah disimpan selama 3 bulan di dalam suhu kamar biasa. Warna cabe kering yang kemerah-merahan dapat dipertahankan lebih lama lagi dengan j alan mencelup cabe segar sebelum dijemur ke dalam air mendidih yang mengandung Kalium Metabisulfit 0,2 % selama 6 menit yang kemudian disusul dengan pencelupan ke dalam air dingan sebelum cabe dikeringkan.

Dengan menggunakan alat pengering pada suhu 60˚ C cabe dapat dikeringkan dan waktu 12 – 20 jam. Kebaikan dari pemakaian alat pengering antara lain waktu pengeringan dipersingkat, lebih hygienis atau bersih dan kadar air yang dikandung dalam cabe kering dapat ditekan seminim mungkin (10%).

Penyimpanan cabe kering sebaiknya dilakukan di dalam kantong atau karung plastik yang tertutup rapat dan kemudian menyimpannya di dalam suatu ruangan atau tempat yang keadaannya kering atau yang kelembaban udaranya rendah (70%). Proses fisiologi tetap dipertahankan tetapi lajunya harus dikurangi, dengan menekan tingkat respirasi, yaitu mengatur temperatur dan kelembaban udara di sekelilingnnya dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sistem udaranya terkendali.

Pengemasan juga perlu dilakukan yang bertujuan untuk melindungi mutu produk cabe dari kerusakan mekanis, fisik dan fisiologis pda saat handling, pengangkutan dan bongkar muat. Kemasah yang ideal harus kuat, memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah di-handle, aman dan ekonomis. Wadah kemasan dapat dibuat secara tradisional berupa keranjang bambu atau rotan, karung plastik, kotak kayu, kotak bahan plastik, karung plastik polietilen dan kardus berpentilasi.

Dengan demikian, setelah kualitas cabe kering yang dihasilkan petani lebih bagus, diharapkan mampu mendongkrak harga pasar sehingga pendapatan petani meningkat yang pada gilirannya kesejahteraan petani akan tercapai. Kualitas cabe kering yang bagus dan mempunyai standar mutu ekspor selain mampu menambah in come petani itu sendiri juga bisa mengurangi angka pengangguran, karena perlakuan atau proses pengeringan cabe yang kontinyu akan menerlukan tenaga kerja lebih, selain tenaga kerja dalam proses budidaya tentunya.

3. Kesimpulan dan Saran

a. Kesimpulan

Penanganan pasca panen yang baik akan menghasilkan kualitas produk pertanian yang berkualitas baik dan mempunyai daya simpan yang lama. Sehingga animo yang selama ini bahwa produk pertanian adalah produk yang tidak tahan lama sehingga para petani buru-buru menjual hasil pertanian meski dengan harga yang rendah tidak lagi terjadi.

Harga cabe yang terus berfluktuasi akan bisa diatasi dengan telah dilakukan proses penanganan pasca panen. Sehingga kesehteraan petani dan keluarga tani akan tercapai. Angka pengangguran juga dapat dikurangi dengan bertambahnya tenga kerja pada proses penanganan pra panen dan pada saat proses penanganan pasca panen.

b. Saran

Penulis mengharapkan adanya campur tangan Pemerintah Daerah dan pihak swasta dalam memberdayakan petani, terutama dengan lebih banyak memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada petani tentang pentingnya penanganan pasca panen. Selain itu penulis juga mengharapkan peran aktif teman-teman mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran petani dalam mengelola produk-produk pertanian menjadi produk yang tahan lama dan mempunyai harga jual yang lebih tinggi.

4. Penutup

Demikian makalah singkat ini penulis susun dengan gaya dan tata bahasa yang sederhana. Besar harapan penulis makalah ini bermanfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi para petani atau siapapun yang membutuhkan referensi tentang pengolahan pasca panen cabe. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan penulisan karya tulis bagi penulis pada masa yang akan datang.

Sumber : 1. Warta Penelitian dan Pengembangban Pertanian, Departemen Pertanian RI.

2. Intrademarket.com

PENANGANAN PASCA PANEN CABE HIBRIDA

PENANGANAN PASCA PANEN CABE HIBRIDA

Capsicum Annum L

I. Pendahuluan

Tanaman cabe yang ditanam petani pada mulanya berkembang secara alami. Setelah itu, para pemulia tanaman mengembangkan dan memperbaikinya, baik melalui seleksi negatif maupun seleksi positif, dengan proses pembentukan karakteristik cabe. Untuk memenuhi permintaan cabe, baik kualitas maupun kuantitasnya, para ahli telah menciptakan cabe dengan keunggulan-keunggulan tertentu yang menguntungkan para petani sebagai produsen dan para konsumen. Cabe baru yang tercipta tersebut umumnya mampu berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan cabe biasa dan umurnya genjah (cepat dipanen). Jenis cabe seperti ini, baik cabe merah besar, cabe keriting, maupun cabe rawit, biasa disebut cabe hibrida.

Cabe hibrida dihasilkan melalui persilangan dua induk cabe yang merupakan galur murni dan memiliki sifat-sifat unggul. Hasil persilangan tersebut menurunkan efek heterosis dan memiliki sifat-sifat yang lebih unggul dibandingkan dengan kedua induknya.

II. Materi

Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi di lapangan dan faktor penentu proses selanjutnya. Pemanenan dan penanganan pasca panen perlu dicermati untuk dapat mempertahankan mutu sehingga dapat memenuhi spesifikasi yang diminta konsumen. Penanganan yang kurang hati-hati akan berpengaruh terhadap mutu dan penampilan produk yang berdampak kepada pemasaran.

Pemanenan buah cabe di Indonesia umumnya dilakukan dengan tangan. Panen awal dan lamanya waktu panen tanaman cabe tergantung kepada jenis dan varietasnya, varietas berumur genjah, sedang atau dalam. Umumnya, varietas yang sama yang ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi menunjukkan panen awal yang berbeda. Tanaman cabe yang ditanam di dataran rendah lebih cepat dipanen dibandingkan dengan tanaman cabe yang ditanam di dataran tinggi.

Frekuensi panen sangat tergantung kepada situasi lapangan. Namun secara umum pemanenan dilakukan 3 – 4 hari sekiali atau paling lambat seminggu sekali. Masa panen tergantung pada varietas cabe yang ditanam. Secara normal, frekuensi panen dapat dilakukan 12 – 20 kali sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan. Selain varietas, masa panen cabe juga sangat tergantung kepada keadaan pertanaman dan perlakuan yang diberikan terhadap tanaman. Masa panen cabe rawit lebih lama dibandingkan dengan varietas cabe lainnya, tetapi tidak lebih dari 7 bulan.

Dalam praktek keseharian, para petani cabe tidak pernah melakukan penanganan pasca panen yang benar seperti sortasi dan grading. Kegiatan ini biasanya lebih banyak dilakukan oleh para pedagang di tingkat pengumpul.

Dalam pelaksanaan panen cabe hibrida, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

1. Panen dilakukan pagi hari setelah ada sinar matahari.

2. Cara pemanenan buah cabe dilakukan dengan mengikutsertakan batang buahnya dan dijaga supaya tidak merusak ranting dan percabangan tanaman cabe.

3. Buah yang dipanen adalah yang benar-benar tua, tandanya buah berwarna merah, hijau kemerahan atau hitam kemerahan.

4. Saat panen langsung dilakukan sortasi, buah yang rusak atau kena hama langsung dipisahkan.

5. Kematangan cabe disesuaikan dengan permintaan, lama penyimpanan dan lamanya transportasi ke pasar.

6. Setelah dipanen, lakukan sortir awal. Buah cabe yang terkena penyakit, terutama cendawan dikubur dalam lubang atau dibakar supaya tidak menular ke buah dan tanaman lainnya.

Penanganan pasca panen cabe dikatakan hampir belum sepenuhnya dilaksanakan para petani karena terbatasnya pengetahuan dan fasilitas. Selain itu, kejelasan spesifikasi produk yang diinginkan konsumen tidak diketahui secara jelas oleh petani. Spesifikasi produk hanya diketahui oleh pedagang pengumpul. Keadaan ini menyebabkan daya tawar petani lebih rendah daripada daya tawar pedagang pengumpul.

Tidak semua buah cabe yang dipanen bisa dijual karena rusak. Kerusakan atau kehilangan hasil pasca panen tanaman cabe bisa disebabkan hama penyakit, kerusakan seara mekanis dan kerusakan fisik.

Kerusakan yang disebabkan hama penyakit merupakan bawaan dari lapangan. Hama penting yang sering merusak buah cabe di Indonesia di antaranya lalat buah (Bactrocera dorsalis Hend) dan ulat buah prodenia (Spodoptera Litura F). Sementara itu, penyakit yang sering menyerang buah cabe adalah antraknosa, Collectrchum nigrum, dan Phythopthora capsici.

Kerusakan secara mekanis, fisiologis dan fisik lebih sering disebabkan oleh pengelola yang kurang cermat dan hati-hati dalam penanganan pasca panen. Kerusakan mekanis paling dominan terjadi pada saat pemetikan, pengangkutan dari lapangan dan pengangkutan ke pasar, penanganan saat bongkar muat, serta tidak ada packaging atau wadah yang baik dalam pengangkutan dan cenderung menggunakan karung untuk mengangkutnya.

Keruskaan fisiologis terutama terjadi dalam cabe itu sendiri. Setelah pemetikan buah cabe akan cepat layu menuju ke arah senesence yaitu meningkatnya temperatur lingkungan akan memicu laju respirasi sebesar 2 – 3 kali, sehingga proses pembusukan terjadi lebih cepat.

Kerusakan fisik disebabkan adanya tekanan lingkungan, sengatan matahari, kelembaban tinggi dan temperatur tinggi. Keadaan seperti ini menyebabkan buah cabe akan lebih cepat membusuk.

Dalam penanganan pasca panen, ada beberapa hal yang harus dilakukan :

a. Sortasi dan Grading

Konsumen terutama pasar swalayan, restoran dan hotel lebih mengutamakan spesifikasi produk yang mereka inginkan dan untuk ini mereka berani membayar lebih besar jika dibandingkan dengan pasar tradisional (wet market). Penampilan produk yang seragam, baik ukuran panjang, diameter, bentuk, permukaan, warna, maupun kekerasan buah, akan memberikan penilaian yang lebih baik. Untuk itu diperlukan sortasi dan grading terhadap buah cabe yang diinginkan konsumen, baik rumah tangga, kelompok konsumen swalayan, restoran, hotel, industri pangan olahan tradisional maupun skala industri. Umumnya, sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang pengumpul.

Sortasi terhadap warna menjadi hal yang sangat penting bagi konsumen. Karenanya harus ada upaya untuk menstabilkan warna cabe sebelum dikeringkan. Petani di Indonesia akan menghamparkan buah cabe yang sudah dipetik di tempat teduh, dengan tujuan untuk mencegah pembusukan sebelum dijual ke pasar. Tindakan seperti ini disebut curing yaitu mengondisikan buah cabe untuk dapat menyesuaikan dengan keinginan dari pasar.

b. Penyimpanan

Di Indonesia, cabe umumnya lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk segar. Karena itu, para produsen dan pengelola komoditas cabe berupaya supaya cabe tetap kelihatan segar. Untuk itu diperlukan tindakan yang benar pada saat handling, pengemasan dan penyimpanan agar mutu tetap stabil dan bisa diterima konsumen dengan harga yang tinggi.

Setelah pemetikan, proses fisiologi tetap berjalan, tergantung pada situasi luar, seperti temperatur dan kelembaban. Proses fisiologi tetap dipertahankan tetapi lajunya harus dikurangi. Caranya dengan menekan tingkat respirasi, yaitu mengatur temperatur dan kelembaban udara di sekelilingnya dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sistem udaranya terkendali. Selain laju respirasi, harus juga ditekan laju transpirasi yaitu proses penguapan dari buah cabe dengan cara meningkatkan kelembaban udara dan menurunkan temperatur, atau dengan menempatkan buah cabe dalam kemasan tertentu untuk mengurangi gerakan udara di sekeliling cabe.

c. Pengemasan

Pengemasan bertujuan untuk melindungi mutu produk cabe dari kerusakan mekanis, fisik dan fisiologi pada saat handling, pengangkutan dan bongkar muat. Kemasan yang ideal harus kuat, memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah di-handle, aman dan ekonomis. Wadah kemasan dapat dibuat secara tradisional berupa keranjang bambu atau rotan, karung plastik polietilen dan kardus berventilasi. Para petani dan pedagang cabe untuk pasar tradisional biasanya mengemas cabe dengan karung plastik berlubang-lubang. Sementara itu, pasar swalayan menghendaki kemasan dalam kardus.

d. Pengangkutan

Transportasi memiliki peranan penting untuk memindahkan cabe dari lapangan ke tempat pengolahan (sertasi dan grading), kemudian ke pasar dan gudang. Selama proses pengangkutan perlu dicermati penanganannya.

Pengangkutan dengan truk konvensional seperti kendaraan bak terbuka berbeda dengan sistem non konvensional seperti kontainer dengan sistem udara terkendali. Pengangkutan dengan sistem non konvensional cabe relatif lebih aman dari kerusakan fisik, fisiologis maupun mekanis. Namun, pengangkutan dengan kontainer baru digunakan oleh perusahaan besar yang mendapat kontrak dengan pasar swalayan. Sementara itu, untuk pasar tradisional, buah cabe lebih sering diangkut dengan mobil bak terbuka.

e. Pemasaran

Pemasaran produk pertanian khususnya cabe masih belum memiliki kepastian, terutama harga. Saat ini, harga produk pertanian masih dipengaruhi oleh banyaknya suplai di pasar, musim dan event-event tertentu seperti hari raya keagamaan.

Jika suplai cabe di pasar terlalu banyak, harganya akan turun. Jika suplai sedikit harganya akan meningkat dari harga rata-rata. Faktor yang paling mempengaruhi harga cabe di pasaran adalah pengaruh musim.

III. Penutup

Demikian makalah ini penulis susun. Semoga bermanfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi para petani atau siapapun yang membutuhkan referensi tentang pengolahan pasca panen cabe. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan pada masa yang akan datang.


Sumber : Bertanam Cabe Hibrida Secara Insentif, Agromedia Pustaka, 2003.

Sunday, December 27, 2009

Inilah aku..

Entah apa yang ingin aku tulis hari ini, tak ada ide apapun selain Cuma ingin mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Aku memulai menulis ini dengan harapan ada ide yang muncul saat aku sudah mulai menulis. Tapi sampai ini udah tiga baris belum satu idepun muncul dan membutku bisa memperpanjang tulisan ini..

Hemmm..

Sebuah kata yang selalu aku ungkapkan di setiap komunikasi tulis ma teman-teman di saat aku gak tahu berkata apa atau saat aku ingin mengatakan ’no comment.’

ORANG BIJAK BERBICARA

- Membuat manusia hidup sehari berilah ia nasi

- Membuat manusia hidup sebulan berilah ia gandum dan ajari membuat roti

- Membuat manusia hidup sepuluh tahun ajarilah bercocok tanam gandum

- Membuat manusia hidup bergenerasi ajarilah mengembangkan manusia

Berbicara soal pengembangan manusia, tak bisa lepas dari yang namanya pendidikan. Aku sedikit tersentuh membicarakan ini, aku yang selama ini selalu mengimpikan agar bisa sekolah dan sampai saat ini belum bisa aku capai, meski udah dapat gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Abulyatama Aceh.

Mungkin seperti yang selalu di dengung-dengungkan oleh KH. Zainuddin. MZ dalam setiap kesempatan ceramahnya, bahwa sifat manusia selalu gak pernah merasa puas. Andai diberi uang seribu pengen lima ribu, andai diberi lima ribu pengen sepuluh ribu dan seterusnya. Mungkin seperti itu yang aku maksud dalam ”mimpi ingin sekolah” selama ini. Tapi, apa mungkin seperti itu..?

Tidak kawan, (mengutip gaya bahasa bang Andrea Hirata)..

Bukan sifat tamak yang seperti itu yang aku maksud selama ini. Sama sekali bukan. Aku mengimpikan sekolah yang benar-benar sekolah, sekolah yang benar-benar menuntut ilmu dalam arti yang sebenarnya. Aku selama ini tidak pernah bercerita tentang urutan pendidikanku, baiklah aku ceritakan sedikit disini.

Aku menamatkan sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Alue Sungai Pinang, kira-kira tahun 1992. Di tahun yang sama aku melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) I Blangpidie dan selesai tahun 1995. Pada saat di kelas III SMP ini aku selalu meminta pada orang tuaku agar aku di sekalahkan di STM (Sekolah Teknik Mesin) yang saat itu cuma ada di Meulaboh (Aceh Barat) atau di Banda Aceh. Tapi nak, orang tuamu tidak punya uang...

Meski harus menggelapkan mimpi sekolah di STM, keluarga besarku tetap menginginkan aku melanjutkan sekolah, karena (Insya Allah) aku dibanding dua orang kakakku lebih berpotensi untuk sekolah. Wawak Hasan di Ie Mirah menginginkan aku untuk melanjutkan ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang saat itu ada di Tapaktuan (Aceh Selatan), sama seperti saran Cek (Paman) Kasmadi. Cek Muchtaruddin menyarankan aku agar sekolah di Politeknik - sebenarnya Sekolah Menengah Teknik Pertanian (SMT-P) - Kluet Utara (Aceh Selatan), sama seperti permintaan abang ipar dan kak Kamaliah.

Alasan dari masing-masing mereka, Cek Kasmadi menginginkan aku jadi perawat karena beliau adalah seorang mantri kesehatan, tapi aku merasa kalau orang tuaku tak akan sanggup membiayai sekolahku di SPK. Cek Muchtaruddin dan bang Zainuddin memintaku sekolah di SMT Pertanian karena lokasi sekolah tak jauh dari rumah mereka, jadi soal biaya sekolah dan biaya sehari-hari bisa dibantu ala kadarnya.

Aku bingung memilih antara pilihan keluarga yang bermacam-macam atau pilihanku sendiri yang tak diizinkan. Cek Kasmadi dan Wak Hasan memaparkan prospek setelah tamat SPK dengan berapi-api, bagaimana nanti aku akan jadi dokter dan bisa mengobati keluarga, bagaimana nanti aku akan dibutuhkan oleh semua orang dan rezeki melimpah. Aku sempat bimbang mempertimbangkan ini.

Bang Zainuddin dan Cek Muchtaruddin menyemangati aku agar sekolah di Pertanian, kata mereka disitu tinggal di asrama dan ada kegiatan ekstra kurikuler berupa kegiatan pramuka. Aneh, justru dua alasan terakhir yang menyebabkan aku akhirnya memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMT Pertanian. Alasan karena tinggal di asrama dan kegiatan pramuka.

-- Sedikit balik ke belakang, saat aku masih sekolah di Madrasah, aku bercita-cita ingin jadi ABRI. Saat itu aku sangat senang melihat orang-orang yang berpakaian militer, berbaris memegang senjata, mendaki gunung, memanjat tebing, terjun payung, bergelantungan di tali temali, berperang di medan laga dan lain-lain. Aku sangat ingin jadi tentara. Gagah, begitulah pikirku. Setiap ada yang bertanya tentang cita-cita, aku selalu dengan bangga mengatakan bahwa cita-citaku jadi ABRI. Tapi, cita-cita ini dibantah keras oleh Wak Hasan di Ie Mirah, beliau selalu menakut-nakuti aku. Beliau menceritakan bagaimana beratnya latihan tentara, bagaimana beliau melihat sendiri tentara disuruh meloncat oleh komandan dari mobil yang lari dengan kecepatan tinggi, bagaimana ngeri-nya tentara yang dipaksa melompat dari ketinggian tertentu saat terjun payung, dan sebagainya.

Inti dari semua itu, beliau tidak menginginkan aku jadi tentara, - setelah dewasa aku mensyukuri larangan ini – walau aku juga tidak mau jadi perawat seperti yang beliau inginkan. Cita-cita kecil inilah yang membuatku sampai sekarang (tamat SMP) masih terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau tentara, salah satunya pramuka --

Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMT Pertanian, yang biaya masuk dibantu oleh paman Muchtar. Setelah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun disana, aku diundang untuk ikut Pelatihan Manajemen yang diadakan oleh Lembaga Pelatihan Manajemen (LPM) Ipwikon Jasindo, Yogyakarta.


nanti aku lanjutkan..

Putriku..

Putriku..
Saat pengambilan foto untuk Visa..

Putriku tercinta..

Putriku tercinta..

ponakan

ponakan
Keren..

Followers